Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 08 Desember 2017

Orang-orang Yang Dirahmati Allah

Setiap kali terjadi malapetaka di dunia ini, maka sudah pasti itu adalah bagian dari azab Allah swt terhadap suatu kaum agar supaya mereka itu menjadikan malapetaka tersebut sebagai sebuah pelajaran dan peringatan agar mereka kembali menjadi orang-orang yang beriman. Jadi malapetaka dan bencana adalah bukan ujian Allah swt, karena menurut cerita dan kisah kaum-kaum terdahulu di dalam al-Quran, setiap kali terjadi malapetaka dan bencana alam yang dashyat maka itu adalah merupakan azab Allah swt, bukan ujian dari Allah swt.

Boleh jadi suatu hari anda menemukan suatu kaum yang tengah ditimpa musibah berupa bencana alam atau malapetaka lainnya. Pasti hal itu merupakan bagian dari azab Allah swt, yang berupa peringatan dari Allah swt agar kaum tersebut beriman. Untuk menghentikan azab Allah tersebut, maka yang paling tepat untuk dilakukan oleh kaum tadi adalah ber-istighfar memohon ampun kepada Allah swt.

Boleh jadi suatu hari anda menemukan kondisi sebuah keluarga yang sangat memprihatinkan. Misalnya saja kemiskinan dan kelaparan yang terlampau melilit. Maka boleh jadi itu adalah bagian dari azab Allah swt kepada keluarga tersebut. Untuk mengubah keadaan dan kondisi keluarga tersebut dari keterpurukan itu, maka yang paling tepat untuk dilakukan oleh keluarga tadi adalah ber-istighfar memohon ampun kepada Allah swt.

Dalam suatu pengajian, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa orang-orang yang gemar ber-istighfar memohon ampun kepada Allah swt adalah orang-orang yang paling disayangi oleh Allah swt. Ketika kebanyakan orang lain sibuk berdoa agar supaya Allah swt mengabulkan keinginannya, maka ada segelintir orang yang justru tidak minta apa-apa kecuali minta ampun.

Apabila Allah swt menyayangi suatu kaum, maka Allah swt akan mencurahkan rahmatNya kepada kaum tersebut tanpa harus diminta. Hal ini pernah dinyatakan oleh Nabi Shaleh as kepada kaum Tsamud yang durhaka.

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ
الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS 11:61)

Segala azab dan malapetaka yang tengah terjadi adalah bukan merupakan penyebab dari penderitaan suatu kaum, akan tetapi azab dan malapetaka adalah akibat dari kedurhakaan kaum tersebut. Oleh karena azab dan malapetaka adalah akibat, maka yang paling tepat untuk dilakukan oleh kaum tadi adalah ber-istighfar dan memohon ampun terhadap perbuatan dan perilaku yang pernah mereka lakukan yang kemudian menjadi sebab turunnya azab dan malapetaka.

Ber-istighfar memohon ampun kepada Allah swt atas sebab kedurhakaan mereka adalah jauh lebih penting dan utama ketimbang berdoa kepada Allah swt memohon agar supaya akibat malapetaka tersebut dihilangkan.

Setiap manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini tidak bisa terlepas dari segala kesalahan dan dosa, bahkan orang-orang Islam dan orang-orang yang beriman sekali pun juga melakukan kesalahan. Demikian juga para Wali, para Nabi dan para Rasul Allah pun melakukan kesalahan dan dosa. Oleh sebab itu maka penting sekali bagi kita semua ber-istighfar dan memohon ampun kepada Allah swt, sebagaimana mereka semua tadi juga ber-istighfar memohon ampun.

Guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak bersifat egois, hanya memperhatikan kepentingan dirinya sendiri. Guru kita mengajarkan agar kita juga seharusnya memperhatikan kepentingan orang lain, caranya antara lain adalah dengan mendoakan orang lain secara sungguh-sungguh. Bangun di tengah malam, lalu ber-istighfar memohon ampun kepada Allah swt bagi dirinya dan juga bagi seluruh orang-orang yang beriman baik itu laki-laki maupun perempuan. Ini adalah bagian dari perintah Allah swt untuk mendoakan seluruh orang-orang yang beriman.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS 47:19)

Terhadap orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk ber-istighfar dan memohon ampun bagi dirinya dan bagi seluruh orang yang beriman, maka Allah swt sangat menyayangi mereka. Allah swt akan mencurahkan rahmatNya pada tempat dimana orang-orang tersebut melakukan usaha dan juga pada tempat dimana orang-orang tersebut tinggal.

Demikianlah, maka sekelompok kecil orang-orang yang gemar ber-istighfar tersebut, benar-benar merupakan orang-orang yang aneh. Sementara kebanyakan orang lain gemar berdoa meminta agar keinginan mereka dikabulkan Allah, maka segelintir orang-orang tadi justru tidak pernah meminta apa-apa, kecuali minta ampun.

Sebagaimana juga dahulu, Rasul Allah dan segelintir kecil para pengikutnya juga merupakan orang-orang yang aneh. Demikian juga ketika pertama kali ajaran Islam diturunkan, para penduduk kota Mekah memandang Rasulullah saw dan segelintir kecil pengikutnya adalah orang-orang yang aneh. Lalu pada hari ini, keadaan kembali seperti semula, segelintir orang-orang yang gemar ber-istighfar memohon ampun bagi dirinya dan juga bagi seluruh orang yang beriman adalah orang-orang yang aneh. Seperti orang asing di tengah ratusan juta kaum muslimin di negeri ini. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.42