Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 12 Januari 2018

Teka-Teki Besar Umat Islam

Pada hari ini, sebagian besar umat Islam, meskipun masih terdapat kerancuan pada motivasi ibadah demi untuk mengejar pahala, akan tetapi sebenarnya sebagian besar umat Islam pada hari ini setuju bahwa seharusnya ibadah yang dilakukan itu adalah demi untuk mendapatkan Kedihoan Allah swt. Sehingga kemudian banyak dari umat Islam menjadikan hal ini sebagai jargon utama mereka, yaitu melaksanakan amal dan perbuatan mereka demi untuk Ridho Allah swt.

Lalu, apabila kita menggali lebih dalam lagi, ternyata pertanyaan: bagaimanakah caranya agar supaya kita memperoleh Ridho Allah? Pertanyaan ini masih merupakan teka-teki besar sampai dengan hari ini. Kebanyakan ulama dan ustadz yang memberikan ceramah kepada umat masih belum bisa memastikan jawabannya. Sehingga secara singkat dapat kita simpulkan bahwa pertanyaan tersebut di atas adalah masih merupakan suatu teka-teki besar bagi umat Islam saat ini.

Bagi sebagian ulama dan ustadz ketika mereka menyampaikan ceramahnya untuk mengajak umat melaksanakan suatu amalan tertentu, maka di akhir ceramah mereka dikatakan bahwa mudah-mudahan, atau Insya Allah bahwa amalan tersebut akan Dirihoi Allah swt. Jadi artinya hal tersebut adalah belum pasti dan masih berupa harapan.

Namun ada juga beberapa orang yang beranggapan bahwa apabila suatu amalan sudah sesuai dengan dalil-dalil dari al-Quran dan hadits, maka amalan tersebut pasti Diridhoi Allah swt. Benarkah anggapan yang demikian ini? Jawabannya adalah tidak benar. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bukan amalan tersebut sudah sesuai dengan dalil, akan tetapi yang benar adalah amalan tersbut sudah sesuai dengan pemahaman mereka terhadap dalil.

Mari kita buat suatu contoh kasus untuk mempermudah menjelaskan pernyataan di atas tadi. Misalnya saja, ada seorang ustadz memahami suatu dalil dari al-Quran berupa ayat 5 dari surat at-Taubah berikut ini:

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ
وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِي

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS 9:5)

Kemudian ustadz tadi memerintahkan pengikutnya untuk segera membunuh orang-orang musyrikin dimana saja mereka berada dengan dalih bahwa hal tersebut adalah sudah sesuai berdasarkan dalil al-Quran. Menurut anda apakah perbuatan amalan orang-orang seperti itu akan Diridhoi Allah? Jawabannya adalah tidak. Karena sesungguhnya apa yang mereka anggap bahwa amalan mereka tadi sudah sesuai dengan dalil, adalah ternyata sebenarnya amalan mereka itu sudah sesuai dengan pemahaman mereka sendiri terhadap dalil. Bukan sesuai dengan dalilnya itu sendiri. Sesuai dengan dalil dan sesuai dengan pemahaman terhadap dalil adalah dua hal yang jauh berbeda. Dalil al-Quran dibuat oleh Allah swt, sedangkan pemahaman dibuat oleh manusia yang mencoba memahaminya. Dan ternyata pemahaman ustadz mereka tadi itu adalah keliru.

Kesimpulannya amalan yang sesuai dengan pemahaman manusia terhadap dalil dari kitab al-Quran dan Hadits, belum tentu benar dan belum tentu Diridhoi Allah swt. Itulah mengapa banyak ustadz dan penceramah yang di akhir ceramahnya menyatakan insya Allah apa yang dianjurkan dalam ceramahnya tadi mendapat Ridho Allah. Artinya penceramah itu tidak yakin, bahwa Allah pasti akan meridhoi ajakan ceramahnya. Karena itu semua adalah hasil dari pemahaman mereka.

Jadi kalau begitu amalan seperti apakah yang pasti akan Dirihoi Allah? Guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya agar dalam kehidupan dunia yang singkat ini kita tidak berjudi atau mengira-ngira bahwa amalan kita itu sudah Dirihoi Allah swt. Padahal, bisa jadi amalan kita itu tidak pernah mendapat Keridhoan Allah swt.

Apabila suatu amalan atau perbuatan atau pun pernyataan sikap beberapa orang mukmin mendapat Keridhoan Allah swt, maka Dia tidak segan untuk memberitahukan hal tersebut melalui Rasul-Nya atau melalui Malaikat-Nya. Jadi selalu ada konfirmasi dari Allah swt langsung kepada kelompok mukmin tadi. Contohnya adalah tatkala beberapa orang mukmin menjelang perjanjian Hudaibiyah menyatakan sumpah setia mereka kepada perjuangan Rasulullah saw di Batur Ridwan, maka Allah swt mengkonfirmasi sumpah setia mereka itu mendapat Ridho Allah swt.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ
السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS 48:18)

Begitulah seharusnya, sehingga orang-orang mukmin merasakan ketenangan dalam hati mereka karena Allah swt telah Ridho terhadap mereka. Inilah yang disebut sebagai kepastian. Bukan sesuatu yang tidak pasti dan masih berupa harapan.

Di akhir zaman seperti sekarang ini, guru kita menginformasikan kepada murid-muridnya, bahwa diantara amalan yang pasti akan mendapat Keridhoan Allah swt, adalah amalan berzikir untuk senantiasa mengingat Allah setiap saat, dengan menyatakan Syahadat, Istighfar dan Sholawat di dalam hati. Allah swt telah mengkonfirmasi Keridhoan-Nya terhadap amalan ini melalui Petunjuk-Nya. Jadi bukan berupa pemahaman terhadap dalil yang memastikan Keridhoan Allah swt tersebut, tapi konfirmasi dari Allah swt itulah yang memastikannya.

Dengan demikian maka guru kita telah menjamin, bahwa barangsiapa yang dengan keikhlasan dan ketulusan hatinya benar-benar mengamalkan amalan ini, maka pasti Allah swt akan Meridhoi amalan orang tersebut. Pasti.

Demikianlah tulisan ini dibuat untuk menjawab teka-teki terbesar umat Islam saat ini: apakah Allah swt ridho terhadap kita? Apakah selagi hidup di dunia ini, kita dapat memastikan apakah kita akan terbebas dari api neraka atau tidak? Hidup di dunia yang hanya sekejap ini pergunakanlah sebaik-baiknya. Pastikan bahwa nanti di akhirat kita bukan termasuk kedalam orang-orang yang menyesal. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 23.42