Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 19 Oktober 2017

Muslihat Dalam Bermakrifat

Muslihat atau pun tipu daya adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam ajaran Islam, yaitu dalam hal mengatur siasat untuk menghadapi musuh. Misalnya saja dalam masa-masa peperangan dahulu, Rasulullah saw menggunakan muslihat untuk mengelabui lawan. Pada saat beliau mengatakan akan melalui jalan ke arah kanan kepada para sahabat-sahabat beliau, maka tatkala sudah tiba di percabangan justru beliau memerintahkan pasukannya untuk berbelok ke arah kiri. Hal tersebut beliau lakukan sebagai muslihat agar supaya apabila ada mata-mata musuh di antara pasukannya, maka informasi yang sampai ke telinga musuh akan salah.

Demikian juga dalam beberapa peristiwa lainnya, misalnya saja pada saat peristiwa hijrah beliau dan kaum muhajirin dari kota Mekkah ke kota Madinah. Beliau memerintahkan menantunya yaitu Ali bin Abi Thalib ra untuk tidur di rumah beliau, sehingga orang-orang kafir Quraisy akan menyangka bahwa yang berada di dalam rumah adalah beliau. Itu adalah suatu muslihat dalam menghadapi rintangan dan permusuhan orang-orang kafir Quraisy.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS 8:30)

Tidak hanya pada zaman itu saja, ternyata muslihat juga dijalankan oleh Rasul-Rasul Allah sebelumnya, seperti halnya Nabi Ibrahim as. Ketika orang-orang Babilonia pergi meninggalkan kampung-kampung mereka dalam rangka melaksanakan suatu tradisi, maka beliau menyusun rencana untuk menghancurkan patung-patung berhala kaumnya itu.

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ
“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.” (QS 21:57)

Maka setelah kaum Nabi Ibrahim as meninggalkan kampung-kampung mereka, kemudian Nabi ibrahim as menghancurkan patung-patung berhala tersebut, dan menyisakan sebuah patung yang paling besar diantaranya, agar kemudian tatkala kaumnya itu kembali mereka akan menanyakannya.

Demikianlah muslihat tersebut dilakukan oleh para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah swt dalam rangka menyusun siasat tatkala menghadapi musuh-musuh mereka. Namun yang patut untuk dicatat dan digaris bawahi dalam hal ini yaitu bahwa semua muslihat dan tipu daya yang dilakukan oleh para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah tersebut adalah sesuai dengan Petunjuk dan Kehendak Allah swt langsung, bukan berdasarkan pemikiran dan keinginan hawa nafsu pribadi.

Misalnya saja dalam hal kisah Nabi Yusuf as saat menghadapi saudara-saudaranya yang dahulu pernah menjerumuskan beliau kedalam sumur ketika beliau masih kanak-kanak. Maka tatkala saudara-saudaranya itu kembali ke Mesir untuk meminta bantuan pangan, mereka tidak mengenali Nabi Yusuf as yang kala itu telah menjabat sebagai menteri di kerajaan Mesir.

Nabi Yusuf as menjalankan muslihat terhadap saudara-saudarnya demi untuk memisahkan adiknya Bunyamin dari saudara-saudaranya itu. Dan semua muslihat yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as tersebut adalah berdasarkan Petunjuk dan Kehendak Allah swt, bukan atas dasar pemikiran dan kehendak pribadi beliau.

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ
مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِي

“Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (QS 12:76)

Demikianlah, Allah swt membimbing dan memberi petunjuk dalam hal melakukan muslihat terhadap musuh-musuh para Nabi dan Rasul-RasulNya.

Setiap orang tidak memiliki kedudukan yang sama, maka demikian juga halnya dengan musuh tiap-tiap orang. Sesuai dengan kondisi dan kedudukannya maka tiap-tiap orang akan memiliki musuh yang berbeda-beda juga.

Sebagian besar dari kita mungkin musuhnya adalah hawa nafsu pribadi sendiri. Sedangkan beberapa orang lainnya yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi, maka musuh-musuh mereka adalah syaithan dan iblis. Maka dalam hal menghadapi musuh-musuh tersebut, orang-orang tadi memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah agar supaya diberi petunjuk berupa muslihat dan siasat untuk menghadapi musuh-musuh mereka, yaitu syaithan dan iblis.

Muslihat yang kemudian dijalankan oleh beberapa orang tadi adalah berupa petunjuk Allah langsung yang khusus diperuntukan bagi mereka dalam menghadapi musuh, yaitu syaithan dan iblis. Muslihat yang sama tidak bisa dan tidak boleh dijalankan oleh orang-orang lainnya dalam hal menghadapi musuh yang berbeda.

Demikianlah uraian ini merupakan bagian dari penggambaran muslihat dan siasat yang dilakukan oleh guru kita dalam hal menghadapi musuh, yaitu syaithan dan iblis. Pada hari ini, dimana ratusan bahkan ribuan kumpulan pengajian dan ormas Islam di dunia ini tidak ada satu pun diantara mereka yang dalam programnya mengatur rencana dan siasat dalam menghadapi musuh utama manusia, yaitu syaithan, maka hanya di dalam yayasan Akhlaqul Karimah Darul Iman inilah kami menyusun siasat dan muslihat dalam menghadapi musuh utama manusia, yaitu syaithan.

Muslihat tersebut itulah yang kemudian coba diterapkan oleh guru kita dalam menghadapi syaithan dan iblis. Tentu saja muslihat dan siasat tersebut dilakukan tidak terlepas dari Petunjuk dan Kehendak Allah swt, bukan berdasarkan hasil pemikiran dan keinginan pribadi semata. Muslihat yang sama tidak boleh dan tidak bisa dipergunakan untuk hal-hal dan kepentingan lainnya.

Jadi dengan demikian maka dalam hal menjalankan siasat dan muslihat, kita tidak pernah lepas dari suatu mata rantai sejarah yang panjang. Sejarah yang berasal dari para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah terdahulu, dimana mereka semuanya menjalankan siasat Allah dalam hal menghadapi musuh yang sesuai dengan kondisi zamannya masing-masing. Jadi ini sebenarnya adalah bagian dari suatu mata rantai sejarah yang panjang.

Apa yang dijalankan oleh guru kita dan diterapkan di dalam yayasan kita adalah merupakan suatu mata rantai sejarah panjang. Dalam hal menjalankan siasat Allah, guru kita hanyalah meneruskan langkah dari para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah terdahulu. Kita tidak pernah keluar dari mata rantai sejarah dan benang merah perjuangan para Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah tersebut. Kita hanyalah anak-anak zaman, kita hanyalah penerus-penerus belaka. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 04.01