Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 10 September 2017

Tafakur Menghitung Dosa

Umat Islam saat ini sangat mahir dan pandai dalam hal menghitung-hitung pahala, misalnya saja pahala sholat berjamaah dibandingkan dengan sholat sendirian maka pahalanya adalah 27 kali lipat. Contoh lainnya adalah ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan pahalanya adalah 1000 kali lipat dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan pada bulan-bulan lainnya. Oleh sebab itu maka jangan heran apabila kita melihat banyak sekali orang yang tiba-tiba menjadi gemar beribadah di bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, hal ini dikarenakan mereka mengejar pahala yang berlipat ganda tersebut.

Nah, dalam hal menghitung-hitung amal perbuatan seperti ini, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya untuk bertafakur setiap malam. Namun dalam bertafakur tersebut yang harus dihitung adalah bukannya seberapa banyak pahala yang dapat dikumpulkan hari itu, akan tetapi adalah seberapa banyak dosa dan kesalahan yang kita perbuat di hari itu. Ya, menghitung kesalahan dan dosa, bukan menghitung pahala. Begitulah yang diajarkan oleh guru kita.

Dengan bertafakur memperhatikan setiap kesalahan dan dosa yang kita perbuat, maka kita akan menyadari kekurangan diri kita sehingga kita akan segera bertobat memohon ampun kepada Allah swt. Selain bertobat, kita juga harus dapat memperbaiki kesalahan tersebut pada keesokan harinya. Jadi hasil dari tafakur adalah bertobat dan kemudian memperbaikinya pada keesokan harinya (bertobat dan kemudian beramal sholeh).

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS 25:71)

Maka inilah faedah dan manfaat dari bertafakur, yaitu menemukan kesalahan diri, sehingga kita cepat menyadarinya dan kemudian bertobat lalu memperbaiki kesalahan tersebut.

Ternyata ada banyak sekali tindakan manusia yang sering kali luput dari perhatian dan yang bersangkutan tidak menyadari bahwa apa yang telah diperbuatnya sebenarnya adalah suatu kesalahan dan merupakan dosa. Misalnya saja membangunkan orang pada dini hari dengan suara azan yang sangat keras demi untuk membangunkan orang-orang untuk sholat malam. Hal ini adalah perbuatan dosa, karena ternyata ada juga orang-orang non-muslim yang terganggu tidurnya karena volume pengeras suara yang terlampau besar. Contoh lainnya adalah membangun penghalang polisi tidur di jalan, maka ternyata ada berapa banyak pengendara yang sebenarnya tidak ngebut akan tetapi tetap merasakan halangan dan ketidaknyamanan tersebut. Ini juga merupakan dosa yang biasanya tidak disadari oleh orang yang membuatnya.

Selain tidak menyadari akan kesalahannya, ternyata banyak juga orang yang merasa dirinya sudah mendapatkan banyak sekali pahala. Sehingga kemudian orang tersebut lupa dan tidak menyadari kesahalan yang telah diperbuatnya. Pahala yang dihitung-hitung telah menutupi kesalahan dirinya.

Akibatnya adalah orang tersebut akan lalai dan dia tidak pernah merasa perlu untuk bertobat. Barulah di akhir hayatnya, ketika Allah swt memperlihatkan segala perbuatan yang pernah dilakukan sebelumnya semasa hidupnya, dia baru menyadari bahwa dia telah menyakiti hati orang lain dan berbuat dosa. Akan tetapi di akhir hayatnya itu apabila ajal telah tiba, maka sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk bertobat. Sudah terlambat.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي
تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS 4:18)

Kasus seperti ini tidak sedikit. Jumlahnya banyak sekali, sehingga dengan demikian maka bertafakur untuk menghisab diri sendiri, mencari dan menemukan kesalahan diri pribadi amatlah penting. Jadilah orang yang pandai menghitung dosa dan kesalahan diri sendiri. Jangan Cuma pandai menghitung pahala saja. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.04