Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Kamis, 28 Desember 2017

Merekayasa Ulang Kurikulum Pendidikan Indonesia

Kurikulum pendidikan di Indoneisa dan sebagian besar dunia saat ini lebih menitikberatkan pada faktor kognitif semata. Seseorang dianggap berhasil dalam pendidikannya apabila nilai pengetahuan dan pemahamannya tinggi. Tujuannya adalah semata-mata untuk mencetak kecerdasan intelektual seseorang.

Adapun aspek-aspek lainnya dari manusia cenderung untuk diabaikan, seperti misalnya karakter, sifat, akhlak dan juga keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Dari tingkat anak-anak kecil, semuanya telah dijejali dengan pendidikan yang mengedepankan aspek intelektual anak. Mulai dari sekolah-sekolah umum sampai sekolah-sekolah yang didirikan oleh yayasan Islam, semuanya lebih menitikberatkan pada aspek intelektual anak. Di sekolah umum, anak-anak dari usia dini telah dijejali dengan pengetahuan akademik seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dsb. Ada pun di sekolah-sekolah Islam, anak-anak juga dijejali dengan pengetahuan, seperti misalnya pengetahuan agama, hafalan al-Quran atau Hadits.

Padahal pada usia dini anak-anak, adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan pendidikan karakter dan akhlak, bukan menjejali mereka dengan pengetahuan semata.

Sebagian besar dari kurikulum pendidikan di Indonesia adalah bertujuan untuk menyediakan tenaga kerja yang siap untuk mendukung sektor industri. Sehingga begitu lulus dari pendidikan, terdapat tenaga kerja yang melimpah ruah untuk mendukung sektor industri.

Dalam kurikulum di Indonesia, aspek-aspek lain dari manusia seperti akhlak dan iman cenderung untuk diabaikan. Padahal keduanya itu adalah pondasi yang sangat penting bagi manusia Indonesia. Bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila, harus mencetak manusia yang tidak saja cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Akibat dari kurikulum saat ini yang mengesampingkan aspek akhlak dan iman, maka akibatnya Indonesia mengalami krisis moral. Pada hari ini kita menemukan kasus korupsi besar-besaran dan terjadi di mana-mana di segala lapisan masyarakat.

Kekejian dan kemungkaran dalam dunia pendidikan sudah merupakan berita sehari-hari. Seorang guru mencabuli 3 muridnya di Ciracas, Jakarta Timur. Seorang guru agama mencabuli anak muridnya sendiri di tempat ibadah di Pasuruan, Jawa Timur. Guru bimbel mencabuli anaknya di dalam kelas di Matraman, Jakarta Timur. Seorang guru di Bima ditangkap polisi karena mengedarkan narkoba. Seorang dosen di Makasar diamankan polisi karena kedapatan sedang pesta narkoba. Dan seterusnya, masih banyak lagi kasus kekejian dalam dunia pendidikan kita.

Menurut guru kita sudah waktunya bagi bangsa Indonesia saat ini untuk memulai suatu revolusi mental dan moral. Karena mental dan moral bangsa ini telah rusak. Orang yang Jujur, Sabar dan Ikhlas semakin sedikit ditemukan. Akhlak sebagian besar masyarakat Indonesia bobrok, dan meskipun jumlah orang yang mengaku beragama Islam banyak akan tetapi ternyata jumlah orang yang beriman sangat sedikit sekali.

Bagi sebuah bangsa, percuma saja memiliki harta yang melimpah dari hasil sektor industri atau anak-anak yang banyak tetapi salah dalam mendidiknya. Yang bisa menyelamatkan sebuah bangsa adalah iman dan akhlak yang mulia yang melahirkan amalan kerja yang shaleh dan bermanfaat. Pada akhirnya kita akan menyadari bahwa harta dan anak-anak tidak akan dapat mendatangkan keselamatan bagi sebuah bangsa.

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ
جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS 34:37)

Guru kita mengajak semua komponen anak bangsa untuk merekayasa ulang kurikulum pendidikan di Indonesia. Pendidikan akhlak dan akidah harus dihidupkan kembali dan diberi bobot pengajaran yang lebih. Karena kita harus mencetak manusia Indonesia yang berdasarkan Pancasila, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Semua itu harus segera dimulai dan diterapkan dalam pendidikan Indonesia dimulai dari anak-anak. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 15.03