Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 11 November 2017

Menjaga Kehidupan Toleransi

Begitu ajaran agama Islam diperkenalkan oleh Rasulullah saw dahulu kepada penduduk Mekah, maka mereka menolaknya dan memilih untuk tidak beriman. Bahkan pada saat itu mereka mengancam akan membunuh Nabi sekiranya meneruskan dakwah beliau. Hal ini membuat Nabi saw kecewa dan bersedih hati, karena penduduk Mekah tidak beriman. Kesedihan yang mendalam ini membuat Nabi saw frustasi dan kemudian kejadian ini dicatat di dalam al-Quran seperti berikut ini.

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka (Penduduk Mekkah) tidak beriman.” (QS 26:3)

Apabila ayat-ayat dalam al-Quran bersifat abadi dan tidak lekang dimakan waktu, maka sungguh memprihatinkan apabila sampai dengan hari ini, kebanyakan dari penduduk kota Mekah tidak beriman.

Dalam sejarah perjalanan penyebaran agama Islam, terbukti bahwa penduduk Arab adalah merupakan bangsa yang tidak mengenal toleransi. Hal ini terbukti bahwa dalam kurun waktu 10 tahun semenjak Rasulullah saw hijrah ke kota Madinah, ada sekitar 27 peperangan harus dilakukan demi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama Islam. Bangsa Arab memang benar-benar masyarakat yang gemar memaksa dan mengatur keyakinan dan agama seseorang.

Adapun ajaran Islam yang kemudian dibawa oleh para pedagang dari timur tengah hingga sampai ke Asia Tenggara, maka ajaran tersebut diterima oleh masyarakat timur dengan tangan terbuka. Tidak ada satu pun perang pernah terjadi karena masuknya ajaran agama yang baru. Di bumi Nusantara ini, ajaran Islam diterima oleh masyarakatnya dan agama ini hidup berdampingan dengan ajaran agama-agama lainnya yang sudah ada sebelumnya yaitu agama Hindu dan Budha. Ketiga agama tersebut hidup berdampingan dengan harmonis tanpa adanya pertikaian. Demikian juga ajaran agama Nasrani yang datang kemudian dibawa oleh bangsa Eropa, juga diterima oleh masyarakat Indonesia, tanpa adanya pertikaian dan kekerasan.

Kehidupan toleransi seperti itu ternyata tidak hanya ada di Indonesia, di negara-negara timur lainnya juga ada kehidupan toleransi seperti itu. Seperti halnya di Thailand, Kamboja atau China, ajaran agama Budha, Konghucu dan Tao hidup secara harmoni berdampingan.

Khususnya seperti di Indonesia ini, sebenarnya apa yang membuat kehidupan bertoleransi ada dan bisa bertahan hingga saat ini? Ternyata dasarnya adalah ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, sila pertama dari dasar negara kita. Dengan berdasarkan kepada Ketuhanan, maka Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang berdasarkan Tauhid, berdasarkan Ketuhanan, yang menjamin kelangsungan kehidupan toleransi beragama. Bukan berdasarkan syariat agama tertentu.

Negara-negara lain, seperti misalnya sebagian negara-negara di Eropa pada zaman sebelum Renaissance atau negara-negara di Timur Tengah yang mendasarkan negaranya pada syariat agama tertentu, maka kita melihat bagaimana mudahnya timbul pergolakan dan sikap intoleransi. Kekerasan dan pertikaian kerap sekali terjadi.

Ketika orang-orang dan pasukan ISIS datang untuk menduduki sebagian wilayah Syria dan Irak, maka mereka para pendatang itu menerapkan syariat Islam secara radikal dan keras. Tidak ada sikap toleransi kepada penduduk asli. Mereka orang-orang pendukung ISIS tersebut seperti layaknya penjajah dari negara lain yang datang menduduki wilayah suatu negara dan kemudian menjajah penduduknya dengan penerapan syariat Islam yang tidak toleran.

Apabila pada hari ini kita mau memperhatikan keadaan negara-negara di seluruh dunia, dimana toleransi dan kebebasan beragama dijunjung tinggi, maka hanya ada dua tipe negara yang menerapkannya. Satu adalah negara-negara sekuler yang sama sekali tidak mengatur urusan agama dan keyakinan penduduknya, dan satunya lagi adalah Indonesia, negeri yang mendasarkan diri pada Ketuhanan dan bukan pada syariat agama tertentu.

Kehidupan toleransi beragama di negeri ini adalah sangat unik, satu-satunya di dunia bahwa kehidupan toleransi bisa dibangun di atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Para delegasi dan pemimpin-pemimpin dunia lain yang pernah berkunjung ke Indonesia, mereka semua mengakui fakta ini sekaligus memuji kehidupan toleransi di Indonesia.

Kita, sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur atas Berkah dan Rahmat Allah ini. Dengan kehidupan toleransi, negeri ini berada dalam kondisi yang damai, aman dan sentausa. Coba anda bandingkan dengan negeri-negeri lainnya, seperti misalnya Kashmir: antara penduduk Muslim dan Hindu kerap terjadi pertikaian dan kerusuhan sosial. Menurut catatan PBB sejak tahun 1989 jumlah korban tewas akibat kekerasan di Kashmir adalah lebih dari 47 ribu orang. Di Irak pernah terjadi pertikaian dan peperangan antara Sunni dan Syiah. Di Srebrenica 8 ribu umat Islam tewas dibantai tentara Serbia dalam waktu 5 hari. Di Irak baru-baru ini ditemukan sekitar 72 kuburan massal korban kekejaman ISIS yang berisi sekitar 15 ribu jasad umat Islam. Jadi ternyata ISIS itu dua kali lebih brutal dan lebih kejam dibandingkan dengan pasukan Serbia sat membanti umat Islam di tahun 1995.

Begitulah akibat buruk dari sikap intoleransi, sehingga pertikaian dan permusuhan akan mudah tersulut. Oleh sebab itu maka guru kita mengingatkan pentingnya menjaga kehidupan bertoleransi ini. Menjaga kehidupan bangsa di atas Ketuhanan Yang Maha Esa, di atas pondasi Tauhid.

Terutama karena pada hari-hari belakangan ini, guru mencemaskan sikap sebagian dari masyarakat Indonesia yang sudah terpengaruh oleh pemikiran dan paham intoleran dari Timur Tengah. Suatu pandangan baru yang sangat gemar untuk mengkafirkan orang lain. Menyebarkan sikap intoleran dan kaku terhadap non-muslim. Melarang umat Islam untuk mengucapkan selamat kepada non-muslim. Menyebarkan fitnah dan berita bohong terhadap orang-orang non-pribumi. Menganjurkan peperangan di dunia maya (cyber war) dengan mengancam dan mengintimidasi orang lain. Melakukan razia sepihak di mall-mall dan pusat perbelanjaan saat menjelang hari raya umat Nasrani. Bahkan sampai kepada tindakan represif dan anarkis seperti membubarkan acara keagamaan non-muslim dan membakar gereja yang tengah dibangun.

Melihat gejala yang tidak baik seperti itu, maka perlu kiranya kita merencanakan suatu gerakan nasional yaitu gerakan anti radikalisme dan kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran Tauhid yang penuh dengan sikap toleran dan menjunjung tinggi kerukunan dan perdamaian. Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw adalah ajaran yang toleran, tidak memaksakan agama.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ
اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

Sedari awal, Allah dan RasulNya telah mentakdirkan bahwa tidak semua manusia di dunia ini akan mengimani ajaran Islam dan percaya kepada al-Quran. Untuk itu maka Allah swt melarang kita untuk memaksakan ajaran agama Islam kepada orang lain. Tidak boleh memaksa umat agama lainnya untuk menerima syariat Islam.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS 10:99)

Sekitar 500 tahun yang lalu, banyak sekali wali Allah yang pindah dan bermigrasi ke Indonesia. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiba-tiba ada banyak sekali wali Allah hidup di negeri ini. Belum pernah ada begitu banyak wali Allah hidup di negeri lain sebagaimana di negeri ini, bahkan tidak juga di tanah Arab. Mengapa Nusantara? Kenapa di negeri ini? Bagi kita umat Islam yang hidup saat ini, boleh jadi hal tersebut adalah suatu pertanda bahwa suatu hari nanti, Islam yang murni akan lahir kembali dan berjaya di negeri ini, bukan di tanah asalnya. Mungkin saja. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.35