Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 13 November 2017

Toleransi Yang Kebablasan

Pada tulisan yang terdahulu, telah diuraikan bagaimana ajaran Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati sikap toleransi antar umat beragama. Tidak ada paksaan dalam hal beragama. Semuanya harus berdasarkan keikhlasan dan kesadaran, bukan atas dasar pengaruh intimidasi dan keterpaksaan.

Sebagaimana dahulu Rasulullah saw telah mencontohkan sikap toleransi ini, yaitu tatkala beliau menerima rombongan orang-orang delegasi Nasrani Najran dari wilayah Bizantium, beliau mempersilahkan mereka untuk melaksanakan ibadah di masjid Nabawi, karena memang pada saat itu di kota Madinah belum ada gereja. Semasa hidupnya, Muhammad saw juga pernah bersahabat dekat dengan beberapa orang Nasrani, seperti misalnya pendeta Bahira dan pendeta Nestor dari Bostra, Waraqah atau Raja Negus dari Abyssinia.

Dasar dari ajaran toleransi dalam Islam adalah tidak memaksakan pemahaman dan keyakinan kepada orang lain. Sebagaimana ayat al-Quran berikut ini.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِي

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:256)

Hal ini disebabkan karena memang Allah swt telah mentakdirkan bahwa tidak semua manusia yang hidup di dunia ini akan menjadi orang yang beriman semuanya, bahkan sebagian besar dari penduduk dunia adalah orang-orang yang tidak beriman. Begitulah kiranya yang menjadi Kehendak Allah swt.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS 10:99)

Kemudian, setelah menjalankan kehidupan yang penuh dengan toleransi, umat Islam juga diajarkan untuk mengenal batasan-batasannya, agar supaya tidak kebablasan. Batasan-batasan bertoleransi dalam ajaran Islam tersebut adalah sebagaimana yang tercantum dalam ayat-ayat al-Quran berikut ini.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS 109:6)

Dan juga ayat al-Quran yang berikut ini yang menyatakan bahwa tugas dari Nabi Muhammad saw dan juga orang-orang Islam hanyalah menyampaikan ajaran Islam saja. Selebihnya adalah kebebasan bagi orang lain untuk menerima ataukah menolaknya. Dan kemudian berlepas diri terhadap keyakinan dan perbuatan yang kita lakukan dan yang mereka lakukan. Tidak saling mencampuradukan atau saling mempengaruhi.

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS 10:41)

Mencampuradukan ajaran Islam dengan ajaran agama lainnya, termasuk juga saling memberi pengaruh, adalah suatu bentuk kebablasan dalam bertoleransi. Sesuatu yang dilarang dan menjurus pada kekeliruan. Berikut ini adalah beberapa contoh dari kasus mencampuradukan ajaran agama.

Mengadakan ceramah pengajian di dalam gereja dan diikuti oleh umat Nasrani dan umat Islam sekaligus adalah salah satu bentuk dari mencampuradukan ajaran agama. Menurut guru kita hal ini tidak dapat dibenarkan. Dalam situasi yang darurat, seperti misalnya belum tersedia bangunan gereja di suatu kota, maka diperbolehkan bagi umat Nasrani untuk meminjam tempat masjid untuk keperluan ibadah mereka, akan tetapi tidak boleh ada umat Islam yang ikut turut serta dalam ibadah tersebut. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku, begitulah batasannya. Berlepas diri dengan ajaran agama lain.

Contoh lainnya dari kasus mencampuradukan ajaran agama Islam sehingga mirip dengan ibadah agama Nasrani adalah menggubah ayat-ayat al-Quran menjadi syair dari sebuah lagu. Menurut guru kita hal ini tidak dapat dibenarkan, karena bentuk ibadah membaca al-Quran dalam ajaran Islam adalah sangat berbeda dengan bentuk ibadah agama Nasrani yang penuh dengan nyanyian. Demikian juga halnya dengan kasus menggubah sholawat menjadi syair bagi nyayian.

Hal-hal lainnya yang juga turut menjadi keprihatinan guru kita misalnya adalah pembina pondok pesantren di Indonesia, mengapa dijabat oleh non-muslim? Dan kemudian terakhir adalah kasus yang paling sering terjadi yaitu dalam hal kasus pelantikan pejabat yang beragama Islam, biasanya dilakukan dengan cara mengangkat al-Quran ke atas kepala. Hal seperti ini adalah bukan berasal dari ajaran Islam, karena belum pernah dipraktekan oleh Rasulullah saw dan para sahabat-sahabat beliau sesudahnya. Mengangkat kitab ke atas kepala dalam pelantikan jabatan adalah kebiasaan dari orang-orang Yahudi.

Demikianlah tulisan ini dimaksudkan untuk menjadi bahan kajian dan perenungan untuk menjaga agar diri kita tidak termasuk kedalam orang yang kebablasan dalam bertoleransi, yakni dengan mencampuradukan ajaran atau ibadah agama yang satu dengan yang lainnya. Adapun hal-hal lainnya seperti cara berpakaian, cara berpenampilan atau pun cara mengucapkan salam bukanlah termasuk hal-hal yang esensi yang bisa menjadikan seseorang kebablasan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.35