Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 21 September 2017

Mengekalkan Sholat

Pada hakikatnya sholat itu adalah dimaksudkan sebagai sarana seorang hamba untuk mengingat Allah swt, sebagaimana ayat dalam al-Quran berikut ini.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14)

Bagi kebanyakan orang, sholat hanyalah seperti yang banyak dipahami yaitu terdiri dari sholat fardhu yang dilaksanakan 5 kali dalam sehari ditambah dengan sholat-sholat sunnah. Bahkan sholat fardhu sekalipun sebenarnya hanya bisa dilaksanakan bagi orang-orang yang mampu untuk melaksanakannya saja. Beberapa orang yang tengah dalam perjalanan, atau yang sedang menderita sakit keras, maka bagi mereka yang tidak mampu untuk melaksanakannya maka diperbolehkan untuk meninggalkan kewajiban sholat tersebut.

Akan tetapi, apabila kita hanya mengingat Allah swt pada saat sholat yang seperti itu saja, maka dibandingkan dengan waktu di luar sholat akan lebih banyak waktu lalainya. Yaitu lalai dari mengingat Allah swt.

Padahal di salah satu ayat al-Quran Allah swt juga menyatakan tentang sholat Dhaim (Sholat Abadi), yaitu sholat yang senantiasa dikerjakan oleh manusia di setiap waktu. Baik pada saat dalam perjalanan maupun tidak, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Itulah yang disebut dengan sholat Dhaim, sholat abadi.

إِلَّا الْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

“kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu kekal mengerjakan shalatnya.” (QS 70:22-23)

Seorang manusia tidak akan mampu mengerjakan sholat fardhu selamanya secara kekal, bahkan untuk melaksanakan sholat fardhu sebanyak 50 kali dalam satu hari pun banyak yang tidak akan mampu melaksanakannya. Lalu, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat al-Quran tersebut di atas tadi, bagaimana caranya seseorang bisa kekal dalam mengerjakan sholatnya?

Saudara-saudaraku, tidak ada manusia yang bisa mengerjakan sholat secara kekal, kecuali hatinya senantiasa berzikir mengingat Allah swt. Dan hati manusia tidak akan mampu senantiasa berzikir mengingat Allah swt kecuali apabila hatinya hidup.

Hati yang hidup adalah hati yang telah bertemu dengan Yang Menghidupkan, dan apabila hati manusia dekat dengan Yang Menghidupkan maka hatinya akan hidup, yaitu akan berdetak dengan sendirinya untuk senantiasa berzikir mengingat Allah swt.

Apabila hati atau qalbu seorang manusia senantiasa berdetak secara otomatis berzikir mengingat Allah swt, maka detak jantung, helaan nafas, getaran lambung dan gerakan seluruh organ tubuhnya akan mengikuti qalbunya, yaitu berzikir mengingat Allah swt. Oleh sebab itu maka apabila qalbu seorang manusia baik keadaannya, maka akan baik pula lah seluruh organ dan anggota tubuhnya.

Hakikat dari sholat Dhaim yaitu hati yang senantiasa berdetak, berzikir mengingat Allah swt secara otomatis sepanjang waktu. Bahkan ketika orang yang bersangkutan tadi dalam keadaan berada di penghujung akhir hidupnya, di saat-saat sakaratul maut menjelang, hatinya akan tetap senantiasa berzikir mengingat Allah swt.

Setelah arwah terlepas dari badan jasmani, qalbu seorang manusia tidak mati karena qalbu bukanlah bagian dari tubuh jasmani. Qalbu manusia akan mengikuti kemana arwah pergi, dan senantiasa selalu berdetak berzikir mengingat Allah swt. Itulah zikir yang abadi, hakikat dari sholat Dhaim yang abadi. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 18.48