Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 04 November 2017

Stop Upaya Komersialisasi Islam

Pada suatu malam pengjian, guru kita mengeluhkan upaya beberapa orang pengusaha yang saat ini terkesan telah meng-komersialisasi Islam. Saat ini banyak sekali berdiri sekolah-sekolah Islam yang tidak murah, malahan biayanya jauh lebih mahal dibandingkan dengan sekolah lain pada umumnya. Hal ini terkesan telah meng-komersialisasikan Islam.

Mulai dari Taman Al-Quran, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam hingga Universitas Islam, yang seharusnya mereka itu menarik biaya pendidikan yang murah atau gratis, akan tetapi kenyataannya malahan lebih mahal dibandingkan dengan sekolah negeri.

Tidak hanya sekolah saja, begitu juga dengan bidang-bidang lainnya seperti usaha perjalanan umroh dan haji, beberapa rumah sakit dan pelayanan kesehatan atau bisnis seperti rumah hewan Qurban juga terkesan terlalu mencari keuntungan. Toko-toko dan butik-butik pakaian Islami muncul dengan harga yang fantastis.

Sehingga akibatnya saat ini Islam telah menjadi barang komoditi bisnis. Di radio-radio dan televisi muncul beberapa penceramah yang lebih mirip selebriti dibandingkan dengan ulama yang sejati. Mereka mengemas ajaran Islam menjadi seperti bagian dari budaya pop. Asalkan layak jual, tema ceramahnya banyak digemari oleh kebanyakan orang, maka acaranya akan ditayangkan di banyak televisi untuk mendongkrak rating penonton.

Bahkan pada saat ini telah muncul suatu fenomena baru bahwa Islam menjadi sekedar brand atau merk semata. Muncul produk-produk baru seperti kosmetik Islam, obat herbal Islam, sistem pengobatan Islam, sabun dan odol Islam, shampo Islam, parfum dan pakaian Islam, radio dan televisi Islam, sampai kepada produk makanan Islam.

Dalam hal ini, guru kita mengeluhkan kondisi semacam ini. Islam tidak semestinya dikomersialisasi untuk tujuan bisnis, karena dari seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang pernah diutus Allah swt tidak ada satupun dari mereka yang memberikan contoh bahwa agama Allah bisa dijadikan sebagai lahan bisnis. Ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw itu adalah menjunjung tinggi nilai-nilai keikhlasan dan pengorbanan, bukan sekedar untuk mengeruk keuntungan usaha.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ
“Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada.” (QS 38:86)

Sebenarnya sangat memungkinkan bagi Rasulullah saw saat itu untuk berpikiran kreatif. Usaha dagang yang pernah digelutinya bersama istri beliau Khadijah ra sudah tutup karena modalnya sudah habis dipergunakan untuk perjuangan beliau. Maka apabila kemudian beliau, yang saat itu menjadi penguasa di Madinah dan juga di Mekkah, bisa saja beliau kemudian memungut uang sumbangan untuk sekedar keperluan beliau, atau mendirikan usaha dengan memberi label demi untuk perjuangan Islam.

Akan tetapi ternyata itu semua tidak beliau lakukan. Pikiran-pikiran kreatif tersebut di atas itulah yang dimaksud dengan mengada-ada dalam ayat tadi. Dan semasa hidupnya beliau tidak pernah memanfaatkan label Islam demi untuk keperluan usaha, meskipun tujuannya adalah untuk perjuangan atau pun syiar Islam.

Di dalam hal berusaha, Islam mengajarkan kesederhanaan dan mencela sikap rakus dalam hal mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena berawal dari sikap rakus seperti itulah maka kemudian seseorang rela untuk mempergunakan Islam demi untuk mendatangkan keuntungan duniawi. Sebagaimana sikap orang-orang fasiq dahulu yang hidup pada zaman Rasulullah saw.

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS 9:9)

Jadi, Islam bukanlah merupakan barang komoditi atau pun merk bagi sesuatu produk. Karena nilai-nilai Islam bukanlah sesuatu yang seharusnya dikandung oleh suatu barang produksi, akan tetapi nilai-nilai Islam adalah sesuatu yang seharusnya tertanam di dalam diri orang-orang Islam. Nilai-nilai seperti kejujuran, keterbukaan, keadilan dan keunggulan adalah nilai-nilai ajaran Islam yang harus tertanam di dalam diri pengusaha muslim, bukan pada produknya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 18.02