Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 27 Oktober 2017

Berjuang Untuk Orang Lain

Selama ini kebanyakan dari kita hanya memikirkan untuk diri kita sendiri. Bertanya kepada seorang ustadz atau penceramah tentang pahala berbuat sesuatu kebajikan adalah demi untuk memastikan mendapat pahala untuk diri kita. Bertanya tentang dosa adalah juga dalam rangka untuk memastikan diri kita tidak berbuat dosa. Bertanya tentang macam-macam bentuk ibadah dan hukum syariat, semuanya kebanyakan adalah dalam rangka untuk kepentingan diri kita sendiri. Bukan untuk orang lain.

Bertanya, berdiskusi dan bahkan berdebat seputar masalah sholat, puasa, berzakat sampai masalah pergi haji dan umroh, semuanya itu adalah dalam rangka untuk kepentingan pahala atau dosa bagi diri sendiri. Tidak banyak diskusi dan pemikiran kita dicurahkan untuk memikirkan orang lain, memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan diri sendiri.

Bahkan di Indonesia, banyak sekali kajian-kajian tentang sufi yang juga hanya berkaitan dengan masalah-masalah seputar hubungan antara diri pribadi dengan Tuhan.

Padahal sebagai umat Islam kita memiliki kewajiban untuk memikirkan dan memberi perhatian kepada orang lain, kepada masyarakat dan bangsa. Umat Islam memiliki kewajiban sosial untuk mensejahterakan masyarakat, atau paling tidak turut andil dalam membantu memikirkan solusi terhadap berbagai masalah sosial dan tidak turut menambah beban permasalahan tersebut.

Dan diantara sekian banyak kewajiban sosial bagi umat Islam saat ini, yang paling penting dan paling utama ialah untuk mengajak manusia kepada beriman dan berTauhid. Karena ternyata saat ini banyak sekali diantara umat Islam yang belum beriman dan berTauhid.

Jadi setelah kita mengenal diri pribadi sendiri, kemudian kita mengenal Allah swt, maka tidak kemudian berhenti sampai disitu. Kewajiban selanjutnya adalah mengajarkan dan mengajak umat Islam untuk beriman dan berTauhid. Karena dengan banyaknya azab di negeri ini, hal itu merupakan indikasi yang kuat bahwa kebanyakan umat Islam saat ini adalah belum beriman. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3:104)

Kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar ini bisa kita mulai dari keluarga sendiri, baru kemudian bisa kita tujukan kepada masyarakat sekitar kita.

Jangan terlalu muluk-muluk dalam hal berdakwah sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penceramah dan da’i saat ini, karena dakwah yang paling baik dan paling efektif itu adalah dengan metode contoh tauladan sebagaimana yang dipraktekan oleh Rasulullah saw dahulu. Bukan dengan metode berceramah.

Selanjutnya setelah mengajak keluarga dan masyarakat sekitar kita untuk beriman dan berTauhid, maka kemudian kita juga berkewajiban untuk mendoakan mereka. Bangun malam untuk melaksanakan sholat tahajud dan berzikir adalah dalam rangka untuk mendoakan masyrakat dan bangsa kita. Bukan untuk diri pribadi semata.

Berdoa untuk orang lain adalah jauh lebih bermanfaat dan lebih bernilai ketimbang hanya berdoa untuk kepentingan diri pribadi semata. Karena kita adalah umat Nabi Muhammad saw, sudah sepantasnya kita meniru dan mencontoh suri tauladan beliau. Pernahkah anda mendengar bahwa Rasulullah saw ketika berdoa, beliau berdoa hanya untuk kepentingan diri pribadinya semata? Pernahkah anda membaca kisah Rasulullah saw bahwa ketika beliau berjuang kemudian itu hanya untuk kepentingan diri pribadinya semata? Belum pernah bukan? Jadi mengapa hal ini tidak pernah kita contoh? Inilah sunnah Rasul yang lebih utama, mengapa tidak banyak dicontoh umat Islam saat ini?

Demikianlah tulisan singkat dan ringan ini dimaksudkan untuk membuka mata hati kita semua, bahwa kita adalah umat Islam yang diharapkan bisa menjadi pelopor dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Mari kita mulai saat ini berhenti menjadi umat yang egois, yang hanya memikirkan diri sendiri. Mari menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Mulailah dengan berhenti berdoa hanya untuk diri sendiri, berdoalah untuk orang lain, untuk masyarakat dan bangsa kita dengan setulus-tulusnya. (AK/SY)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 17.42