Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 05 November 2017

Menemukan Ulama Sejati

Berikut ini adalah tulisan pertama dari dua tulisan tentang ulama sejati. Tulisan ini adalah hasil dari diskusi dengan guru kita di suatu malam pengajian.

Mungkin hanya dalam agama Islam saja, organisasi tentang ulama tidak begitu ketat sebagaimana organisasi di agama-agama lainnya. Di dalam organisasi agama Islam, siapa pun boleh menyandang gelar ulama. Tidak ada badan atau pun suatu komite yang akan menyaring dan menetapkan gelar ulama pada seseorang. Pokoknya asalkan seseorang bisa berceramah dan memiliki jamaah maka orang tersebut boleh menyandang gelar ulama.

Hal seperti ini lah yang kemudian dimanfaatkan oleh Snouck Hurgronje pada zaman kolonial Belanda dahulu. Setelah tinggal beberapa lama di Arab Saudi, Snouck Hurgronje kemudian datang ke Indonesia dan menyamar sebagai ulama dengan nama Haji Abdul Ghafar. Dengan bahasa Arab yang fasih dan hafalan tentang ayat-ayat al-Quran serta hadits yang memadai, dia kemudian dikirim ke Aceh dengan maksud untuk memecah belah umat Islam dan mempelajari struktur kekuatan perlawanan masyarakat Aceh terhadap kolianilisme Belanda.

Nah, ternyata kelemahan sistem pengangkatan ulama ini masih dapat kita rasakan sampai dengan hari ini. Dalam hal pengangkatan ulama, tidak banyak perubahan yang terjadi semenjak zaman kolonial Belanda dahulu, masih seperti itu juga.

Akibatnya sampai dengan hari ini kita masih melihat banyak sekali ulama-ulama palsu bermunculan. Ada diantara ulama palsu tersebut yang mengaku menjadi nabi atau rasul. Ada juga yang mengajarkan ajaran sesat. Ada yang mengajarkan ajaran radikal dan mendorong pengikutnya untuk menjadi teroris. Ada juga yang mencampur ajaran Islam dengan klenik, yaitu membolehkan kerja sama dengan mahluk halus seperti jin dan khodam. Namun yang paling banyak terjadi adalah ulama selebriti, yaitu ulama yang tidak jauh berbeda dengan profesi artis. Memasang tarif yang mahal untuk sekali ceramah, sebagaimana artis memasang tarif untuk sekali pentas. Padahal di dalam al-Quran dikisahkan bahwa tidak ada satupun dari Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah yang menerima upah saat berdakwah.

Kondisi saat ini bertambah parah dengan munculnya semangat dari dalil hadits: “Sampaikanlah yang datang dariku walaupun hanya satu ayat.” Semua orang walaupun tidak memiliki pemahaman dan ilmu yang mencukupi saat ini sudah merasa cukup untuk bisa menjadi ulama. Ya, semangatnya adalah asalkan mengerti satu ayat saja sebagaimana dalill hadits tadi.

Padahal maksud dan konteks dari hadits Rasulullah saw tersebut adalah bukan dengan maksud mendorong seseorang yang hanya mengerti satu ayat saja, maka kemudian dia boleh berceramah dan menjadi ustadz. Coba bayangkan apa jadinya apabila ada seseorang yang hanya mengerti satu ayat al-Quran berikut ini saja kemudian dia berceramah kemana-mana dan mengaku menjadi ustadz.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS 9:123)

Seandainya seseorang yang hanya mengerti satu ayat ini saja, kemudian dia menyampaikan kemana-mana dan berceramah selayaknya ustadz, maka sudah pasti dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Kerusuhan dan peperangan merajalela dimana-mana. Begitulah mungkin yang terjadi di negara-negara timur tengah, oleh karena setiap orang boleh menjadi ulama, meskipun hanya mengerti satu ayat saja, maka akibatnya adalah peperangan dan konflik terjadi dimana-mana.

Dengan demikian kita, umat Islam yang ada di Indonesia, marilah kita mempergunakan akal kita dengan baik dan bijak. Carilah ilmu agama itu dari ulama yang sejati, bukan ulama yang palsu. Agar kita tidak terjerumus kedalam ajaran yang sesat, dan ajaran yang keliru.

Ulama yang sejati itu ialah seseorang yang sudah mengenal baik dirinya sendiri, mampu mengendalikan hawa nafsu pribadinya. Ulama sejati itu adalah seseorang yang sudah mengenal Tuhannya, bukan saja sebatas teori belaka, tetapi memang benar-benar mengenal Tuhannya dalam praktek kehidupan sehari-harinya. Ulama sejati itu juga mengenal siapa kawan dan siapa lawan atau musuhnya.

Sedangkan ulama palsu adalah dia yang sebenarnya belum mengenal diri pribadinya sendiri, serta tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Tidak bisa membedakan di dalam dirinya, mana bisikan syaithan dan mana petunjuk Allah swt. Hatinya tidak peka terhadap petunjuk Allah dan tanda-tanda alam. Padahal hewan sekali pun hatinya lebih peka terhadap tanda-tanda alam, sehingga mengerti apa yang bakalan terjadi pada alam.

Ulama palsu ialah dia yang tidak mengenal Tuhannya, kecuali sebatas teori dari dalil-dalil yang dia pelajari dalam kitab al-Quran dan Hadits saja. Mengira bahwa dengan memahami dalil al-Quran dan Hadits kemudian dia sudah mengenal Allah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Seseorang yang hanya membaca profil anda di sosial media, apakah berarti dia sudah mengenal anda?

Pada zaman Rasulullah saw dahulu ada seseorang (Nadhar bin Harits) yang mempergunakan syair dan nyanyian dalam rangka untuk mengiringi orang-orang yang masuk Islam. Ini adalah salah dan keliru, maka kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut ini.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS 31:6)

Itulah sebabnya pada hari ini guru kita sering mengeluhkan upaya beberapa orang ustadz yang mempergunakan syair dan nyanyian dalam Sholawat.

Ulama palsu adalah dia yang apabila anda bertanya: siapakah musuh kita? Maka dia akan menjawab bahwa musuh kita itu adalah orang kafir, orang Nasrani dan Yahudi. Padahal al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa musuh kita yang nyata itu adalah syaithan. Ulama palsu itu tidak begitu mengenal syaithan, kecuali hanya sebatas teori yang dipelajarinya melalui dalil dan kitab-kitab. Sehingga karena tidak begitu mengerti dan mengenal syaithan, maka kemudian syaithan itu dianggap sebagai mahluk abstrak saja. Sesuatu yang tidak nyata dan tidak memegang peranan apa-apa dalam pergolakan hidup manusia.

Akibatnya ulama palsu tersebut tidak tahu harus berbuat apa untuk melawan musuh utamanya, yaitu syaithan. Karena tidak tahu harus berbuat apa, maka akibatnya banyak para ulama dan ustadz yang tanpa disadarinya telah menjadi kawan atau pun kaki tangan dari syaithan. Ada ulama yang mengaku menjadi nabi atau rasul, ada juga yang mengajarkan ajaran sesat, dan ada pula yang kemudian mengajarkan ajaran radikal dan menganjurkan pengikutnya menjadi teroris. Membuat kerusakan, menebar ketakutan dan rasa was-was serta menganjurkan permusuhan dan kebencian.

Pada hari ini, di tengah-tengah maraknya ulama-ulama palsu dan kebingungan umat Islam tentang aliran ajaran agamanya, ulama sejati itu masih ada meskipun jumlahnya sedikit sekali. Bagaikan sekuntum bunga yang indah dan harum semerbak wanginya, ulama sejati itu masih ada. Ada di pelosok-pelosok terpencil bumi Nusantara, bahkan di tempat-tempat sepi. Keberadaan mereka itulah yang tercatat dan diperhitungkan oleh para penduduk langit. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.02