Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 15 November 2017

Kisah Tentang Dua Mazhab

Guru kita sering kali mengatakan, bahwa pada zaman dahulu orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi telah mempertuhankan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. Hal ini disebabkan karena orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi semuanya mereka itu berpegang pada pendapat dan penafsiran para pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. Bukan berpegang teguh kepada Tali Petunjuk Allah Yang Kuat.

Akibatnya adalah mereka itu lepas dari jalan Tauhid dan tersesat di dalam penafsiran dan pemahaman para pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. Oleh sebab kenyataan yang seperti ini, maka kemudian Allah swt memvonis bahwa ketersesatan mereka itu dan sekaligus para ahli-ahli kitab dari kalangan pendeta dan rahib mereka sebagai orang kafir. Yaitu orang-orang yang membungkus diri mereka dari Petunjuk Allah dengan mempergunakan penafsiran dan pemahaman para ahli kitab. Mereka telah mempertuhankan para ulama dan rahib mereka.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS 9:31)

Guru kita kemudian memperingatkan bahwa hal yang sama seperti nasib orang-orang Nasrani dan Yahudi tersebut bisa juga terjadi pada orang-orang Islam. Coba anda perhatikan sendiri sikap sebagian dari para ulama kita dan kondisi umat Islam saat ini. Mereka semua berpendapat bahwa agama Islam adalah agama yang berdasarkan dalil.

Padahal dalil itu sendiri adalah berdasarkan penafsiran dan pemahaman dari beberapa ulama terhadap firman Allah atau pun sabda Nabi saw. Apakah penafsiran mereka terhadap ayat al-Quran atau hadits Nabi sudah benar? Jawabannya adalah belum tentu. Tidak ada jaminan dari Allah bahwa penafsiran tersebut adalah benar.

Mungkin ilustrasi berikut ini dapat dijadikan gambaran bagaimana sebenarnya pertentangan antara dua mazhab, yaitu mazhab yang mendasarkan diri pada Petunjuk Allah dan mazhab yang mendasarkan diri pada penafsiran terhadap dalil.

Begini permisalan kasusnya. Misalkan saja di suatu daerah tertentu ada dua orang pengembara yang mendatangi suatu wilayah. Lalu dilihatnya di wilayah tersebut ada seorang anak kecil yang nakal. Kemudian tanpa rasa belas kasihan, salah seorang dari pengembara tersebut membunuh anak kecil tadi. Nah, berdasarkan fakta ini maka ulama-ulama di wilayah tersebut kemudian berkumpul dan menjatuhkan vonis bersalah kepada pengembara yang melakukan pembunuhan tadi. Dalil-dalil dan dasar yang diambil oleh para ulama tadi adalah berdasarkan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Quran dan Hadits.

Kemudian kita lanjutkan lagi dengan contoh kasus berikutnya. Misalkan saja di wilayah tadi hidup sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, istri dan seorang anak. Tanpa ada sesuatu sebab yang jelas, tiba-tiba saja sang ayah mengutarakan niatnya ingin membunuh anaknya sendiri. Alasannya adalah karena dia bermimpi, dan dalam mimpinya itu dia diperintahkan untuk membunuh anaknya. Atas peristiwa ini kemudian ulama-ulama di wilayah tersebut sekali lagi dipanggil, lalu dimintai pendapatnya. Oleh ulama-ulama tadi kemudian sang ayah dijatuhi hukuman bersalah, karena berdasarkan dalil-dalil al-Quran dan Hadits yang mereka pahami, seseorang tidak boleh membunuh anaknya hanya berdasarkan perintah dari dalam mimpi.

Saudara-saudaku, tentu saja sebagian besar dari umat Islam saat ini juga akan membenarkan keputusan ulama tadi. Bukankah begitu? Inilah mazhab pertama, mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Islam saat ini, yaitu mazhab yang mendasarkan diri pada penafsiran dan pemahaman terhadap dalil al-Quran dan Hadits.

Adapun mazhab yang kedua tidak begitu. Mazhab yang kedua adalah mazhab yang mendasarkan diri pada Petunjuk Allah. Melihat dua kasus di atas tadi, mereka yang tergolong dalam mazhab kedua kemudian mereka itu mendekatkan diri kepada Allah swt seraya memohon petunjuk agar terhindar dari kesalahan dan kekeliruan. Maka kemudian Allah swt memberikan PetunjukNya kepada orang-orang yang gemar berzikir mengingat dan mendekatkan diri kepadaNya.

Allah swt memberikan petunjuk kepada mereka, bahwa pada kasus pertama tadi, dua orang pengembara tersebut adalah Nabi Musa as dan Nabi Khidir as. Allah memerintahkan yang demikian itu kepada Nabi Khidir as untuk membunuh anak kecil yang nakal tadi agar supaya tidak menjadi mala petaka bagi kedua orang tuannya yang sholeh, dan Allah akan menggantinya dengan anak yang lebih baik. Adapun pada kasus kedua tadi, sang ayah adalah Nabi Ibrahim as yang memang diperintahkan Allah untuk menyembelih puteranya Ismail melalui mimpi.

Begitulah gambaran perbedaan kedua mazhab tadi. Maka dengan Petunjuk Allah tersebut, maka para ulama dan orang-orang yang mengikuti mazhab kedua akan membenarkan apa-apa yang dilakukan oleh pengembara dan sang ayah tadi. Karena itu semua adalah Perintah dan Kehendak Allah swt.

Mereka yang tergolong dalam mazhab kedua ini disebut sebagai orang-orang Islam yang ber-Tauhid, yaitu mereka yang gemar berzikir mengingat Allah dan senantiasa memohon Petunjuk dan Pertolongan dari Allah swt. Adapun mazhab yang pertama tadi adalah orang-orang Islam yang belum ber-Tauhid, karena mereka hanya mendasarkan diri pada pemahaman dan penafsiran mereka terhadap dalil.

Mereka dari golongan mazhab yang pertama tadi berpendapat bahwa Rasulullah saw itu sudah meninggal, sudah tidak ada sehingga tidak bisa lagi memberikan petunjuk dan pertolongan. Dan mereka juga beranggapan bahwa al-Quran dan Hadits sudah lengkap dan sudah sempurna, maka sudah tidak diperlukan lagi Petunjuk dan Bimbingan Allah swt lebih lanjut. Tuhan boleh tidur saat ini, karena fungsiNya sudah selesai. Di sinilah letak kekeliruannya.

Demikianlah penggambaran dari kedua kasus tadi, dengan maksud untuk menjelaskan arti dari ber-Tauhid yang sesungguhnya, sekaligus untuk menghindarkan umat Islam saat ini bernasib sama dengan umat-umat terdahulu, umat Yahudi dan Nasrani. Jangan sampai umat Islam saat ini mempertuhankan ulama, sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani dahulu mempertuhankan ahli kitab mereka.

Senantiasa berzikir mengingat Allah, memohon Bimbingan dan Petunjuk Allah, itulah jalan yang lurus. Hal itu pulalah yang terkandung dalam makna Syahadat yang sering diucapkan oleh umat Islam, akan tetapi kebanyakan orang tidak memahami maknanya.

Silahkan anda buka kembali artikel utama kami tentang makna kandungan Syahadat. Sehingga dengan demikian kita semua senantiasa berada di jalan yang lurus, yang tidak mungkin dapat disesatkan lagi oleh musuh kita, syaithan dan iblis, sepanjang kita berpegang teguh pada Petunjuk Allah swt. Mudah-mudahan kita semua selamat melewati ujian hidup di dunia. Selamat mencapai tujuannya, menjadi orang yang selamat (orang Islam). (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.27