Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 29 Desember 2017

Tidak Pantas Meminta Surga

Dalam suatu malam pengajian, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa Surga itu sebenarnya adalah hak Allah swt, sedangkan neraka adalah hak dari jin dan manusia. Maksud dari pernyataan ini adalah sebagai berikut: Surga adalah bonus, hadiah yang paling berharga dari Allah swt yang akan diberikan oleh-Nya kepada orang-orang yang diridhoi dan dikehendaki Allah swt.

Jadi meskipun seorang manusia dalam seluruh hidupnya banyak sekali beribadah kepada Allah swt, maka ketahuilah bahwa seluruh amal ibadah manusia tadi tidak akan dapat dipergunakan untuk membeli surga. Harga dari surga jauh melampaui seluruh amal ibadah manusia, sehingga tidak ada satu amalan pun yang sepadan dengan harga surga.

Banyak sekali ulama dan ustadz yang mengiming-imingi umat Islam, bahwa apabila mereka membaca surat tertentu dalam al-Quran maka akan masuk surga. Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan tertentu maka dijamin akan masuk surga. Seakan-akan surga bisa dijamin dan dibeli dengan suatu perbuatan yang sepele. Terhadap hal ini, guru kita menganjurkan agar supaya kita meneliti kembali dalil yang dipergunakan. Al-Quran tidak pernah menyatakan bahwa surga pasti bisa diperoleh hanya dengan melaksanakan perbuatan yang sepele.

Seorang manusia pada hari pembalasan nanti, hanya bisa masuk ke dalam surga adalah karena diberikan hadiah oleh Allah swt. Hadiah tersebut diberikan Allah swt bisa karena amal perbuatannya yang diridhoi Allah, atau bisa juga karena pengorbanannya yang diridhoi Allah, atau karena jasa-jasanya yang diridhoi Allah swt. Boleh jadi seorang ahli ibadah yang banyak mengumpulkan catatan amal ibadah, tapi karena Allah swt tidak ridho, maka dia tidak akan bisa masuk surga. Sebaliknya seorang pelacur yang sebagian besar kehidupannya dihabiskan untuk berbuat maksiat, namun karena perbuatannya memberi minum seekor anjing yang sangat kehausan mampu membuat Allah swt ridho, maka dia bisa masuk surga. Jadi surga adalah benar-benar hak prerogatif Allah swt.

Sebaliknya api neraka adalah hak dari jin dan manusia. Artinya tergantung dari jin dan manusia itu sendiri, apakah selama hidupnya di dunia ini ditujukan untuk menghidari api neraka ataukah tidak, sepenuhnya menjadi hak jin dan manusia itu sendiri untuk memilih.

Nah, sekarang memohon surga itu perumpamaannya adalah seperti hak prerogatif presiden untuk mengangkat siapa saja menjadi menterinya. Sesaat setelah terpilih dan dilantik menjadi presiden, menurut anda pantaskah apabila kemudian seseorang menelpon presiden untuk diangkat menjadi menteri?

Pada zaman dahulu seorang raja memiliki banyak sekali budak untuk melayani istana kerajaan. Menurut anda pantaskah bagi seorang budak mengajukan permohonan untuk dikaruniai hadiah dari sang raja? Pada hari ini, seorang karyawan bekerja setiap hari dan kemudian mendapat gaji yang memadai setiap bulannya. Menurut anda pantaskah apabila kemudian karyawan tersebut mengirim permohonan kepada direktur perusahaan tempat dia bekerja agar memberikan hadiah kepadanya? Begitulah juga permisalan yang sama apabila seorang hamba berdoa mengajukan permohonan untuk diberikan surga kepada Tuhannya, pantaskah menurut anda?

Di dalam al-Quran tidak ada satu pun ayat yang memerintahkan agar manusia berdoa mengajukan permohonan kepada Allah swt agar diberikan hadiah surga. Manusia boleh saja berharap, akan tetapi menuntut hadiah kepada Allah swt adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang hamba.

Guru kita mengajarkan bahwa hal yang paling tepat untuk diharapkan oleh seorang hamba seperti kita adalah keridhoan Tuhan. Itulah sesuatu yang tepat pada tempatnya dan pantas untuk diharapkan oleh seorang budak.

Bahkan sesungguhnya Allah swt sendiri menyatakan bahwa keridhoan Allah itu lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan surga. Berikut ini adalah salah satu ayat dalam al-Quran yang menceritakan bagaimana Allah swt mengaruniai hadiah kepada orang yang beriman berupa surga Adn. Lalu dinyatakan bahwa sebenarnya keridhoan Allah lebih besar dari itu.

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ
طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS 9:72)

Apabila anda rajin membolak balik isi dari ayat-ayat al-Quran, maka nyata lah bahwa yang akan dikaruniai hadiah surga oleh Allah swt adalah orang-orang yang beriman (mukmin). Bukan sekedar orang Islam. Dan bagi orang Islam adalah sangat berat dan sangat sulit perjuangannya untuk bisa naik derajatnya menjadi orang yang beriman. Mereka harus lulus dari ujian hidup terlebih dahulu.

Demikianlah tulisan ini, diharapkan untuk bisa meluruskan kekeliruan yang banyak diajarkan oleh para ulama dan ustadz yang mengajarkan sesuatu kepada umat Islam hanya berdasarkan pada pemahaman dan pemikiran mereka terhadap dalil. Padahal agar supaya manusia tidak salah melangkah dalam kehidupan di dunia ini, manusia memerlukan petunjuk Allah. Dan dalam hal ini Allah swt memberikan petunjuk kepada kita, bahwa menuntut hadiah adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang budak/hamba. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.57