Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 27 Desember 2017

Sebuah Pandangan Tentang Poligami

Dalam suatu pengajian, guru kita mencela sikap sebagian dari ulama atau ustadz yang gemar memamerkan dan mempertontonkan kehidupan rumah tangga mereka yang berpoligami. Poligami yaitu keadaan seorang suami yang memiliki lebih dari satu istri di satu waktu yang bersamaan.

Memang akhir-akhir ini kita mendapati di dalam peliputan beberapa media, sikap beberapa ustadz yang membanggakan kondisi rumah tangganya yang berpoligami. Mereka memperlihatkan betapa diantara istri-istrinya dapat hidup dengan rukun dan bahagia tanpa ada rasa cemburu. Bahkan penerimaan pendapatan yang diperoleh ustadz tersebut mencukupi atau bahkan lebih untuk sekedar menafkahi istri-istrinya tersebut. Mereka yang berpoligami tersebut merasa bangga, merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah diridhoi Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.

Dasar yang kerap dijadikan pedoman bagi mereka yang gemar berpoligami adalah ayat al-Quran berikut ini.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS 4:3)

Ayat tersebut di atas kerap dijadikan sebagai dasar dan dalil bagi seseorang untuk berpoligami, mengawini beberapa orang wanita dalam satu waktu yang bersamaan. Tidak peduli apakah hal tersebut akan mengakibatkan perasaan wanita yang dimadu menjadi teraniaya ataukah tidak.

Seseorang yang berpikiran waras tatkala membaca ayat tersebut di atas tadi akan menyimpulkan bahwa sesungguhnya Allah swt menganjurkan agar seseorang mengawini cukup satu wanita saja. Hal tersebut adalah demi untuk menghindari ketidakadilan sikap dan menyakiti hati atau perasaan wanita.

Tidak ada orang yang berhasil masuk surga dikarenakan menikahi banyak wanita, demikian juga tidak ada wanita yang berhasil masuk surga karena kerelaannya untuk dimadu oleh suaminya. Seseorang hanya bisa masuk surga adalah karena kemuliaan akhlaknya sehingga Allah swt meridhoi perilaku dan akhlaknya tersebut.

Pada hari ini, banyak sekali hujah dan dalil dikemukakan demi untuk mendukung praktek poligami. Kaum wanita dipaksa untuk menerima doktrin bahwa poligami itu adalah sah, dan sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karenanya maka seluruh kaum muslimah diwajibkan untuk mengikhlaskan suaminya berpoligami.

Menurut guru kita, ajaran Islam yang sebenarnya tidaklah demikian. Islam sangat menghormati dan menjunjung tinggi perasaan dan hati nurani wanita. Apabila hati nurani wanita tersakiti, teraniaya dan tidak rela, maka Islam melarang kita untuk menganiaya perasaan wanita. Tidak benar bahwa atas nama dalil agama kemudian kita boleh menganiaya hati nurani wanita.

Dalam beberapa hal tertentu dan dalam kondisi yang khusus berpoligami adalah diperbolehkan, asalkan tidak ada perasaan wanita yang teraniaya dan terjadi ketidakadilan. Apabila salah satu atau kedua-duanya terjadi, maka stop jangan diteruskan niat untuk berpoligami. Karena hal tersebut artinya sama saja dengan menentang firman Allah swt dalam surat An-Nisa ayat 3 di atas tadi. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 19.32