Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 02 Oktober 2017

Samakah Membaca al-Quran dengan Berzikir?

Pada suatu malam pengajian, salah seorang murid menanyakan kepada guru kita, samakah membaca al-Quran degan berzikir? Karena di dalam al-Quran memang terdapat kalimat-kalimat yang sering dipergunakan orang sebagai kalimat untuk berzikir.

Terhadap pertanyaan ini guru kita menerangkan kepada murid-muridnya bahwa membaca al-Quran tidak sama dengan berzikir. Karena keduanya memiliki perbedaan bentuk, maksud, hikmah dan tata cara pelaksanaan ibadahnya.

Antara membaca al-Quran dengan berzikir terdapat perbedaan tata laksana dan aktivitas pengerjaannya. Membaca al-Quran akan mengharuskan agar supaya orang yang melakukannya membaca ayat-ayat suci al-Quran dengan perlahan, memperhatikan makhroj (pengucapan bacaan al-Quran) secara benar, memperhatikan tajwid bacaannya (panjang/pendek dan cara pembacaan al-Quran), melantunkan ‘lagu’ dan gaya pembacaan al-Quran serta meresapi arti dari bacaan al-Quran tersebut. Sedangkan di lain pihak, dalam berzikir aktivitas yang dilakukannya adalah menyatakan kalimat-kalimat zikir di dalam qalbu dan jiwa dan kemudian mengulang-ulanginya terus menerus sebanyak-banyaknya sambil meresapi kandungan dan hikmah dari kalimat zikirnya.

Selain aktivitasnya yang berbeda, antara membaca al-Quran dengan berzikir juga mempunyai perbedaan tujuan, maksud serta hikmah. Membaca al-Quran adalah memiliki manfaat dan kegunaan bagi diri pribadi manusia yang membacanya atau yang mendengarkannya. Seperti misalnya dengan membaca al-Quran maka hati dan pikiran menjadi tenang. Beberapa bacaan al-Quran pada surat tertentu juga dapat dipergunakan untuk maksud menyembuhkan penyakit, mengusir jin dari dalam tubuh atau bisa juga dipergunakan untuk maksud lain, seperti mendatangkan perkataan yang berat.

Adapun berzikir, maka maksud dan hikmah yang terkandung di dalamnya adalah bukan bertujuan untuk diri pribadi manusia, akan tetapi untuk Allah swt. Demi untuk mengingat dan menyadari Keberadaan dan Kekuasaan Allah swt.

Kedua bentuk ibadah tersebut: Membaca al-Quran dan berzikir merupakan dua hal yang berbeda, sebagaimana antara sholat dengan puasa. Maka yang satu tidak dapat menghapus yang lainnya. Keduanya bisa ada dalam waktu yang bersamaan.

Zikir adalah ibadah di dalam qalbu dan jiwa manusia, yang dapat dilakukan kapan saja dan terus menerus diulang-ulang selamanya. Pada saat seseorang membaca al-Quran pun, maka hatinya bisa melakukan zikir secara bersamaan. Bahkan pada saat seseorang tengah berdiri, duduk atau pun berbaring, maka dia dapat melakukan zikir di dalam hatinya. Sebagaimana perintah Allah swt berikut ini.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring....” (QS 4:103)

Apabila kita rajin membuka-buka ayat-ayat al-Quran, maka kita akan menyadari betapa perintah Allah untuk berzikir ini bertaburan dimana-mana, hampir di keseluruhan ayat-ayat al-Quran. Namun sayang, umat Islam saat ini menganggap enteng dan biasa saja perintah berzikir ini. Dianggapnya mengingat Allah swt cukup dengan mengingat saja, cukup seperti dengan eling saja.

Padahal apabila perintah berzikir ini benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka efek dan ganjaran yang dijanjikan Allah swt sangat besar. Kebaikan yang akan didatangkan Allah swt terhadap orang-orang yang melaksanakan perintah berzikir sebanyak-banyaknya jauh melampaui kebaikan yang diberikan Allah swt terhadap ibadah membaca al-Quran.

Rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya adalah orang-orang ahli zikir, hati mereka senantiasa berzikir kepada Allah swt. Sebaliknya kegiatan membaca al-Quran dilakukan oleh Rasulullah saw tidak sebanyak ibadah berzikir, karena memang Rasulullah saw adalah Nabi yang Ummi (yang buta huruf).

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS 7:158)

Berzikir itu lebih utama dan lebih sering dilaksanakan oleh Rasulullah saw dibandingkan dengan sholat atau membaca al-Quran atau ibadah-ibadah yang lainnya. Maka sangat benar pernyataan Allah swt di dalam al-Quran surat al-Ankabut ayat 45, bahwa berzikir itu lebih besar keutamaannya dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.41