Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 12 Oktober 2017

Ikhtiar dan Hasil Usaha

Dalam menjalani kehidupannya di muka bumi ini, manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan kemakmuran dan keberuntungan. Padahal kemakmuran dan keberuntungan dalam usaha belum tentu dapat mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. Namun meskipun menyadari hal tersebut, manusia tetap saja teguh dalam pendiriannya untuk berlomba-lomba mengejar kekayaan. Karena kebanyakan dari manusia beranggapan bahwa dengan kekayaan yang melimpah, maka kemungkinan untuk hidup bahagia lebih terbuka.

Padahal sesungguhnya yang dapat mendatangkan kebahagiaan pada manusia bukanlah kekayaan yang melimpah, akan tetapi adalah kecukupan. Dengan merasa apa yang diterima ini sudah cukup, maka manusia akan merasa lega dan bersyukur kepada Tuhannya. Nah, sifat syukur ini lah yang kemudian akan mendatangkan kebahagiaan lahir bathin bagi manusia.

Dalam suatu malam pengajian, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya bahwasanya kebanyakan manusia pada hari ini adalah berorientasi pada hasil, bukan pada ikhtiar. Orang yang dari usahanya mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda, kemudian dikatakan sebagai orang yang sukses. Orang yang mampu mengumpulkan kekayaan yang melimpah, dikatakan sebagai orang berhasil. Tidak peduli bagaimana sebenarnya ikhtiar dan jalan yang ditempuhnya. Ini adalah sesuatu yang keliru.

Hasil usaha adalah sepenuhnya berasal dari Keinginan dan Kehendak Allah swt kepada orang yang berikhtiar, bukan akibat dari ikhtiar itu sendiri. Hasil usaha itu adalah merupakan produk dari Kehendak Allah swt, bukan akibat langsung dari ikhtiar manusia.

Manusia itu kewajibannya hanyalah untuk berikhtiar dan berusaha, cukup itu saja. Tidak ada kewajiban dan keharusan bagi manusia untuk berhasil, karena berhasil atau tidaknya ikhtiar adalah Wewenang dan Keputusan Allah swt. Jadi dengan demikian maka yang harus dipikirkan dan direncanakan oleh manusia itu hanyalah ikhtiar dan usahanya, bukan pada hasilnya.

Sebagaimana juga binatang melata, seperti cecak misalnya. Makanan cecak adalah nyamuk yang mempunyai sayap dan bisa terbang dengan gesit. Cecak tidak punya sayap. Meskipun tidak punya sayap, cecak tidak pernah ambil pusing dan stress karenanya. Dia hanya berikhtiar mencari karunia Allah kesana dan kemari, hingga akhirnya datang seekor nyamuk hinggap di dekatnya. Kemudian.... hap, lalu ditangkap. Begitulah kira-kira kisah ikhtiar yang dilakukan oleh seekor binatang melata dalam memperoleh rezekinya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS 11:6)

Pada hari ini, kebanyakan ikhtiar manusia adalah hanya untuk masalah kehidupan duniawi semata, sedikit sekali yang berikhtiar sungguh-sungguh untuk kehidupan di akhirat kelak. Padahal kita semua menyadari bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih abadi dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini. Guru kita mencela sikap yang seperti ini. Beliau mengajarkan kepada murid-muridnya untuk bersungguh-sungguh dalam berikhtiar untuk mengejar kehidupan di akhirat kelak.

Adapun untuk kehidupan di dunia ini, tidak ada yang lebih baik dibandingkan dengan secukupnya saja. Karena tidak ada yang dapat melebihi kebahagiaan di dunia ini melebihi rasa cukup dan rasa syukur.

Ada satu rahasia yang diajarkan guru kita dalam hal berikhtiar mencari karunia Allah sehingga mendapatkan keuntungan baik untuk kehidupan dunia maupun kehidupan di akhirat. Rahasianya adalah pada ayat al-Quran berikut ini.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan berzikirlah (ingatlah) Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS 62:10)

Sambil mencari karunia Allah, kita hendaknya mengiringinya dengan banyak-banyak berzikir kepada Allah swt, niscaya kita akan beruntung. Namun sayangnya banyak orang yang mengacuhkan hal ini, tidak banyak orang yang mempraktekan berzikir sebanyak-banyaknya sambil mencari karunia Allah. Hanya segelintir orang saja. Itulah mereka yang beruntung, beruntung karena cukup dalam kehidupan dunianya, dan terjamin dalam kehidupan akhiratnya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 21.39