Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 05 Januari 2018

Mencari Kebenaran Tuhan

Di dunia ini ada banyak sekali tipe dan kondisi manusia, terutama dalam hal menjalani kehidupan berdasarkan ajaran agamanya. Ada yang hanya sekedar menjalani ajaran agama orang tuanya, namun banyak juga yang sebenarnya tidak mempercayai sepenuhnya Tuhan.

Pada hari ini, meskipun hampir seluruh umat manusia merupakan penganut agama tertentu, akan tetapi kebanyakan dari mereka sebenarnya adalah orang-orang yang tidak mempercayai Tuhan. Agama bagi mereka hanyalah sekedar masalah administrasi kependudukan, atau hanya sekedar tradisi masyarakat yang setiap tahunnya turut merayakan hari rayanya.

Namun ada juga sebagian kecil manusia yang serius mencari kebenaran. Inilah mereka yang kebanyakan berasal dari negara-negara timur. Ada yang mencarinya dengan cara bermeditasi, dan ada juga yang mendatangi beberapa guru spiritual. Bagi mereka kebenaran adalah sesuatu yang datang dari luar yang bisa memberi inspirasi bagi kehidupannya.

Terhadap mereka yang benar-benar serius mencari kebenaran ini, maka ada kemungkinan bahwa suatu ketika Allah swt akan memberikan Petunjuk Hidayah-Nya kepada mereka, asalkan mereka bersungguh-sungguh dalam mencarinya dan sepenuhnya berserah diri. Karena memang pada akhirnya itu semua adalah hak Allah swt untuk menentukan siapa saja yang akan ditunjukan kepada jalan-Nya yang lurus. Karena kebanyakan jalan-jalan kehidupan yang ada di dunia ini adalah merupakan jalan yang bengkok, jalan yang menuju kepada kesesatan atau kemurkaan.

وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ ۚ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
“Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).” (QS 16:9)

Jalan yang bengkok itu ada 2 jenis: yaitu jalan yang sesat dan jalan yang dimurkai Allah swt. Jalan yang sesat adalah jalan yang tidak berujung pada Allah swt, tetapi berujung kepada yang selain Allah. Misalnya saja berhala, uang , jabatan, status sosial atau ego dan nafsu pribadi. Menyembah patung, menyembah pohon, menyembah tuhan-tuhan palsu yang diciptakan oleh pemahaman dan penafsiran manusia adalah merupakan jalan yang sesat.

Selain jalan yang sesat, ada pula jalan yang dimurkai Allah swt, yaitu jalan orang-orang yang merasa dirinya sudah paling benar. Merasa bahwa Allah swt ada di belakang mereka, menyokong penuh apa yang mereka ucapkan dan mereka lakukan, sehingga mereka berhak untuk menghakimi orang lain. Mereka tidak pernah bercermin untuk menemukan kesalahan mereka sendiri, mereka tidak mau menerima pendapat orang lain. Semua pendapat dan paham yang berlainan dengan mereka akan dianggap menyimpang dan kafir. Itulah yang dinamakan sebagai jalan yang dimurkai Allah. Inilah jalan yang pernah dilalui oleh orang-orang Yahudi pada zaman dahulu. Apakah anda dapat menemukan kesamaan mereka dengan beberapa gelintir orang di zaman sekarang?

Pada suatu malam pengajian guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya, bahwa Kebenaran Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa diklaim secara sepihak. Bukan sesuatu yang bisa disangka atau dikira-kira menurut pemahaman manusia.

Apabila kita berada di jalan Kebenaran, artinya kita berjalan di jalan yang benar-benar diperintahkan Allah swt dan diridhoi Allah swt. Maka kemudian Allah swt sendiri lah yang akan menyatakan hal tersebut kepada kita bahwa kita benar-benar berada pada jalan yang lurus, sebagaimana Dia juga telah menyatakan hal tersebut kepada Rasulullah saw dan para sahabat beliau.

Pada zaman dahulu, orang-orang Yahudi merasa bahwa mereka adalah yang paling benar, sehingga mereka berhak untuk menghakimi orang lain. Mereka menentukan apakah seseorang itu benar atau sesat berdasarkan pemahaman mereka pada ayat-ayat kitab suci. Maka ketika Nabi Muhammad saw mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan kitab suci mereka, maka orang-orang Yahudi tersebut mencap sebagai suatu ajaran nyeleneh yang sesat. Kemudian terhadap hal ini, Allah swt menurunkan firman-Nya seperti berikut ini.

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS 22:67)

Beginilah pentingnya dekat dengan Allah swt, senantiasa berzikir kepadaNya dan melaksanakan KehendakNya. Sehingga Allah swt sendiri yang akan menyatakan apakah kita benar-benar berada pada jalan yang lurus ataukah tidak.

Guru kita mengajarkan bahwa berada pada jalan yang lurus bukanlah berdasarkan kira-kira, persangkaan atau pun pemahaman manusia semata. Apabila hanya berdasarkan pemahaman belaka, menyangka anda merasa sudah pada jalan yang benar, itu artinya anda belum tentu berada pada jalan yang lurus. Belum tentu.

Apabila Allah swt telah menyatakan sendiri secara langsung, atau melalui malaikat-malaikatNya bahwa anda benar-benar berada pada jalan yang lurus, maka itu sudah pasti anda berada pada jalan yang lurus. Sebagaimana Allah swt juga menyatakan hal serupa kepada Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya dahulu.

Melalui tulisan ini, kami menyampaikan pesan guru untuk mengajak kita semua mempertanyakan hal yang paling mendasar: sudahkah kita berada pada jalan yang lurus? Jangan sampai kita berada pada jalan yang sesat atau jalan yang dimurkai Allah swt lalu merasa sudah berada pada jalan yang lurus.

Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang Yahudi pada zaman dahulu. Memiliki kitab suci kemudian sudah merasa yang paling benar. Padahal mereka adalah orang-orang yang jauh hubungannya dengan Allah swt. Lebih baik dekat dengan Tuhan, dari pada dekat dengan kitab suci tetapi jauh dengan Tuhan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.22