Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 06 November 2017

Mencari Guru Sejati

Sesuai dengan hadits Nabi, umat Islam diperintahkan untuk menuntut ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahat. Artinya menuntut ilmu itu adalah wajib hukumnya dan waktunya adalah seumur hidup kita.

Diantara ilmu yang wajib harus kita tuntut adalah ilmu Tauhid, yaitu ilmu yang paling mendasar yang akan membawa kita kepada jalan keselamatan. Mengapa ilmu Tauhid? Karena ilmu Tauhid adalah ilmu yang mengajarkan kepada manusia untuk mengenal dirinya sendiri, kemudian mengenal Tuhannya. Tanpa mengenal Tuhannya, maka manusia akan mudah tersesat di dalam belantara kehidupan dunia ini.

Dalam hal menuntut ilmu, maka kita membutuhkan bimbingan dan pengajaran dari seorang guru yang dia bertanggung jawab penuh atas murid-muridnya. Jadi bukan dari ustadz atau penceramah, karena mereka itu tidak bertanggung jawab terhadap para pendengarnya. Apakah pendengarnya itu mengerti atau tidak, betul pemahamannya atau kah keliru, semua itu di luar tanggung jawab dari ustadz atau penceramah.

Seorang ulama sejati, maka dia bukan hanya bersedia menjadi penceramah melainkan juga menjadi guru bagi murid-muridnya. Karena memberikan pengajaran dan pendidikan itu jauh lebih luas dibandingkan dengan sekedar berceramah. Kalau anda merasa cukup puas hanya dengan mendengarkan ceramah-ceramah saja, maka dapat dipastikan bahwa perkembangan ilmu anda tidak akan memiliki banyak kemajuan berarti. Sehingga dengan demikian, kalau untuk meningkatkan ilmu maka dibutuhkan guru.

Siapakah Guru Sejati itu? Guru yang paling Sejati itu ialah Allah Yang Mengajarkan manusia sesuatu yang tidak diketahuinya.

عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS 96:5)

Seorang guru memiliki kewajiban untuk bisa menunjukan dan mengantarkan murid-muridnya sehingga bisa merasakan dan memahami pengajaran dari Guru Sejati, yaitu Allah swt melalui perantaraan Kalam. Guru dengan kualitas seperti ini hanya terdapat pada diri seorang ulama sejati.

Siapakah Ulama sejati itu? Ulama sejati itu ialah seseorang yang benar-benar bertakwa kepada Allah swt karena benar-benar merasa takut. Bukan takut yang dibuat-buat, atau takut yang dipahami secara teori belaka, melainkan benar-benar merasa takut karena mengenal Allah swt.

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS 35:28)

Dari sekian banyak mahluk Allah seperti manusia dan hewan, maka hanya ada satu jenis mahluk saja yang benar-benar takut kepada Allah, yaitu ulama. Bukti dari rasa takut itu kemudian diwujudkannya dengan senantiasa mengingat Allah swt di setiap waktu, dan sekaligus senantiasa memohon ampun kepada Allah swt.

Bukti dari rasa takut kepada Allah tersebut juga diwujudkan dalam tutur katanya yang sopan dan merendah di hadapan Allah swt. Tidak pernah mempergunakan kata ‘Aku’, melainkan kata seperti ‘HambaMu’. Jadi bukannya berkata: ‘Aku Bersaksi bahwasanya tiada Tuhan Selain Allah”, melainkan dia berkata: ‘HambaMu bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah.” Hal ini adalah salah satu contoh dari perwujudan sikap rasa takut kepada Allah swt.

Coba bandingkan dengan ulama-ulama palsu yang ada saat ini. Mereka itu tidak pernah menunjukan sikap takut kepada Allah. Tatkala memimpin doa di mimbar, mereka berteriak-teriak. Mempergunakan kata ‘Aku’ untuk dirinya sendiri dan kata ‘Engkau’ untuk Allah swt. Sungguh sesuatu yang kurang sopan dan tidak pantas diucapkan oleh seorang Hamba di hadapan Tuhannya. Mereka itu sedikit sekali mengingat Allah dan sedikit sekali memohon ampun. Dikiranya membaca doa dan memohon ampun satu kali saja sehabis sholat itu sudah cukup. Ulama yang seperti ini tidak akan dapat menghantarkan anda kepada Guru Yang Sejati.

Oleh sebab itu, buat anda yang belum menemukan seorang guru, marilah kita mulai mencari guru buat diri kita, yang bisa membimbing dan mengantarkan kita menuju Guru Yang Sejati. Tidak mudah memang, tetapi juga tidak mustahil. Kalau kita bersungguh-sungguh pasti akhirnya kita akan dapat bertemu juga.

Mencari seorang guru demi mendapatkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya merupakan suatu himbauan semata, akan tetapi ini adalah suatu perintah dari Allah swt. Jadi hukumnya wajib bagi orang yang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihad-lah (bersungguh-sungguh) pada jalan-Nya, supaya kalian mendapat keberuntungan.” (QS 5:35)

Pada hari ini sudah tidak ada lagi Nabi dan Rasul Allah, maka yang tersisa adalah ulama yang mewarisi ilmu para Nabi dan Rasul Allah tersebut. Maka bagi anda yang belum bertemu, carilah ulama yang seperti itu sampai dapat. Sebelum ajal datang dan kita masih dalam keadaan belum siap. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.32