Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 18 November 2017

Lagu dan Nyanyian Membuat Terlena

Baru-baru ini kita mendapati dalam salah satu sosial media, ada sekelompok pemusik orkestra yang mengiringi pembacaan al-Quran dengan cara menyanyikannya dalam musik seriosa. Mendapati hal ini, guru kita merasa sangat prihatin. Karena membaca al-Quran adalah termasuk di dalam ibadah khusus, yang tata cara dan pelaksanaannya telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dahulu.

Berikut ini adalah perintah Allah swt di dalam al-Quran yang memberikan tuntunan yang jelas kepada kaum muslimin dalam hal membaca al-Quran.

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS 73:2-4)

Menggubah ayat-ayat al-Quran menjadi syair-syair bagi nyanyian adalah bertentangan dengan ayat tersebut di atas, dan juga bertentangan dengan cara-cara yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dahulu.

Selain itu juga ternyata mendedangkan sebuah lagu atau memainkan musik akan membuat pendengarnya menjadi terlena, dan keadaan terlena inilah yang seringkali banyak dimanfaatkan oleh musuh kita, iblis dan syaithan, untuk memperdaya manusia. Oleh sebab itu, maka menggubah ayat-ayat al-Quran menjadi syair bagi lagu atau nyayian berarti sama saja dengan membuat ayat tersebut sebagai bahan untuk membuat manusia terlena dan hal ini akan mudah dimanfaatkan oleh syaithan untuk memperdaya manusia.

Padahal tujuan dari membaca al-Quran adalah untuk meningkatkan kesadaran para pendengarnya agar menyadari dan meresapi kebenaran firman Allah swt tersebut. Sebaliknya, efek dari mendengarkan nyanyian atau lagu adalah untuk mengendurkan kesadaran manusia dan membuatnya terlena.

Pada zaman Rasulullah saw dahulu ada seorang kafir Quraisy bernama Nadhir bin Harits yang pergi ke Romawi dan Persia dalam rangka untuk mempelajari musik dan ilmu tari. Sekembalinya ke Mekah dia memerintahkan para penari cantik untuk mendedangkan musik, sehingga dengan demikian diharapkan orang-orang Mekah akan terlena dan melupakan bacaan al-Quran. Nadhir bin Harits membuat syair-syair yang bagus untuk kemudian dijadikan lagu demi untuk menyaingi pembacaan ayat-ayat al-Quran. Atas peristiwa ini kemudian Allah swt berfirman yang kemudian diabadikan di dalam ayat al-Quran berikut ini.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS 31:6)

Oleh karena hal yang demikian itulah, maka pada masa itu Rasulullah saw melarang para sahabat-sahabat dan pengikut setia beliau untuk mendengarkan musik. Karena musik dan lagu-lagu serta tarian yang dibuat oleh Nadhir bin Harits adalah dalam rangka untuk memalingkan penduduk Mekah dari ayat-ayat al-Quran.

Adapun ketika ajaran Islam masuk ke pulau Jawa dahulu, hal yang sama seperti di Mekah tersebut tidak pernah terjadi. Agama Islam diterima secara terbuka dan suka rela oleh penduduk Jawa, tanpa ada konflik dan permusuhan. Sunan Kalijaga yang saat itu tengah menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa mempergunakan gamelan dan lagu-lagu untuk memanggil dan mengajak masyarakat Jawa untuk datang. Kemudian setelah mereka datang dan berkumpul, maka disisipkanlah ajaran-ajaran Islam dalam pertunjukan wayang.

Dalam hal mempergunakan lagu dan tembang jawa tersebut, Sunan Kalijaga tidak pernah sedikit pun menggubah ayat-ayat al-Quran menjadi syair lagu. Tidak ada diantara lagu-lagu ciptaan Sunan Kalijaga yang berisi ayat-ayat al-Quran. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang kita dapati pada hari ini.

Kemudian guru kita juga merasa heran, mengapa lembaga yang ditugasi untuk mengeluarkan fatwa, dan yang biasanya gemar sekali untuk mengeluarkan fatwa, justru mereka itu bungkam dan menutup mata terhadap kasus ini? Menyanyikan ayat-ayat al-Quran dengan diiringi musik adalah seperti mencampuradukan ibadah agama yang satu dengan agama lainnya. Tata cara ibadah membaca al-Quran adalah berbeda dengan tata cara ibadah umat Nasrani yang sarat dengan lagu dan nyanyian. Mengapa hari ini koq sengaja dicampuradukan? (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.25