Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 08 Januari 2018

Beribadah Untuk Mengejar Pahala

Pada hari ini kita menemukan umat Islam merupakan mayoritas di negeri ini, Indonesia merupakan negara dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia. Oleh sebab itu, maka tidak heran apabila kuota haji untuk negeri kita ini merupakan yang terbesar di dunia setelah Pakistan, India dan Bangladesh. Meskipun dengan kuota haji yang terbesar, akan tetapi daftar tunggu antrian calon jamaah haji yang akan diberangkatkan masih panjang sekali. Artinya memang minat dan keinginan umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji tinggi sekali.

Akan tetapi sayang, bahwa tingginya semangat umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji tersebut tidak dibarengi dengan karakter dan akhlak umat, seperti misalnya sifat Sabar, jujur dan ikhlas. Koruptor di Indonesia masih merupakan peringkat ke-90 di dunia ini. Orang-orang yang memiliki sifat Sabar, jujur dan ikhlas di negeri ini masih sedikit.

Meskipun semangat umat Islam untuk melaksanakan ibadah dan amal kebaikan cukup tinggi, akan tetapi nyatanya jumlah orang-orang yang memiliki akhlak dan sifat Sabar, Jujur dan Ikhlas di negeri ini masih sangat sedikit. Sepertinya ada yang tidak berkorelasi antara ibadah, amal kebaikan dan akhlak serta moral bangsa.

Mengapa demikian? Mungkin penyebabnya adalah bahwa kebanyakan orang-orang melaksanakan ibadah dan amal kebaikan di negeri ini adalah demi untuk mengejar dan mengumpulkan pahala bagi dirinya sendiri. Bukan untuk yang lainnya. Orientasi dan motivasi kebanyakan orang-orang tersebut adalah untuk pahala dirinya sendiri, bukan demi untuk membangun karakter dan akhlak serta moral bangsa ini.

Pada hari ini, orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia sedikit sekali, sehingga tidak heran apabila kasus korupsi masih relatif tinggi di negeri ini. Hampir semua lapisan masyarakat mulai dari buruh, guru, manager sampai dengan anggota DPR ada yang terlibat dengan kasus korupsi. Angka kejahatan kriminal mulai dari pencurian, penipuan sampai dengan pembunuhan di negeri ini tinggi. Itulah cerminan dari sebuah bangsa yang belum banyak memiliki akhlak yang mulia.

Mungkin kita perlu mengubah orientasi dari kebanyakan umat Islam di Indonesia, dari yang beribadah dan berbuat baik hanya karena ingin mendapat pahala, kepada sesuatu yang lain. Karena kalau kita mempergunakan akal sehat kita, maka ternyata ada suatu konsep pahala yang tidak tepat berada di dalam benak kebanyakan umat Islam di Indonesia saat ini.

Sebenarnya pahala yang dikumpulkan oleh seseorang, tidak akan cukup untuk mendatangkan kehidupan yang berbahagia di akhirat kelak. Misalnya saja seseorang beramal kebaikan berupa memberi makan anak yatim selama sepuluh tahun lamanya di dunia ini. Maka kelak nanti di akhirat, Allah swt akan membalas amal kebaikan orang tadi sepuluh kali lipat.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS 6:160)

Jadi apabila selama hidup di dunia orang tadi memberi makan anak yatim selama sepuluh tahun, maka kelak nanti di akhirat Allah swt akan membalasnya dengan makanan baginya selama seratus tahun.

Memperoleh makanan untuk seratus tahun lamanya, cukupkah hal tersebut bagi orang tadi? Jawabnya: tidak. Karena kelak nanti di akhirat orang tadi dan kita semua akan hidup jauh lebih lama dari seratus tahun. Kita akan hidup bermilyar-milyar tahun lamanya. Sehingga memiliki makanan hanya untuk seratus tahun lamanya tidak akan cukup untuk hidup selama bermilyar-milyar tahun lamanya.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa berapa pun pahala yang kita kumpulkan di dunia ini, tidak akan pernah cukup untuk membiayai kebahagiaan kita di akhirat nanti.

Oleh sebab itu maka orientasi ibadah umat Islam harus dirubah. Bukan demi untuk memperoleh dan mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, akan tetapi demi untuk mengharapkan Rahmat dan Ridho Allah swt. Begitulah yang diajarkan oleh guru kita kepada murid-muridnya.

Seseorang yang beribadah dan beramal kebaikan tidak untuk tujuan mendapatkan pahala, akan tetapi demi untuk mengharapkan Ridho Allah swt, maka dia akan terbentuk menjadi pribadi yang ikhlas. Terserah pada Allah swt semata, apapun hasilnya terserah pada Allah saja.

Demikian juga balasan yang diterima dari Allah swt dia akan terima dan syukuri. Apabila suatu saat Allah swt mengujinya dengan berbagai kesulitan, maka dia akan bersabar.

Melalui sikap dan orientasi yang demikian inilah, maka seseorang akan terbentuk akhlak dan sifatnya menjadi pribadi yang Sabar, Jujur dan Ikhlas.

Demikianlah tulisan ini dibuat, semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang Sabar, Jujur dan Ikhlas. Karena bukan karena banyaknya pahala maka seseorang akan dapat masuk ke dalam surga, akan tetapi karena Rahmat dan Ridho Allah swt saja yang dapat menyelamatkan manusia dari api neraka. Pahala berapa pun banyaknya itu, tidak akan cukup untuk membiayai kehidupan kita yang bermilyar-milyar tahun lamanya kelak di akhirat nanti.

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Dalam kehidupan yang abadi, maka berapapun banyaknya pahala tidak akan cukup. Sungguh ini adalah suatu perhitungan matematika yang sangat sederhana. Itulah mengapa guru kita mengajarkan agar kita tidak berorientasi pada mengejar pahala. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.41