Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 16 Oktober 2017

Budaya Pemaksaan

Pada dasarnya setiap pemaksaan itu buruk dan pada akhirnya tidak akan menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kesadaran diri dan keikhlasan. Hanya untuk beberapa kasus khusus saja pemaksaan itu dapat dibenarkan. Akan tetapi, untuk kebanyakan kasus lainnya pemaksaan itu hendaknya dihindari.

Pemaksaan dapat berwujud dalam berbagai macam bentuk dan penampakan, seperti misalnya pemaksaan dalam hal mendidik anak, pemaksaan dalam hal memerintahkan istri, memaksakan kehendak terhadap bawahan atau masyarakat yang dipimpinnya, bahkan bisa juga dalam bentuk imperialisme dan penjajahan dimana kaum penjajah memaksakan kebijakan yang menguntungkan kaum penjajah saja.

Dalam model negara berdasarkan syariat Islam sebagaimana yang pernah dibangun oleh ISIS, maka syariat Islam terkesan dipaksakan untuk diterapkan kepada masyarakatnya. Semua wanita dipaksa harus mengenakan hijab, tidak peduli apa pun agama mereka. Semua umat Islam harus menjalankan syariat, seperti sholat, puasa atau membayar zakat. Orang-orang yang tidak menjalankan syariat Islam akan dipenggal kepala mereka di depan umum. Kasus eksekusi pemenggalan kepala ini banyak ditemui di daerah-daerah yang pernah dikuasai ISIS di Syria dan Irak.

Dalam hal ini, guru kita memberikan pelajaran kepada murid-muridnya, bahwa Allah swt tidak membolehkan pemaksaan. Semua yang dilakukan oleh seseorang haruslah atas dasar keikhlasan dan kesadaran pribadi.

Mendidik anak sebisa mungkin harus menghindari pemaksaan, karena yang benar dalam hal mendidik anak adalah dengan contoh dan tauladan dari orang tua, bukan dengan jalan memaksakan dan mengancam dengan hukuman. Demikian juga dalam hal suami yang mendidik istrinya, maka tidak boleh mempergunakan pemaksaan apalagi kekerasan.

Budaya pemaksaan mungkin masih kental saat ini di kalangan bangsa Arab, dimana dominasi pria sangat tinggi dan beberapa hak-hak serta kebebasan perempuan agak dibatasi. Ya, memang itu sudah menjadi budaya orang-orang disana yang berasal dari sejarah terdahulu dan tidak mudah untuk berubah.

Akan tetapi ketika Rasulullah saw diutus kepada bangsa Arab dahulu, beliau sebenarnya telah membawa suatu ide perubahan dan kemajuan bagi bangsa Arab, yaitu menghapus pemaksaan. Ajaran Islam yang dibawa beliau juga melarang segala bentuk pamaksaan secara tegas.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ
اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan dalam agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

Pada zaman tersebut, Rasulullah saw melarang segala bentuk pemaksaan. Beliau tidak pernah memaksa keluarganya untuk masuk agama Islam, bahkan kepada paman beliau sendiri pun tidak pernah beliau memaksa. Begitu juga kepada istri, anak dan para budak, beliau tidak pernah memaksakan sesuatu.

Bahkan pada saat pergi berperang, Rasulullah saw melarang orang-orang yang ikut adalah karena terpaksa. Beliau melarang pengantin baru untuk berperang. Beliau juga melarang suami yang istrinya tengah hamil tua untuk ikut berperang, atau seorang kepala rumah tangga yang tengah membangun atau memperbaiki rumah untuk ikut berperang. Semuanya itu adalah demi untuk menghindari adanya keterpaksaan. Sehingga setiap sesuatu dilakukan adalah murni berdasarkan keikhlasan.

Rasulullah saw menyadari bahwa di dunia ini, tidak mungkin semua orang akan menjadi orang Islam. Tidak mungkin semua orang menjadi orang yang beriman. Pasti ada beberapa orang yang tidak mau beragama Islam. Bahkan di Madinah sendiri beliau tahu bahwa ada beberapa orang yang mereka itu beragama Islam, akan tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang munafik belaka. Namun terhadap mereka itu, Rasulullah saw tidak pernah mengancam atau mengeksekusi mereka.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS 10:99)

Ternyata kalau kita membuka kembali lembaran sejarah para Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah sebelumnya, ternyata mereka semuanya sama, tidak membenarkan pemaksaan. Nabi Ibrahim as tidak memaksakan ayahnya untuk mengikuti ajaran agama beliau. Demikian juga Nabi Luth as terhadap istrinya, atau Nabi Nuh as terhadap anaknya.

Di Indonesia sendiri, budaya pemaksaan sebenarnya tidak ada. Kalau kita melihat bagaimana agama-agama masuk dan menyebar di Indonesia, maka tidak ada yang didasarkan kepada pemaksaan. Semuanya diterima dengan suka rela. Ketika agama Hindu masuk, maka tidak ada peperangan yang berkobar karena menolak penyebaran agama Hindu. Demikian juga ketika agama Budha dan kemudian agama Islam masuk dan menyebar di Indonesia. Tidak ada peperangan karena agama. Semua agama masuk dan menyebar tanda adanya pemaksaan.

Nah, pada hari ini yang terjadi di negeri kita justru kebalikannya. Beberapa orang justru mulai menyebarkan budaya pemaksaan tersebut sebagaimana budaya yang berlaku di tanah Arab. Seorang ayah mendidik anaknya dengan pemaksaan. Seorang suami mendidik istrinya dengan pemaksaan. Bahkan seorang ayah dipaksa menjadi ‘pengantin’ untuk dijadikan tumbal teroris melakukan bom bunuh diri.

Mengapa justru kita hendak melakukan sesuatu yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah saw dahulu? Mengapa justru pada hari ini kita justru hendak memutar kembali sehingga berkebalikan dengan arah ajaran dan tauladan Rasulullah saw dahulu? Ajaran dan konsep siapakah gerangan sistem pemaksaan seperti ini? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.58