Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 14 November 2017

Agama Buatan Manusia Tidak Sah

Sungguh aneh-aneh saja manusia zaman sekarang, mereka membuat agama baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Bahkan ada yang konyol dan menggelikan, seperti misalnya saja ada beberapa orang di Inggris yang menjadikan sepak bola sebagai agama baru. Alasan mereka adalah karena dalam sepak bola hampir keseluruhan segi kehidupan manusia di dunia dapat dicerminkan di dalamnya. Seperti misalnya rasa sedih dan gembira, harapan dan keputus-asaan, gembira dan tangisan, semuanya ada di dalam stadion sepak bola. Bukan hanya itu saja, doa dan takdir keputusan wasit, cita-cita dan kenyataan peluang gol, ganjaran dan hukuman, nyanyian dan kostum kebanggaan, dan seterusnya hampir semua segi-segi kehidupan manusia ada di dalam lapangan sepak bola. Hmmm, ada-ada saja manusia zaman sekarang.

Selain itu, ternyata masih ada beberapa agama baru lainnya buatan manusia, seperti misalnya agama Rastafarianisme di Jamaika yang meyakini mantan kaisar Ethiopia, Haile Selassie I adalah tuhan yang berkuasa di dunia. Lalu di Jepang ada agama baru bernama Happy Science yang didirikan oleh Ryuho Okawa. Dan kemudian seorang mantan pembalap mobil dari Perancis bernama Claude Vorilhons juga mendirikan agama baru bernama Raelisme setelah dia mengaku diculik oleh alien. Di Indonesia sendiri kita mengenal kaum Eden yang dipelopori oleh Lia Eden yang mungkin dapat dikategorikan sebagai agama baru juga.

Nah, dari keseluruhan agama-agama baru tersebut, maka kita dapat menarik satu kesamaan yaitu bahwa mereka tidak mengenal dan mengakui Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga agama-agama baru buatan manusia tersebut tidak mempunyai kitab suci yang berisi firman-firman Tuhan. Oleh karena kedua hal tersebut itulah, maka menurut guru kita semua agama-agama baru tersebut tidak sah. Semua agama buatan manusia tersebut adalah tidak sah.

Agama-agama baru buatan manusia itu pada hakekatnya adalah mengada-ada, sebagaimana orang-orang dahulu menyembah berhala. Kelak nanti di akhirat, Allah swt akan menantang mereka untuk memanggil berhala-berhala buatan mereka sendiri untuk menyelamatkan mereka dari bahaya.

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
“Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya" (QS 17:56)

Kemudian selanjutnya, bagaimanakah kedudukan budaya di dalam ajaran agama, khususnya ajaran Islam? Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi budaya, sepanjang budaya tersebut tidak menzalimi manusia dan tidak mempersekutukan Allah swt. Misalnya saja budaya aqiqah, yaitu upacara selamatan ketika seorang bayi lahir. Budaya ini sudah ada di tanah Arab sebelum ajaran Islam ada. Hanya saja dalam upacara tersebut, asalnya adalah bayi yang baru lahir akan dimandikan dengan darah dari binatang korban.

Lalu setelah ajaran Islam lahir, maka oleh Rasulullah saw budaya aqiqah tersebut disempurnakan. Pemotongan hewan qurban seperti unta tetap diperbolehkan akan tetapi upacara memandikan bayi dengan darah hewan dihapus.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا
للَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS 22:37)

Demikianlah bagaimana ajaran Islam menyempurnakan budaya, agar supaya manusia hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan. Nilai-nilai budaya yang luhur dan tinggi serta membantu membangun peradaban masyarakatnya boleh dilestarikan. Adapun nilai-nilai budaya yang rendah, menyimpang dan berpotensi menghambat kemajuan peradaban masyarakat akan disempurnakan dan diganti dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Meskipun ajaran Islam menjunjung nilai-nilai budaya yang luhur, akan tetapi budaya itu sendiri bukanlah agama. Budaya tidak memiliki kitab suci, tidak ada nabi atau pun rasul yang menyampaikannya dan bukan merupakan hasil dari firman-firman Tuhan. Oleh sebab itu maka budaya bukanlah agama dan tidak bisa disejajarkan dengan agama.

Aliran Kepercayaan dalam masyarakat Jawa adalah hasil dan produk dari budaya Jawa. Oleh sebab itu aliran Kepercayaan tidak boleh dimasukan sebagai salah satu agama, atau dikategorikan sejajar dengan agama. Karena aliran ini tidak memenuhi persyaratan untuk dikategorikan sebagai agama, dan merupakan produk buatan manusia.

Upaya untuk memasukan aliran kepercayaan menjadi kategori yang sama dengan agama akan menimbulkan kebingungan dan keresahan di dalam masyarakat kita. Sama halnya juga dengan upaya untuk memasukan agama-agama baru buatan manusia tadi ke negeri kita, tentu saja hal ini akan menimbulkan kegelisahan sosial dan friksi terhadap tatanan sosial masyarakat yang sudah tertata rapi.

Demikian juga halnya dengan kehidupan berbangsa negeri kita yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka akan terjadi kebingungan apabila kemudian kita memasukan paham lainnya seperti misalnya ateisme atau paham agama-agama baru buatan manusia tadi. Hal ini sudah barang tentu akan mengakibatkan ketidaknyamanan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat dan bangsa kita.

Jadi, sekali lagi, bahwa apa yang sudah dirumuskan oleh para pendahulu dan pendiri negeri ini ternyata sudah pas dan sudah paling tepat bagi keutuhan dan keharmonisan bangsa. Merubahnya dan menambahnya dengan paham-paham baru atau agama baru yang tidak sejalan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa akan mengakibatkan kegelisahan sosial dan mengganggu kedamaian masyarakat negeri ini. Demikianlah kira-kira isi dari pesan guru kita agar supaya bangsa ini menjadi bangsa yang selamat dan sejahtera karena beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.47