Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Minggu, 03 Desember 2017

Berinteraksi dengan Malaikat Maut

Agama adalah suatu pegangan hidup yang harus diyakini dan dijalani oleh manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Untuk dapat meyakini sesuatu agama, maka dasarnya adalah iman yang kuat. Akan tetapi iman tidak akan menjadi mantap dan kuat tanpa adanya pembuktian. Jadi agama yang kita pegang dalam menjalani hidup ini harus benar-benar dapat kita buktikan dan kita rasakan sendiri.

Karena agama bukanlah suatu teori, agama juga bukan merupakan suatu doktrin yang harus dipaksakan agar setiap orang harus meyakininya. Tidak, tidak seperti itu. Agama yang kita jadikan pegangan hidup ini bukanlah suatu konsep belaka, bukan sekedar teori yang harus kita yakini. Bukan, bukan seperti itu caranya menjalani agama dengan benar.

Membuktikan kebenaran firman Allah swt adalah sesuatu yang wajar dan harus dicoba oleh manusia. Sebagaimana Musa as ketika mengutarakan niatnya untuk melihat Allah swt secara langsung demi untuk memantapkan keyakinannya, maka Allah swt menyatakan bahwa dia tidak akan sanggup melihat Allah, lalu kemudian Allah menampakan diriNya kepada bukit dihadapannya dan bukit itupun hancur luluh hingga Musa as pun jatuh pingsan. Begitulah Allah swt menampakan ayat-ayatNya kepada semua rasul-rasulNya demi untuk memantapkan keyakinan mereka.

Demikian juga halnya dengan menjalankan agama ini, maka buktikanlah ajaran-ajarannya dan rasakanlah sendiri akibat dan ganjarannya. Ketika guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya untuk melaksanakan zikir Syahadat, Istighfar dan Sholawat sebanyak-banyaknya, maka murid-murid dipersilahkan untuk merasakan dan membuktikannya sendiri ganjaran dan akibat yang dirasakan setelah menjalankan zikir tersebut. Itulah cara beragama yang benar, dimana seseorang harus meyakini akibat dari segala perbuatannya dan ibadahnya.

Sedangkan kebanyakan dari umat Islam saat ini, mereka itu menjalankan agamanya secara teori belaka. Ketika seorang syaikh atau penceramah memerintahkan jemaahnya untuk melaksanakan sesuatu, maka ganjarannya adalah dalil, yaitu kelak mereka nanti akan mendapatkan pahala dari Allah swt di hari akhir nanti. Tidak pernah memerintahkan untuk membuktikannya dan merasakannya sendiri saat ini. Jadi karena ganjaran dan akibat dari pelaksanaan ajaran agama adalah dalil, maka hal ini dapat dikategorikan menjalankan agama secara teori. Bukan secara praktek di lapangan dan dirasakan serta dibuktikan sendiri.

Adalah sesuatu yang berbahaya apabila menjalankan agama Islam ini hanya secara teori belaka. Seseorang hanya dijejali dengan berbagai macam dalil yang terkesan mendoktrin agar orang tadi percaya dan yakin oleh dalil tersebut. Coba anda perhatikan seluruh rasul-rasul Allah terdahulu, adakah diantara mereka yang berdakwah dan menyebarkan keyakinan agama ini secara dalil semata? Tidak ada bukan? Seluruh rasul-rasul Allah tersebut mengajarkan agama ini dengan cara membuktikan ayat-ayat Allah. Itulah manhaj dan metode pengajaran agama yang seharusnya dilakukan: membuktikan kebenaran ayat-ayat Allah swt.

Padahal kita juga tahu dan memahami, bahwa banyak sekali dari hadits-hadits Rasulullah saw yang dipalsukan. Kemudian apabila hadits palsu tersebut kita jadikan dalil, maka akan celaka lah kita semua. Para perawi-perawi hadits bukanlah manusia sempurna yang mereka itu maksum, begitu juga imam Bukhari dan imam Muslim bukanlah manusia yang dijamin pasti tidak pernah melakukan kesalahan. Oleh sebab itu, maka mendasarkan agama hanya pada dalil saja tidak cukup, kita harus mengujinya dengan kebenaran yang ada di lapangan kehidupan ini.

Dalam pengajian-pengajian yang dilakukan, guru kita mengajarkan langsung dan menunjukan langsung kebenaran dari firman-firman Allah swt. Misalnya saja dalam hal berinteraksi dengan malaikat. Malaikat adalah mahluk Allah yang nyata adanya, bukan sebuah teori yang berdasarkan dalil semata. Sehingga dengan izin Allah swt, manusia bisa berinteraksi dengan malaikat-malaikat Allah tersebut.

Pada hari ini, ada segelintir manusia di dunia ini yang diizinkan Allah swt untuk bisa berinteraksi dengan mahluk-mahluk Allah swt, seperti misalnya jin, malaikat atau pun para syuhada. Melalui interaksi tersebut itulah, maka kita dapat memahami mana dalil hadits yang benar dan mana yang palsu. Melalui informasi dari malaikat-malaikat itu pulalah, kita bisa meyakini apakah zikir Syahadat, Istighfar dan Sholawat yang kita lakukan itu diridhoi Allah swt ataukah tidak. Semua itu adalah bagian dari pembuktian menjalankan ajaran agama, bukan sekedar teori.

Kadangkala sesuatu yang tidak masuk akal dan terkesan lucu terjadi. Malaikat maut meminta izin terlebih dahulu kepada orang yang beriman dan bertauhid sebelum mencabut nyawa seseorang. Bahkan guru kita pernah menceritakan bahwa tatkala hendak mencabut nyawa seorang pengamal zikir Syahadat, Istighfar dan Sholawat, malaikat maut terkesan sungkan dan malu. Menurut guru kita, begitulah betapa Allah swt sangat menghargai dan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan bertauhid.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ
وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 58:11)

Pada hari ini, banyak sekali para syaikh dan habib yang mereka itu merasa bahwa derajat mereka itu tinggi. Semua itu didasarkan kepada dalil-dalil yang mereka pahami dan persangkaan yang mereka yakini. Padahal, di hadapan Allah swt belum tentu begitu. Cobalah untuk menanyakannya langsung kepada Allah atau paling tidak menanyakannya kepada malaikat-malaikat Allah, benarkah begitu?

Karena agama Islam ini bukanlah agamanya para ulama, syaikh atau habib. Agama Islam adalah agamanya Allah swt. Jadi cobalah berinteraksi dengan membuktikan kebenaran firman-firman Allah swt. Karena Allah swt tidak sedang tidur, jadi apabila ada diantara hamba-hambaNya yang memohon petunjuk, pasti Dia akan memberikan petunjukNya. Pasti! (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.20