Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 17 Oktober 2017

Menyembunyikan Ibadah

Pada hari ini, hampir setiap orang memiliki kecenderungan untuk menunjukan siapa dirinya, atau mungkin yang lebih tepat lagi adalah untuk menunjukan apa yang menjadi keinginannya untuk dilihat orang lain. Seseorang yang ingin diterima di masyarakat sebagai orang yang alim dan bertakwa, maka dia akan mengenakan pakaian dan asesoris yang mendukung penampilannya tersebut untuk dianggap sebagai orang alim dan bertakwa, misalnya saja dengan mengenakan baju gamis, memelihara jenggot yang lebat dan membawa-bawa untaian tasbih kemana-mana.

Padahal, tidak selamanya penampilan itu sesuai dengan sifat aslinya. Dulu, beberapa waktu yang lalu ketika penulis berkesempatan untuk mengunjungi salah satu negara di timur tengah, maka penulis melihat ada beberapa penduduknya yang gemar membawa-bawa untaian tasbih kemana-mana sambil memainkan jarinya pada untaian tasbih tersebut. Kita dan orang-orang mungkin akan menyangka bahwa orang tadi senantiasa berzikir. Namun ternyata kenyataannya tidak lah demikian. Karena kalau kita dekati, kita bisa mencium bau minuman alkohol keluar dari mulut orang tadi. Oh, rupanya dia tengah mabuk oleh minuman beralkohol.

Ternyata di negara tersebut, sudah menjadi kebiasaan dan budaya bahwa banyak laki-laki yang gemar membawa untaian tasbih kemana-mana. Namun itu hanyalah sekedar kebiasaan dan budaya semata. Bukan karena penduduknya gemar berzikir kepada Allah setiap saat.

Guru kita mencela sikap pamer dan ingin dipuji atau dipersepsi oleh manusia bahwa kita ini adalah orang sholeh dan bertakwa, lalu kita pamer dan mengenakan pakaian serta asesoris untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa kita adalah orang yang sholeh atau bertakwa. Sikap pamer ini tidak baik, riya dan menipu orang lain dan sebenarnya juga menipu diri sendiri.

Ibadah dan penghambaan seseorang kepada Tuhannya adalah sesuatu yang tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain. Cukup hanya kita dan Allah saja yang mengetahuinya. Tidak perlu dipamerkan kepada orang lain. Tidak ada gunanya.

Demikian juga dalam hal memberi infak dan memberikan sedekah kepada fakir miskin demi untuk kebaikan. Tidak perlu kita perlihatkan dan pertontonkan kepada orang lain. Berapa banyak anak asuh kita, berapa banyak anak yatim yang kita tolong, cukup hanya kita dan Allah saja yang mengetahuinya. Tidak perlu dipertontonkan kepada orang lain. Itu adalah lebih baik.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ
وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:271)

Pada hari ini justru seringkali kita melihat di televisi, para ustadz dan selebriti mempertontonkan acara pemberian sedekah kepada anak-anak yatim piatu. Mereka merasa bangga dengan hal itu, merasa puas bahwa mereka mengira telah menghasilkan point pahala yang banyak. Padahal sikap pamer dan riya tersebut justru akan berakibat musnahnya dan hilangnya kebaikan yang mereka perbuat. Sebagaimana hilangnya tanah dari atas batu yang diguyur air hujan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ
وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ
لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS 2:264)

Dalam sejarahnya dahulu di zaman Rasulullah saw, perbuatan riya ini banyak dipraktekan oleh orang-orang munafik. Pada zaman itu di kota Madinah, banyak sekali orang-orang munafik dari berbagai kalangan, termasuk dari kalangan orang-orang Arab.

Mereka orang-orang munafik tersebut ikut sholat sebagaimana Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman sholat, akan tetapi hanya untuk pamer dan riya saja. Hanya Allah saja yang dapat mengetahui kemunafikan mereka, sedangkan Rasul dan para sahabat beliau tidak mampu untuk mendeteksi kemunafikan mereka. Hingga kemudian Allah swt membuka rahasia orang munafik tersebut, yaitu bahwa mereka sedikit sekali berzikir kepada Allah. Itulah tanda dan ciri dari orang munafik yang dapat dilihat lebih jelas dan dapat dijadikan pedoman untuk menentukan siapa sebenarnya mereka.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ
يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka berzikir menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS 2:142)

Maka demikianlah sejarah tentang riya dan pamer yang sangat dicela oleh guru kita. Jadi pada zaman Rasulullah saw dahulu, barang siapa yang berzikir kepada Allah sedikit sekali, maka itu adalah salah satu ciri dan tanda orang munafik.

Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang munafik. Juga bukan termasuk orang yang gemar pamer dan berbuat riya di hadapan manusia. Oleh sebab itu, maka banyak-banyak lah berzikir dan mengingat Allah dengan seikhlas-ikhlasnya. Dengan senantiasa berzikir mengingat Allah semoga kita menjadi orang-orang yang ikhlas. Bukan menjadi orang yang suka pamer dan juga bukan orang munafik. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.58