Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 11 Oktober 2017

Antara Ahmad dengan Muhammad

Ada sesuatu yang kurang tepat pada pemahaman kebanyakan umat Islam saat ini terhadap perkara-perkara non-fisik yang tidak kasat mata. Kebanyakan dari umat Islam saat ini adalah menuruti pemahaman dan syak wasangka yang tidak pernah dapat dibuktikan, kecuali asumsi semata dan kemudian asumsi tersebut dianggapnya sudah benar. Padahal keliru. Salah satunya adalah dalam hal pemahaman tentang Ahmad dan Muhammad saw.

Kebanyakan umat Islam saat ini tidak memahami kaitan dan hubungan antara Ahmad dengan Muhammad saw. Di dalam al-Quran Allah swt memperkenalkan Muhammad saw sebagai berikut ini.

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 33:40)

Akan tetapi di ayat al-Quran lainnya Allah menyatakan nama lain, yaitu Ahmad.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا
بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (QS 61:6)

Mengapa disebutkan Ahmad? Mengapa bukan Muhammad? Apakah Allah swt salah atau sedikit keliru dalam menyebutkan nama?

Kebanyakan umat Islam tidak pernah mempertanyakan dan meneliti lebih dalam akan hal ini. Mereka semua merasa sudah puas dan selesai dengan menganggap bahwa Ahmad adalah sama dengan Muhammad saw. Sehingga tidak memahami dan tidak mengerti siapakah sebenarnya Ahmad dan siapa sebenarnya Muhammad?

Bahkan orang-orang yang pada hari ini mengaku dan menyangkut-pautkan dirinya sebagai keturunan Muhammad saw pun tidak memahami dan tidak mengerti akan hal ini.

Saudara-saudaraku, coba kita perhatikan kembali ayat al-Quran surat al-Ahzab ayat 40 di atas. “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu”. Jadi mengapa pada hari ini banyak sekali habib-habib yang mengaku sebagai keturunan Muhammad saw?

Saudara-saudaraku sekalian, dalam hal ini guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya di suatu malam pengajian, bahwa Muhammad saw itu adalah pangkat dan jabatan dari seorang anak laki-laki yang dilahirkan 1447 tahun yang lalu dari rahim seorang ibu di Mekkah yang bernama Aminah dan kemudian memberikan nama untuk anaknya itu Ahmad. Kemudian anak tersebut dianugerahi Allah swt pangkat yang akan disandangnya dan yang akan mendampinginya, yaitu Muhammad saw. Siapakah Muhammad itu? Muhammad adalah Rasulullah dan penutup para Nabi-Nabi.

Perumpamaannya mungkin adalah sebagaimana antara Jokowi dan Presiden Republik Indonesia saat ini. Jokowi memang memiliki anak dan keturunan, akan tetapi apakah Presiden Republik Indonesia mempunyai anak dan keturunan? Nah, coba anda lihat dan baca kembali surat al-Ahzab ayat 40 tadi. Bukankah begitu isinya?

Jadi mungkin saja saat ini ada memang beberapa orang habib yang mereka itu masih ada darah keturunan dari Ahmad, akan tetapi bukan dari Muhammad saw.

Muhammad saw, sebagaimana juga ruh-ruh kita, mereka itu tidak mati. Pada saat ajal tiba, maka tubuh jasad kasar manusia itulah yang mati, kembali ke asalnya yaitu menjadi tanah. Sedangkan ruh akan tetap hidup.

Kemudian selanjutnya, menurut guru kita ketika pada zaman dahulu ketika ajal Ahmad telah tiba, maka kematiannya itu adalah mati Syahid, gugur di jalan Allah karena beliau wafat saat menjalankan tugas Allah swt menjadi Rasul-Nya. Dan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah ini, Allah swt melarang kita mengira bahwa mereka itu sudah mati.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS 3:169)

Nah, pada hari ini justru banyak di antara umat Islam yang menganggap bahwa Nabi kita itu bukan termasuk orang yang gugur dalam melaksanakan tugas di jalan Allah. Padahal sebaliknya, beliau itu justru wafat dalam melaksanakan tugasnya sebagai Rasul Allah, sebagai Muhammad saw. Jadi beliau mati syahid, dan terhadap para syuhada itu kita dilarang untuk mengira bahwa mereka itu mati.

Jadi, kalau demikian halnya Muhammad itu saat ini masih hidup? Ya, saat ini Muhammad saw itu masih hidup, sebagaiman ruh-ruh para Nabi dan Rasul terdahulu, para Wali dan para Syuhada, mereka semua itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki.

Beberapa orang yang telah mampu mengenal diri pribadi mereka sendiri, senantiasa berzikir dan mengingat Allah swt, mereka dapat membuka selubung jasmaninya sehingga mereka dapat bertemu dengan ruh-ruh para Nabi dan Rasul terdahulu, juga bertemu dengan Muhammad saw. Tentu saja untuk menemuinya diperlukan upaya dan pengorbanan yang tidak mudah, harus dengan daya upaya dan keikhlasan yang sepenuh hati, agar bisa sampai ke alam hakekat yang sejati. Atas Perkenan dan Kehendak Allah maka semuanya bisa terjadi.

Sungguh beruntung jiwa-jiwa yang bersih dan senantiasa membersihkan diri, yang telah bertemu dengan Rasullullah. Karena hal itu jauh lebih bermakna dan lebih penting dibandingkan dengan sekedar mengaku pada hari ini sebagai keturunan Muhammad. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.47