Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 26 September 2017

Perkataan Yang Berat

Di dalam kehidupan dunia ini, ada beberapa orang yang apabila dia berbicara maka tidak ada bobot dan isinya. Orang-orang yang mendengarkannya cenderung untuk mengacuhkannya atau tidak memperdulikannya sama sekali. Meskipun yang bersangkutan mempergunakan suara yang keras, atau nada bicara yang meninggi, akan tetapi karena isi dari pembicaraannya yang tidak berbobot, maka orang-orang yang mendengarkannya tidak terlalu menghiraukannya. Suara dan isi pembicaraannya seperti dianggap angin lalu saja.

Namun sebaliknya, ada orang-orang tertentu yang apabila dia berbicara maka orang-orang yang berada di sekitarnya akan diam dan memperhatikan apa yang diutarakan orang tadi. Meskipun nada bicara dan suaranya rendah, telinga orang-orang yang ada di sekitarnya akan berusaha untuk menangkap isi pembicaraannya. Perhatian dan perasaan orang-orang yang mendengarkannya akan mudah tersentuh dan hanyut oleh isi pembicaraan orang tadi.

Mengapa bisa terjadi dua tipe pembicara seperti itu? Kemudian apabila kita menilai diri kita sendiri, kira-kira termasuk kedalam tipe manakah diri kita? Berikut ini adalah tulisan yang berupaya untuk membuka rahasia dan hikmah dari pembicara yang dapat mengeluarkan perkataan yang berat sehingga orang-orang yang mendengarkannya akan mudah untuk tersentuh dan hanyut. Tulisan ini hanyalah sekedar wacana untuk ‘sharing’ dan berbagi pengalaman semata. Mudah-mudahan bermanfaat.

Saudara-saudaraku, pada bulan Rabiul Awal tahun 7H Rasulullah saw pergi menuju suku Ghathafan dengan membawa sejumlah pasukan. Nah, ketika Rasulullah saw tengah beristirahat di bawah pohon sendirian, seorang musyrikin bernama Ghaurats bin Harits berhasil menyelinap dan kemudian berhadapan dengan Rasulullah saw yang tengah beristirahat sendirian.

Dia lalu menghunus pedangnya hendak melukai Rasulullah saw, seraya berteriak,” Wahai Muhammad, tidakkah engkau takut kepadaku? Siapakah yang akan menghalangiku untuk membunuhmu?”

Kemudian Rasulullah saw dengan mantap menjawab,” Allah !”

Mendengar kata ‘Allah’ yang terlontar dari bibir Rasulullah saw itu, tiba-tiba tubuh Ghaurats serasa lumpuh dan pedang itu terlepas dari tangannya, dan ia pun jatuh terduduk. Saudara-saudaraku, itulah yang disebut sebagai perkataan yang berat, suatu perkataan yang bisa membuat hati dan jiwa Ghaurats tiba-tiba terhenyak dan berguncang hebat.

Pada kisah yang lain pernah juga diceritakan tentang Sayidina Ali bin Abi Thalib yang menjawab perkataan orang-orang yang mendebat beliau dengan suatu perkataan yang berat. Maka kemudian dengan seketika orang tadi terhenyak dan tubuhnya menggigil kemudian pingsan. Itulah efek dari suatu perkataan yang berat.

Bagaimana seseorang bisa memiliki perkataan yang berat seperti itu? Berikut ini adalah rahasia dan hikmahnya.

Perkataan yang berat adalah sesuatu yang berasal dari Allah swt, bukan berasal dari manusianya itu sendiri, atau berasal dari mahluk Allah lainnya. Perkataan yang berat tersebut diturunkan oleh Allah swt langsung kepada orang-orang tertentu yang dikehendakiNya, sehingga apabila orang tadi berbicara dan mengeluarkan perkataan yang berat maka hati dan jiwa orang-orang yang mendengarkannya akan berguncang hebat.

Allah swt menurunkan perkataan yang berat tersebut sebagai buah atau hadiah dariNya kepada orang-orang yang gemar untuk membaca al-Quran di malam hari, dengan tartiil, yaitu dengan perlahan-lahan dan meresapi bacaan al-Quran di dalam hatinya. Berikut ini adalah penjelasan hal tersebut di dalam al-Quran.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS 73:1-6)

Apabila anda melakukan hal tersebut secara rutin dan menjadi kebiasaan, maka anda akan merasakan sendiri bahwa bobot dari perkataan anda akan menjadi lebih berat. Orang-orang yang mendengarkannya akan mudah tersentuh hatinya. Beberapa orang bahkan bisa menangis atau bahkan pingsan karenanya.

Hal ini bukanlah sesuatu cerita atau kisah belaka, akan tetapi merupakan sesuatu fakta dan kenyataan yang sebenarnya masih dapat kita temukan di hari ini. Beberapa tahun sebelumnya ada seorang penceramah yang apabila dia berceramah, maka seisi masjid semuanya bisa menangis karenanya.

Namun sayang, pada hari ini kebanyakan dari orang-orang yang membaca al-Quran adalah justru dalam rangka ingin mengkhatamkannya, atau ingin sekedar untuk mengharapkan mendapat pahala darinya. Jarang sekali yang mengerjakannya di malam hari dengan membacanya secara perlahan-lahan dan suara yang rendah, hati yang khusyu serta meresapi bacaan tersebut. Jarang sekali yang berbuat demikian.

Akibatnya adalah kita menyaksikan pada hari ini, banyak orang-orang yang suaranya lantang dan keras, volume suaranya menggelegar, akan tetapi perkataannya sebenarnya tidak mempunyai bobot. Isi pembicaraannya jauh dari menyentuh hati pendengarnya. Malahan justru ada yang membuat panas hati pendengarnya dan menyulut emosi. Membakar kemarahan dan melahirkan rasa kebencian.

Sungguh teramat jauh bedanya dengan perkataan yang keluar dari mulut Rasulullah saw dahulu. Bagaikan langit dan bumi perbedaannya. Sangat jauh beda hasil akhirnya. Begitulah perbedaan hasilnya, antara membaca al-Quran di siang hari dengan membaca al-Quran di malam hari yang senyap. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.57