Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 03 November 2017

Mengubah Bentang Alam

Seorang pendaki gunung pasti akan mengerti dan memahami bahwa sebenarnya gunung itu adalah hidup. Gunung bisa merasakan dan mengetahui keadaan di sekitarnya. Apabila ada pendaki gunung yang hendak menaklukan puncaknya, maka gunung akan bereaksi. Reaksinya bisa berupa cuaca ekstrim yang berubah dengan tiba-tiba sehingga akan menghalangi pendaki gunung untuk mencapai puncaknya.

Demikianlah alam lingkungan kita, sebenarnya dia itu hidup. Karena alam lingkungan seperti gunung, laut, danau dan hutan merupakan suatu bangunan kehidupan raksasa yang tersusun oleh jutaan dan milyaran mahluk di dalamnya. Sehingga dengan demikian, apabila pada hari ini manusia melakukan perubahan sedikit saja pada salah satu bagian dari alam lingkungan tersebut, maka dia akan memberikan reaksi terhadap tindakan manusia tadi secara berantai.

Alam lingkungan yang kita diami di bumi ini telah melakukan proses keseimbangan selama 4,5 milyar tahun lamanya. Bukan waktu yang singkat. Semenjak bumi ini tercipta dari gumpalan material yang terlontar dari matahari, kemudian bersatu dan berputar menjadi planet yang panas. Lalu kemudian menjadi dingin dan membeku, membentuk air dan menjadi bumi seperti sekarang ini, diperlukan waktu selama 4,5 milyar tahun lamanya sehingga terbentuk keseimbangan seperti yang kita dapati hari ini.

Nah, setelah bumi menjadi sempurna, nyaman untuk dijadikan tempat tinggal, maka kemudian Allah swt menciptakan manusia untuk menjadi khalifahNya di muka bumi ini.

Di daratan tanah, tumbuhan dan hewan telah membentuk ekosistem yang sempurna. Ekosistem yang terdiri dari jutaan rantai makanan yang sangat panjang dan saling bergantung satu dengan yang lainnya. Apabila pada suatu daerah misalnya terjadi hewan kucing berkurang karena dibunuh manusia, maka jumlah populasi tikus akan meningkat tak terkendali. Kemudian tikus yang tinggal di tempat-tempat yang kotor membawa kuman pes kemana-mana, termasuk ke lingkungan manusia. Sehingga kemudian mengakibatkan wabah pes dan kolera terjadi di mana-mana. Wabah seperti ini pernah terjadi sebelumnya pada abad ke-13 di Eropa yang dikenal dengan peristiwa black death, yang mengakibatkan kematian bagi 40% penduduknya. Itulah akibat dari merubah keseimbangan alam yang sudah dibangun oleh alam selama 4,5 milyar tahun lamanya.

Tidak hanya di daratan, ekosistem yang sempurna juga telah tercipta di hutan, danau, gunung dan lautan. Proses keseimbangan ekosistem yang sudah tercipta dengan harmonis dan sempurna. Apabila manusia merubah atau merusak ekosistem tersebut, maka akan membawa efek yang berantai, sepanjang rantai kehidupan yang sudah tercipta selama ini.

Kegiatan dan aktivitas manusia yang mengakibatkan kerusakan alam di darat adalah seperti misalnya membakar hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, menggali bumi untuk dijadikan lahan pertambangan atau mengeruk tanah dan pasir di bukit-bukit. Ekosistem alam di hutan dan gunung akan menjadi rusak. Keseimbangan yang telah dibangun selama 4,5 milyar tahun lamanya akan berubah dan membawa efek mulai dari datangnya penyakit yang tidak diduga sebelumya, iklim cuaca yang ekstrim atau bencana alam lainnya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS 30:41)

Guru kita mengatakan, bahwa tugas manusia sebagai khalifah Allah itu semestinya adalah melindungi dan memelihara alam lingkungan. Mengolah alam lingkungan secara bijaksana dan seimbang, bukan malahan merubah dan merusaknya.

Merubah alam lingkungan biasanya selalu membawa dampak kerusakan. Seperti di selatan Jakarta saat ini ada gunung Salak. Maka apabila misalnya saja terjadi bahwa kemudian manusia merubahnya dengan mengeruk tanahnya hingga rata, maka sudah pasti akan membawa dampak yang tidak terduga. Karena keberadaan gunung Salak merupakan hasil keseimbangan alam yang berproses sejak 4,5 milyar tahun lamanya, sehingga apabila kemudian hilang, maka akan berakibat pada perubahan iklim cuaca, perubahan arah aliran air hujan, dan bisa mengakibatkan datangnya wabah penyakit yang tak terduga.

Contoh lainnya adalah pada kasus reklamasi pantai. Reklamasi pantai yang pada dasarnya adalah bertujuan untuk melindungi bibir pantai dari abrasi karena pengikisan air laut adalah sesuatu yang baik. Tidak akan membawa dampak berupa kerusakan alam. Akan tetapi apabila yang dimaksud reklamasi adalah mengurug laut untuk dijadikan daratan, maka hal ini termasuk merubah bentang alam. Ekosistem laut yang tercipta oleh hasil keseimbangan alam selama 4,5 milyar tahun lamanya akan berubah. Milyaran mahluk hidup yang semula menghuni laut tersebut menjadi hilang. Maka menurut guru kita, hal ini sudah pasti akan mengakibatkan dampak yang merusak yang tidak terduga sebelumnya.

Membangun gedung dan taman-taman yang indah di atas tanah hasil urugan laut tersebut belum tentu lebih baik dibandingkan dengan membiarkan tempat tadi tetap menjadi laut. Karena terbukti selama 4,5 milyar tahun lamanya, membiarkan tempat tersebut menjadi laut tidak membawa dampak negatif bagi manusia, malahan sebaliknya. Kemudian kita merubahnya menjadi ekosistem daratan, sudahkah kita mengujinya selama 4,5 milyar tahun lamanya? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 14.42