Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 08 Oktober 2017

Menjalankan Sunnah Rasul

Pada hari ini, banyak sekali orang-orang yang berdalih demi untuk menjalankan Sunnah Rasul, mereka itu mengerjakan sesuatu perbuatan atau memperlihatkan sesuatu penampilan yang sebenarnya didasarkan atas kehendak pribadi mereka atau beberapa orang, bukan berasal dari perintah Rasul itu sendiri.

Memang benar bahwa di dalam al-Quran, kita umat Islam diperintahkan untuk mencontoh suri tauladan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana firman Allah berikut ini.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak berzikir menyebut Allah.” (QS 33:21)

Namun sayang, banyak sekali dari umat Islam yang tidak memahami contoh suri tauladan gerangan apakah yang harus ditiru dari diri Rasulullah saw? Sisi manakah dari pribadi Rasulullah saw yang harus kita, umat Islam saat ini, contoh dan ikuti?

Saudara-saudarku, coba perhatikan dan dibaca kembali ayat tersebut di atas tadi. Jadi menurut Allah swt yang harus kita tiru dari tauladan Rasulullah saw tersebut adalah sikap dan pernyataan untuk mengharapkan sesuatu hanya kepada Allah saja, menerima takdir Allah bahwa balasan terhadap setiap kebaikan adalah nanti setelah hari kiamat, dan banyak berzikir kepada Allah swt. Itulah suri tauladan yang harus kita tiru, itulah Sunnah Rasul yang sebenarnya. Berharap kepada Allah saja dan menanti hari akhir serta berzikir.

Ternyata pada hari ini banyak sekali orang-orang yang diselewengkan oleh syaithan dan membelokannya agar sesuai dengan keinginan dan misi pribadi seseorang. Belakangan ini, ada seorang ustadz dan penceramah yang dengan berapi-api memberikan ceramah betapa pentingnya poligami, karena poligami adalah sebagian dari Sunnah Rasul. Barang siapa istri yang mau masuk surga, maka dia harus merelakan suaminya untuk melakukan poligami, begitu menurut pendapat ustadz tadi.

Contoh lainnya dari seruan beberapa ustadz untuk menjalankan Sunnah Rasul adalah memlihara jenggot, mengenakan celana cingkrang atau memakai baju gamis dan menyantap makanan tidak menggunakan sendok atau garpu akan tetapi hanya mempergunakan tangannya saja. Semua itu adalah dianggap oleh kebanyakan orang sekarang sebagai menjalankan perintah Rasul.

Saudara-saudaraku yang dikaruniai akal dan budi pekerti, cobalah kita mempertanyakan mengapa justru Sunnah Rasul yang seperti itu yang dipilih dan dikedepankan saat ini? Mengapa bukan Sunnah Rasul yang lebih esensi dan jauh lebih penting yang seharusnya dicontoh. Mengapa bukan sikap Sabar pada diri Rasulullah saw yang dicontoh? Mengapa bukan sifat Jujur pada diri Rasulullah saw yang dicontoh atau sikap Ikhlas beliau yang dicontoh? Itu semua jauh lebih penting dari sekedar berpoligami, memelihara jenggot, mengenakan celana cingkrang atau memakai baju gamis. Mengapa?

Sifat-sifat Rasulullah saw seperti disiplin, tepat waktu, pemberani dan jantan, atau berpikiran maju dibandingkan pemikiran pada zamannya. Semua itu adalah Sunnah Rasul yang jauh lebih penting dan berharga untuk ditiru dan dicontoh. Mengapa itu semua tidak dilakukan?

Pada zaman dahulu, seluruh Rasul-Rasul terdahulu termasuk Nabi Muhammad saw memberikan contoh bahwa mereka tidak pernah meminta bayaran atau pun upah dalam berdakwah, dan mereka juga tidak pernah mau menerima upah. Tapi mengapa justru saat ini, hampir sulit kita dapatkan ada seorang ustadz penceramah yang tidak menerima upah dari kegiatan dakwahnya? Hampir sulit sekali menemukan mubaligh dan ulama yang tidak mematok tarif dalam hal berdakwah. Mengapa? Bukan kah tidak menerima upah dalam berdakwah adalah Sunnah para Rasul-Rasul Allah ?

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ
“Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS 38:86)

Menurut guru kita, hal ini adalah sesuatu yang jauh lebih penting. Sebuah Sunnah para Rasul-Rasul Allah yang seharusnya dilaksanakan oleh setiap ulama, ustadz, mubaligh dan penceramah saat ini. Sehingga dengan demikian akan jelas bedanya antara seorang ulama dengan selebriti. Mengapa justru tidak dilakukan?

Jadi, pada hari ini ada beberapa orang ulama yang mereka itu lantang menyuarakan dan menyerukan umat untuk menjalankan Sunnah Rasul, akan tetapi sebenarnya Sunnah Rasul yang dimaksudnya itu adalah dalam hal-hal tertentu saja, yang sebenarnya tidak terlalu esensi dan penting. Justru Sunnah Rasul yang jauh lebih penting dan esensi malahan ditinggalkan dan diabaikan. Sungguh betapa teledor dan amat disayangkan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 22.59