Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 30 Oktober 2017

Allah Tidak Pernah Menzalimi HambaNya

Ras manusia adalah sejenis mahluk yang sebenarnya rentan dan perlu dilindungi. Pada awal kemunculan manusia pertama kalinya di muka bumi ini, maka dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya, manusia termasuk mahluk yang palling lemah. Tubuhnya tidak sebesar dan sekuat beruang, kukunya tidak setajam dan sekuat harimau dan larinya pun tidak secepat kuda. Maka sebelum ditemukannya senjata, budaya dan teknologi, manusia adalah merupakan salah satu mahluk yang paling lemah dan terancam punah.

Untung saja Allah swt mengaruniai akal dan pikiran kepada manusia, sehingga dengan akal dan pikiran tersebut itulah manusia bisa bertahan dan bahkan mengungguli hewan-hewan lainnya. Manusia menjadi mahluk penguasa bumi, khalifah fil Ardh.

Namun, meskipun demikian, potensi manusia untuk menghancurkan rasnya sendiri tetap ada di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Misalnya saja kaum Sodom yang lebih memilih untuk berhubungan dengan sesama jenis. Maka apabila hal ini dibiarkan, lambat laun jumlah pengikutnya akan semakin bertambah banyak. Sehingga akibatnya angka kelahiran akan menurun, dan suatu saat kelak manusia bisa musnah. Oleh sebab itu, maka untuk menghentikan penyebaran pengaruh kaum sodom ini, Allah swt menumpas kaum tersebut melalui azab berupa hujan batu.

Dan ternyata, dari sejarah panjang peradaban manusia, bahaya terbesarnya adalah kekafiran, penolakan manusia untuk berTuhan, yaitu beriman kepada Allah swt. Sebab, tanpa beriman kepada Tuhan, sudah pasti bentuk peradaban manusia yang akan berkembang berikutnya adalah peradaban syaithan. Yaitu sebuah peradaban yang akan menjerumuskan dan memusnahkan manusia itu sendiri. Apabila hal ini dibiarkan, maka sudah pasti suatu saat kelak manusia akan terkubur di dalam peradaban yang gelap dan menyeramkan.

Tanpa Petunjuk dan Bimbingan Tuhan, manusia akan saling membenci satu dengan yang lainnya. Permusuhan, pengkhianatan, penindasan dan peperangan sudah pasti akan berkobar di mana-mana. Pada akhirnya, manusia akan saling membunuh dan menumpahkan darah, sehingga akibatnya manusia akan musnah dari muka bumi ini.

Oleh karena itu, maka bibit-bibit penolakan terhadap Tuhan harus dibasmi dan dihentikan penyebarannya. Agar supaya peradaban manusia itu sendiri tidak punah dan tidak musnah dari muka bumi ini. Itulah sebabnya mengapa Allah swt menurunkan azab kepada kaum Aad, kaum Tsamud dan Firaun. Azab tersebut diturunkan Allah swt bukanlah dengan maksud untuk menzalimi manusia, akan tetapi justru untuk melindungi dan menyelamatkan peradaban manusia berikutnya.

مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۚ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ
“(Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, 'Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS 40:31)

Demikian juga halnya dengan Firaun, maka azab Allah swt yang ditimpakan kepada Firaun bukanlah dalam rangka untuk menzalimi hambaNya, melainkan demi untuk menghentikan pengaruh kekafiran pada peradaban manusia berikutnya. Sehingga dengan demikian maka peradaban manusia kedepannya bisa lebih unggul dan lebih sejahtera. Tidak musnah dan punah dari muka bumi ini.

Kemudian dalam hal beriman kepada Allah swt, maka cara Allah mengajarkan keimanan pada manusia adalah sangat manusiawi sekali. Tidak ada satu ayat pun dalam al-Quran yang menzalimi manusia. Semuanya disusun dan diturunkan kepada manusia agar akal manusia itu mudah untuk memahaminya. Jadi, asalkan saja akal manusia itu bebas dan tidak terkekang, dan manusia mau mempergunakan akalnya tersebut, maka sudah pasti sistem pengajaran keimanan dalam al-Quran itu akan mudah sekali diterima manusia. Bukan saja mudah, akan tetapi sistem pengajaran di dalam al-Quran juga sangat sempurna.

هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS 14:52)

Di dalamnya al-Quran menjelaskan bagaimana manusia diperintahkan untuk mengenal Allah Yang Maha Ghaib dengan cara menunjukannya melalui tanda-tanda Kekuasaan Allah di alam semesta dan di dalam diri manusia itu sendiri. Maka dengan melihat dan mempelajari tanda-tanda Kekuasaan Allah tersebut itulah, maka akal manusia akan dapat menerima dan mengimani Allah.

Jadi manusia tidak dengan serta merta dipaksa untuk langsung beriman kepada Allah Yang Maha Ghaib. Melainkan melalaui pelajaran dari tanda-tanda Kekuasaan Allah itulah, maka manusia bisa mempergunakan akalnya untuk menerima dengan mudah pengajaran keimanan kepada Allah swt. Sekali lagi dapat kita simpulkan bahwa Allah swt tidak pernah menzalimi hambaNya. (AK/SY)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.56