Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Rabu, 03 Januari 2018

Renungan Akhir Tahun 2017

Tahun 2017 baru saja berlalu, dan di akhir tahun tersebut kalau kita renungkan kembali semua peristiwa yang telah terjadi, maka kita harus prihatin. Karena ternyata kondisi tahun 2017 yang lalu tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bencana alam demi bencana alam telah menerpa negeri kita. Ini adalah suatu pertanda bahwa Allah swt tengah menurunkan azab-Nya. Ini juga merupakan suatu indikasi, bahwa meskipun jumlah pemeluk agama Islam adalah terbanyak di seluruh dunia, akan tetapi ternyata jumlah orang-orang yang beriman di negeri ini adalah masih sangat sedikit sekali.

Berdasarkan catatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat bahwa selama tahun 2017 lalu ada 2.341 kejadian bencana selama setahun. Rincian kejadian bencana tersebut terdiri dari banjir (787), puting beliung (716), tanah longsor (614), kebakaran hutan dan lahan (96), banjir dan tanah longsor (76), kekeringan (19), gempa bumi (20), gelombang pasang dan abrasi (11), dan letusan gunung berapi (2).

Dampak yang ditimbulkan akibat bencana selama tahun 2017, tercatat 377 orang meninggal dan hilang, 1.005 orang luka-luka dan 3.494.319 orang mengungsi dan menderita. Kerusakan fisik akibat bencana meliputi 47.442 unit rumah rusak (10.457 rusak berat, 10.470 rusak sedang dan 26.515 rusak ringan), 365.194 unit rumah terendam banjir, dan 2.083 unit bangunan fasilitas umum rusak (1.272 unit fasilitas pendidikan, 698 unit fasilitas peribadatan dan 113 fasilitas kesehatan).

Adapun berdasarkan data dari BMKG bahwa selama tahun 2017 telah terjadi 6.893 kali gempa, dimana gempa dengan kekuatan lebih dari 5 SR sebanyak 208 kali, gempa dirasakan 573 kali, dan gempa merusak sebanyak 19 kali. Artinya hampir setiap hari terjadi gempa dengan rata-rata 19 kali. Dampak gempa yang merusak adalah gempa 6,9 SR di Barat Daya Tasikmalaya yang menyebabkan lebih dari 5.200 rumah rusak.

Kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana mencapai puluhan trilyun rupiah. Hingga saat ini masih dilakukan perhitungan dampak dari bencana tersebut oleh BNPB. Kerugian ekonomi paling besar akibat bencana selama tahun 2017 adalah dampak dari peningkatan aktivitas vulkanik dan erupsi Gunung Agung di Bali. Penetapan status Awas pada September 2017 yang kemudian terjadi erupsi Gunung Agung pada 26-30 November 2017 telah menyebabkan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp 11 trilyun. Kerugian ini sebagian besar berasal dari kredit macet masyarakat yang harus mengungsi dan dari sektor pariwisata. Menteri Pariwisata menyatakan kerugian di sektor pariwisata di Bali mencapai Rp 9 trilyun dari dampak erupsi Gunung Agung tersebut.

Begitulah kiranya renungan selama tahun 2017 yang lalu, bahwa telah terjadi bencana alam di Indonesia sebanyak 2.341 kali. Suatu jumlah yang tidak sedikit. Ini bukan merupakan cobaan atau sekedar teguran, ini adalah merupakan bagian dari azab Allah swt karena penduduk negeri ini kebanyakan mendustakan ayat-ayat Allah swt.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ
كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

Oleh sebab itu, maka tidak ada jalan lain bagi penduduk negeri ini apabila mendambakan keberkahan dari langit dan dari hasil buminya, maka kita semua harus beriman dan bertakwa. Sebagaimana isi dari landasan negara kita, amanat para leluhur pendiri negeri ini dan tujuan serta cita-cita perjuangan seluruh bangsa Indonesia: menciptakan rakyat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menyadari kekurangan bangsa ini di tahun-tahun sebelumnya adalah setengah dari jalan menuju keberhasilan. Setengahnya lagi adalah usaha dan perjuangan bangsa ini di tahun 2018 dan masa-masa yang akan datang, untuk menciptakan bangsa yang beriman dan bertakwa tersebut. Ini adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah, suatu perjuangan yang brutal dan keras, karena kita akan melawan syaithan yang terkutuk. Iblis dan bala tentaranya akan menghadang dan menghalang-halangi usaha kita.

Inilah perjuangan yang sangat berat, jalan yang harus kita semua tempuh. Musuh yang kita semua harus hadapi dan perangi. Inilah jalan para Nabi dan Rasul seluruhnya. Inilah medan peperangan para Nabi dan Rasul seluruhnya. Inilah kita disini pada hari ini, berdiri menatap masa depan. Tengadah keatas langit, percaya bahwa Allah swt bersama kita. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.20