Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 22 September 2017

Antara Akhlak Mulia dan Zikir

Hubungan manusia vertikal kepada Allah swt adalah satu hal, namun kemudian hubungan horisontal antar sesama manusia adalah hal lainnya yang juga harus diperhatikan. Seorang manusia yang memiliki hubungan vertikal yang baik dengan Allah swt, hendaknya juga memiliki hubungan horisontal yang baik juga. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Hubungan horisontal sebenarnya bukan saja terhadap sesama manusia, akan tetapi juga hubungan manusia dengan kehidupan dunia dengan segala isinya. Hubungan dengan lingkungan, hubungan dengan hewan, hubungan dengan mahluk-mahluk Allah swt, baik yang terlihat mata maupun yang tidak. Dan yang paling terpenting lagi dari hubungan manusia secara horisontal adalah hubungannya terhadap diri sendiri.

Tidak ada manfaatnya sama sekali hubungan yang baik dengan mahluk-mahluk Allah swt apabila seorang manusia tidak mampu menjaga dan menaklukan dirinya sendiri. Seseorang yang mampu menaklukan dirinya sendiri maka dia akan mampu menguasai hawa nafsu dan emosi diri pribadinya sendiri.

Di dalam diri seorang manusia, Allah swt mengilhami 2 jalan: yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan. Apabila seorang manusia mampu menaklukan dan menguasai dirinya sendiri, maka dia akan mudah untuk mengikuti jalan kebaikan yang ternyata sudah diilhami Allah swt di dalam dirinya.

Pada suatu malam pengajian, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya akan hal ini. Bahwa segala macam ibadah yang dilakukan oleh seorang manusia tidak akan ada gunanya sama sekali apabila dalam hubungan horisontal manusia tersebut tidak mampu menaklukan dirinya untuk memiliki akhlak Sabar, Jujur dan Ikhlas. Ibadah sholat dan zikir yang dilakukan orang tersebut tidak akan ada artinya dan manfaatnya sama sekali tanpa adanya akhlak Sabat, Jujur dan Ikhlas tersebut.

Allah swt Maha Mengetahui segalanya, sehingga kemudian Dia memperingatkan hal ini kepada manusia sekalian. Bahwasanya ternyata banyak sekali terjadi, di dalam kehidupan beragama seseorang melaksanakan ibadah kepada Allah tidak dengan hati yang ikhlas. Ibadahnya adalah lantaran pahala atau mengharapkan kebaikan sebagai imbalannya.

Pada zaman dahulu, Nabi Ibrahim as telah mencontohkan suatu kehidupan beragama yang benar, yaitu tujuan dari kehidupan beragama adalah demi untuk menghadapkan hati dan harapan manusia dengan lurus hanya kepada Allah swt, dan setiap tindakan dan ibadah yang dilakukannya adalah dengan hati yang ikhlas demi untuk Allah swt, bukan demi kebaikan dirinya sendiri.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS 4:125)

Dengan sikap ikhlas di dalam hatinya itulah, maka istri beliau, siti Hajar, rela ditinggalkan sendirian di tempat yang kering dan gersang di tanah yang saat ini bernama Mekkah. Dengan hati yang ikhlas tersebut itu juga, Nabi Ibrahim as bersedia untuk menyembelih anak kesayangannya atas perintah Allah swt. Tanpa sikap ikhlas, mustahil semua hal tersebut dapat terlaksana. Sikap ikhlas itulah yang akhirnya membawa Nabi Ibrahim as menjadi salah seorang yang merupakan Kesayangan Allah swt, Kholilullah.

Allah swt, apabila Dia memberikan anugerah kepada seorang hamba, maka itu tidak dimaksudkan agar seseorang menjadi sakti, kaya raya atau berkedudukan tinggi, sehingga kemudian dia menjadi sombong dan lupa diri. Allah swt, apabila Dia memberikan anugerah kepada seorang hamba, maka itu dimaksudkan agar seseorang menjadi Sabar, Jujur dan Ikhlas.

Demikianlah misi dan visi dari yayasan yang digagas dan diperjuangkan oleh guru kita. Bahwa diri manusia itu bukan saja harus dijadikan sebagai rumah untuk beriman kepada Allah swt (Darul Iman), akan tetapi juga dimaksudkan agar diri manusia juga memanifestasikan sifat-sifat luhur akhlak yang mulia (Akhlaqul Karimah).

Begitulah kiranya maksud dan makna terpendam dari Akhlak yang mulia serta Rumah Iman (Akhlaqul Karimah Darul Iman), bahwa ternyata antara berzikir mengingat Allah swt tidak bisa dipisahkan dengan akhlak yang Sabar, Jujur dan Ikhlas. Keduanya tidak bisa dipisahkan, gulung menjadi satu laksana dua kalimat Syahadat, keduanya tidak dapat dipisahkan. Antara Akhlaqul Karimah dan Darul Iman, keduanya tidak dapat dipisahkan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 02.40