Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 20 November 2017

Akhlaq Di atas Syariat

Akhir-akhir ini marak bermunculan di sekitar kita, upaya dari beberapa orang dan organisasi yang berjuang untuk menegakan syariat Islam di negeri ini. Mulai dari kalangan pemuda dan mahasiswa sampai dengan organisasi massa yang baru-baru ini dibubarkan oleh pemerintah Indonesia. Bahkan ada beberapa orang yang mendirikan semacam Komite Penegak Syariat Islam (KPSI) di beberapa daerah di Indonesia.

Berbicara mengenai penegakan syariat Islam, guru kita pernah memberikan wejangan kepada murid-muridnya, bahwa penegakan syariat Islam itu hampir tidak ada artinya sama sekali tanpa adanya penegakan Akhlaq. Menurut guru kita, Nabi Muhammad saw diturunkan ke muka bumi ini bukan ditujukan untuk menegakan atau mendirikan negara berdasarkan syariat Islam, akan tetapi beliau diturunkan ke muka bumi ini semata-mata adalah untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Maka dengan demikian menegakan akhlaq mulia adalah lebih utama dibandingkan dengan menegakan syariat Islam.

Syariat Islam tanpa akhlaq yang sempurna adalah sama saja dengan menerapkan hukum tanpa moral dan etika. Karena kalau kita perhatikan dengan lebih seksama lagi, maka yang disebut dengan syariat Islam pada hari ini sebenarnya adalah syariat hasil pemahaman dan penafsiran dari beberapa ulama terhadap ajaran Rasulullah saw dahulu.

Ini artinya ada syariat Islam yang berdasarkan pada mazhab Syafi’i, ada syariat Islam yang berdasarkan pada mazhab Hambali atau Hanafi atau Maliki atau ada juga syariat Islam yang berdasarkan pada mazhab Wahabi. Sebagai contoh Brunei adalah negara Islam yang mendasarkan diri pada syariat Islam, namun syariat Islam tersebut disusun berdasarkan mazhab Syafi’i. Hukum syariat Islam yang diterapkan di Brunei ternyata jauh sekali berbeda dengan negara Islam lainnya seperti di Arab Saudi atau di Pakistan semasa pemerintahan Thaliban berkuasa, dimana hukum syariat Islam yang berlaku di negeri tersebut adalah berdasarkan pada mazhab Wahabi. Demikian juga ternyata penerapan syariat Islam berbeda-beda di negeri-negeri Islam lainnya seperti di Pakistan yang berdasarkan pada mazhab Hanafi atau di Aljazair yang berdasarkan pada mazhab Maliki.

Perbedaan mazhab dalam ajaran Islam adalah disebabkan karena perbedaan pemahaman dan penafsiran. Ini adalah suatu bukti nyata bahwa kembali kepada al-Quran dan Hadits tidak menjamin bahwa perbedaan pemahaman dan penafsiran (ikhtilaf) akan hilang.

Apabila anda memiliki kesempatan untuk berkunjung atau tinggal di negeri-negeri yang menerapkan hukum syariat Islam tersebut, maka mungkin anda akan kecewa. Karena ternyata tanpa didasari oleh akhlaq yang mulia, maka penerapan hukum syariat Islam disana terkesan biadab dan tidak bermoral. Misalnya saja ada seorang gadis yang dihukum rajam karena hamil diluar nikah, sedangkan laki-laki yang menghamilinya justru bebas. Karena menurut hukum syariat di negeri tersebut, tanpa ada saksi yang melihat langsung kejadian perzinahan maka laki-laki tersebut tidak bisa dihukum. Sedangkan wanita yang hamil di luar nikah, maka kehamilannya itu sendiri sudah menjadi bukti perzinahan tersebut, sehingga wanita tadi boleh dihukum rajam. Hal seperti ini jugalah yang banyak menimpa nasib para TKW kita di negeri-negeri yang berdasarkan syariat Islam tersebut. Mereka diperkosa oleh majikan mereka hingga hamil, akan tetapi majikan tersebut tidak bisa tersentuh oleh hukum karena pada saat kejadian perkosaan tersebut tidak ada saksi lain yang melihatnya. Bukankah hal yang seperti ini tidak adil?

Beberapa waktu lalu, ketika ISIS menguasai sebagian wilayah Syiria dan Irak, mereka menerapkan hukum syariat Islam berdasarkan mazhab Wahabi, maka penduduk asli pribumi yang tidak sepaham dan berbeda pandangan dengan pemerintahan ISIS akan dieksekusi. Pemenggalan kepala dan hukuman mati kepada penduduk pribumi di Syria dan Irak bahkan mencapai 15 ribu orang lebih. Inikah syariat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw dahulu? Sekejam inikah?

Kemudian contoh kasus lainnya adalah seperti yang terjadi di negeri Islam lainnya dimana perlakuan hukum terhadap para ulama dan pejabat tidak sama dengan perlakuan hukum terhadap masyarakat biasa. Untuk mereka ada pengadilan khusus yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Seperti inikah keadilan dalam syariat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw dahulu?

Saudara-saudarku, itulah beberapa contoh kebobrokan, kekejian, kekejaman dan ketidakadilan dalam penerapan hukum syariat Islam di beberapa negara Islam. Semuanya itu disebabkan oleh satu sebab, yaitu tidak adanya akhlaq yang mulia. Sehingga tanpa akhlaq, maka hukum syariat sehebat dan sebaik apapun tidak akan ada artinya apa-apa.

Untuk itulah mengapa Allah swt menyatakan bahwa kita harus mencontoh akhlaq Rasulullah saw karena pada diri beliau ada suri tauladan yang patut ditauladani.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS 33:21)

Diantara akhlaq beliau yang harus dicontoh adalah akhlaq Sabar, Jujur dan Ikhlas. Memiliki akhlaq Sabar adalah juga merupakan perintah Allah swt kepada manusia. Jadi hukumnya adalah wajib bagi orang-orang yang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS 3:200)

Kemudian berkata jujur atau berkata dengan benar. Hal ini juga merupakan sesuatu perintah Allah swt yang wajib untuk dilaksanakan oleh orang-orang yang beriman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS 33:70)

Dan yang terakhir adalah ikhlas. Allah swt menyatakan bahwa diantara hamba-hambanya maka tidak ada yang lebih baik agamanya dibandingkan dengan orang yang ikhlas.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلً
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS 4:125)

Demikianlah tulisan ini dibuat, dengan maksud untuk menggugah kesadaran kita semua. Bahwa setelah iman maka yang selanjutnya harus ditegakan adalah akhlaq mulia, seperti Sabar, Jujur dan Ikhlas. Jadi bukan menegakan syariat Islam, karena ternyata menegakan syariat Islam tanpa akhlaq yang mulia sama saja dengan menegakan kebobrokan, kekejian, kekejaman dan ketidakadilan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.45