Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 18 September 2017

Ujian Kenaikan Tingkat

Iman adalah sesuatu yang esensi dan penting bagi hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya, yang menentukan apakah seseorang itu memiliki hubungan yang jauh atau dekat dengan Tuhannya. Dan kalau hubungannya dekat, maka seberapa dekatkah atau seberapa spesialkah hubungannya itu.

Selama ini, kebanyakan orang memahami bahwa iman atau keimanan seseorang ditentukan oleh pernyataan atau kesungguh-sungguhan dari orang tersebut. Orang yang berpenampilan alim, mengenakan baju gamis, bersorban dan memelihara jenggot yang lebat, lalu ia berkoar-koar di atas mimbar meneriakan ajakan untuk berjihad, maka kebanyakan dari kita akan mengkategorikan orang tersebut sudah beriman. Orang yang sudah mengucapkan pernyataan kalimat Syahadat dengan bersungguh-sungguh kita katakan bahwa orang tersebut sudah beriman. Dan kemudian kita menyatakan diri kita sendiri sudah beriman, karena kita sudah merasa benar-benar meyakini keberadaan Allah swt, malaikat-malaikatNya, Rasul-rasulNya, Kitab-kitabNya, hari akhir dan takdir.

Saudaraku, ternyata pemahaman seperti tersebut tadi adalah keliru. Iman bukanlah merupakan sebuah pernyataan subyektif, bukan pula merupakan perasaan yakin semata dan juga bukan merupakan penampilan. Menurut guru kita, seseorang baru bisa dikatakan beriman adalah apabila orang tersebut telah lulus terhadap Ujian Allah swt.

Meskipun Allah swt Maha Tahu ketika seseorang mengucapkan dua kalimat Syahadat apakah dia benar-benar mengimani apa yang dinyatakannya atau kah tidak, akan tetapi cara Allah swt untuk menentukan apakah seseorang itu beriman atau tidak ialah dengan cara mengujinya. Dengan cara yang obyektif, bukan subyektif.

Jadi Ujian Allah swt adalah proses obyektif, yang dapat dijadikan bukti dan dasar apakah seseorang itu beriman atau tidak. Sehingga kelak di hari penghisaban tidak akan ada lagi adu argumentasi, karena seluruh proses penentuan seseorang beriman atau tidak adalah dengan cara-cara yang obyektif dan dapat dibuktikan.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS 29:2)

Kemudian, Ujian Allah tersebut, bukan saja sebagai proses untuk menentukan apakah seseorang sudah beriman atau belum, akan tetapi Ujian Allah juga merupakan cara untuk menentukan seberapa tinggi tingkatan iman seseorang. Jadi, ternyata setiap manusia di hadapan Allah swt itu tidak sama rata, akan tetapi pada kenyataannya di hadapan Allah swt manusia itu memiliki tingkatan-tingkatan dan maqamnya masing-masing.

Seseorang yang tingkatan imannya masih rendah tentu saja suatu saat nanti akan diuji oleh Allah swt dengan ujian yang rendah, dan seseorang yang tingkatannya sudah tinggi juga akan menghadapi Ujian Allah swt yang tingkatannya lebih tinggi lagi.

“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya.” HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143)

Ternyata Ujian Allah swt itu tidak melulu berupa keburukan, akan tetapi juga ada yang berupa kebaikan, seperti misalnya mendapat rezeki yang melimpah atau mendapat jabatan yang tinggi.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS 21:35)

Contoh dari Ujian Allah swt dalam bentuk keburukan adalah misalnya dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta atau kekurangan makanan. Terhadap ujian semacam ini kita diperintahkan untuk bersikap sabar.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2:155)

Sedangkan contoh dari Ujian Allah swt dalam bentuk kebaikan adalah sebagimana yang dialami oleh Nabi Sulaiman as ketika beliau mendapati seseorang yang memiliki Kitab mampu memindahkan istana ratu Balqis hanya dalam waktu sekejap mata saja. Terhadap ujian semacam ini Allah memerintahkan kita untuk bersyukur.

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ
قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ
وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS 27:40)

Demikianlah yang dinamakan dengan Ujian Allah tersebut, yaitu proses yang bermula dari sifat Rahman dan Rahim Allah swt kepada manusia, agar supaya manusia beriman kepada Allah dan agar keimanannya tersebut semakin tinggi. Tidak ada sedikit pun maksud dari Allah swt untuk mendatangkan kemudharatan kepada manusia dalam hal memberikan Ujian ini.

Adapun godaan syaithan yang terkutuk, seperti misalnya menggoda siti Hawa untuk memakan buah yang dilarang Allah, menggoda Nabi Ibrahim as tatkala hendak menyembelih anaknya, atau godaan syaithan dalam bentuk musibah kena santet, semua itu bukanlah merupakan Ujian Allah swt. Oleh sebab itu maka sikap kita terhadap seluruh godaan syaithan tersebut bukanlah bersabar melainkan harus melawan. Sebagaimana Nabi Ibrahim as juga melawan godaan syaithan tersebut dengan melempari batu.

Demikian juga Azab Allah swt dalam bentuk bencana alam, itu juga bukan merupakan Ujian Allah swt. Karena azab Allah swt ditimpakan kepada suatu kaum atau bangsa karena kedurhakaan mereka terhadap Rasul-rasul Allah dan ketidakacuhan mereka terhadap seruan Allah swt.

Banyak sekali orang yang tidak memahami hal ini, disangkanya setiap godaan syaithan atau pun azab Allah adalah Ujian. Bukan, bukan demikian adanya.

Hidup adalah proses belajar dalam kampus besar kehidupan milik Allah swt, dan kita semua yang ada di dalamnya senantiasa dituntut untuk siap menyongsong Ujian dalam rangka untuk menaikan tingkatan kita. Tidak ada yang tinggal diam atau statis di dalam kehidupan ini. Semua orang harus senantiasa meningkat.

Di dalam kampus kehidupan ini, Allah swt juga menimpakan azab kepada kaum yang tidak mau beriman dan juga Allah swt telah mengizinkan syaithan untuk menggoda manusia. Terhadap Ujian Allah swt, kita dituntut harus bersikap sabar atau pun bersyukur. Sedangkan terhadap godaan syaithan, maka kita harus melawan. Mudah-mudahan menjadi jelas adanya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 11.15