Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Selasa, 21 November 2017

Iman dan Kesejahteraan Sosial

Iman dan kesejahteraan sosial adalah dua hal yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Sehingga meningkatnya jumlah orang yang beriman akan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakatnya. Demikian juga sebaliknya. Seperti efek bola salju yang menggelinding dan semakin besar. Tulisan berikut ini akan mengupas kaitan antara iman dan kesejahteraan sosial tersebut.

Mayoritas penduduk di Indonesia adalah pemeluk agama Islam, kemudian diikuti oleh pemeluk agama lainnya seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Secara prosentase, sebenarnya jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia mengalami penurunan, yaitu dari sekitar 88,2% di tahun 2000, kemudian turun menjadi 87,2% di tahun 2010 dan kemudian turun kembali menjadi sekitar 85% di tahun 2016.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan prosentase pemeluk agama Islam di Indonesia, yaitu pesatnya pertambahan jumlah penduduk di daerah timur Indonesia yang mayoritas beragama non-Islam, adanya perpindahan agama dari Islam menjadi non-Islam dan menurunnya angka pertumbuhan penduduk yang beragama Islam.

Khususnya mengenai perpindahan dari pemeluk agama Islam menjadi non-Islam, beberapa riset yang pernah dilakukan menampilkan data yang bervariasi. Misalnya saja data dari Mercy Mission yang menyatakan bahwa setiap tahunnya ada sekitar 2 juta umat Islam yang berpindah agama menjadi Kristen atau Katolik, walaupun kemudian angka 2 juta ini dipertanyakan oleh Komunitas Pengajian Indonesia di London. Namun demikian tidak bisa dipungkiri adanya kasus perpindahan agama secara masif, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jogyakarta, atau yang banyak diistilahkan dengan ‘Kristenisasi”.

Melihat fenomena penurunan jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia ini, guru kita pernah memberikan komentarnya bahwa hubungan sebab akibat dari perpindahan agama Islam menjadi non-Islam adalah akibat langsung dari rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Menurut guru kita, dalam masyarakat yang memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah, maka kasus perpindahan agama akan mudah terjadi dan trendnya akan semakin meningkat. Jadi salah satu indikator rendahnya tingkat kesejahteraan sosial adalah tingginya angka perpindahan agama penduduknya.

Seseorang yang telah benar-benar beriman, maka rendahnya tingkat kesejahteraan tidak akan membuatnya berpindah agama atau keyakinan. Hal itu akan disikapi oleh orang tadi sebagai ujian hidup di dunia, yang pada akhirnya justru malahan akan semakin meningkatkan tingkat keimanan orang tadi. Akan tetapi kebanyakan umat Islam di Indonesia adalah belum beriman. Oleh sebab itu maka tingkat kesejahteraan yang rendah akan menjadi pendorong utama bagi mereka untuk berpindah agama.

Meskipun angka statistik Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari masyarakat Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahunnya, akan tetapi ternyata kenyataan di lapangan yang kita temui adalah bahwa peningkatan pendapatan tersebut hanya dinikmati oleh segelintir kecil masyarakat elit di Indonesia. Pemerataan pendapatan tidak terjadi, sehingga banyak ketimpangan dan jurang perbedaan yang semakin besar antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin.

Akibat adanya ketimpangan pendapatan, perbedaan yang besar antara pendapatan orang kaya dan orang miskin, maka harga-harga akan semakin naik, biaya hidup semakin tinggi, akan tetapi daya beli masyarakat miskin semakin rendah. Kesejahteraan bagi sebagian besar masyarakat kelas menengah dan miskin semakin terpuruk. Dalam situasi dan kondisi masyarakat yang seperti ini, maka satu-satunya jalan keluar agar seseorang bisa sejahtera adalah menjadi orang kaya.

Pada hari ini, hampir setiap orang berlomba-lomba, saling sikut menyikut dan saling berebutan untuk menjadi orang kaya. Ada yang dengan cara menipu dalam usahanya, ada juga yang dengan cara korupsi atau ada juga yang membangun usahanya dengan cara menyuap pejabat.

Orang yang bodoh akan menjadi penjahat atau perampok sadis, sehingga dengan itu dia bisa menjadi orang kaya. Dan orang yang pintar akan menjadi penipu atau pelaku manipulasi demi untuk mendapatkan kekayaan dengan segala cara. Pedagang akan berusaha untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Banyak artis yang tidak lagi berorientasi pada seni melainkan pada cara mendapatkan materi semudah-mudahnya. Pendek kata, semua orang bagaimana pun keadaan dan kondisinya akan berlomba-lomba menjadi orang kaya. Karena hanya menjadi orang kaya sajalah maka seseorang bisa menjadi sejahtera.

Beginilah potret kehidupan di negeri kita saat ini. Tentu saja tidak semuanya demikian, tentu saja masih ada orang-orang yang jujur, yang sabar menghadapi himpitan hidup dan orang-orang yang ikhlas menjalani kehidupan ini apa adanya. Akan tetapi jumlah mereka ini sedikit sekali.

Padahal menurut guru kita, sebuah negeri yang maju bukanlah negeri yang rakyatnya kaya raya semuanya. Akan tetapi negeri yang maju adalah negeri yang kesejahteraannya merata. Sejahtera tidak harus menjadi kaya. Untuk mendapatkan makanan, mendapatkan layanan kesehatan atau mendapatkan pendidikan yang memadai, tidak perlu harus menjadi kaya. Itulah negeri maju yang kesejahteraan sosialnya sudah merata.

Sehingga dengan demikian, maka pembangunan masyarakat Indonesia seharusnya diarahkan kesana. Pemerataan pendapatan dan kesejahteraan sosial. Bukan semata-mata membiarkan maling merampok kekayaan negeri ini, pedagang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, pejabat melakukan korupsi dan pengusaha menawarkan uang suap.

Selagi masih ada kesempatan, sebelum perahu negeri ini tenggelam oleh kebobrokan kondisi sosialnya, mari kita bersama-sama mengarahkan pembangunan masyarakat kita ke arah pemerataan kesejahteraan sosial.

Para ulama, jangan lagi mengajarkan atau mendorong umat Islam untuk menjadi orang kaya. Karena tidak ada kewajiban atau pun perintah Allah swt untuk mewajibkan umat Islam menjadi orang kaya. Cukup menjadi sejahtera, itu saja sudah cukup untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dengan menjadi sejahtera, maka peluang bertambahnya jumlah orang-orang yang beriman akan semakin meningkat.

Oleh karena kesejahteraan memiliki korelasi dengan jumlah orang-orang yang beriman, maka mengupayakan pemerataan kesejahteraan adalah wajib hukumnya. Kemudian antara beriman dengan sejahtera akan memiliki korelasi lagi, sehingga efeknya adalah seperti efek ‘multiplier’. Seperti bola salju yang jika menggelinding maka akan semakin bertambah besar. Sejahtera -> beriman -> lebih sejahtera -> dan begitu seterusnya. Bola salju menuju kesejahteraan yang semakin meningkat.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا
فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Sebaliknya, ketidaksejahteraan akan mengakibatkan kemurtadan dan kemudian kemurtadan akan mendatangkan azab Allah berupa kesulitan dalam kehidupan, selanjutnya kesulitan dalam kehidupan akan mengakibatkan ketidaksejahteraan yang semakin rendah lagi, dan begitu seterusnya. Seperti efek bola salju, tidak sejahtera -> murtad -> azab -> lebih tidak sejahtera -> dan begitu seterusnya. Bola salju menuju kemerosotan kesejahteraan.

Nah, untuk dapat menggerakan masyarakat dari efek bola salju yang kedua ini menjadi bola salju yang pertama tadi, maka diperlukan tangan pemimpin dan suara ulama yang bijak dan arif. Yang mengerti dan menyadari jalan yang terang benderang dan jelas, bukan jalan yang samar dan gelap lagi tidak tentu arahnya. Inilah misi dari guru kita, mudah-mudahan pemimpin dan para ulama di negeri ini berkenan untuk memperhatikan hal ini. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.32