Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Monday, 12 February 2018

What is Legal Basis of Doing Dhikr?

Dalam benak sebagian besar umat Islam saat ini, maka seluruh perilaku dan ibadah yang dilakukannya senantiasa harus didasarkan oleh suatu dasar hukum agama Islam tertentu. Misalnya saja dasar hukumnya adalah wajib, sunnah ataukah mubah atau bahkan haram. Semua yang dilakukan oleh umat Islam harus berdasarkan dasar hukum agama Islam tersebut.

Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah dasar hukumnya berzikir? Banyak sekali di kalangan umat Islam yang rancu terhadap ibadah yang satu ini, yaitu berzikir. Banyak yang tidak pasti dengan dasar hukumnya, dan juga banyak yang tidak mengerti kedudukannya. Sehigga akibatnya banyak diantara kalangan umat Islam saat ini yang tidak mengerjakannya, karena dianggap bahwa berzikir merupakan sunnah Nabi semata. Dikerjakan mendapat pahala, akan tetapi apabila ditinggalkan tidak menjadi dosa.

Saudara-saudaraku, hal tersebut di atas adalah sesuatu yang keliru dan salah. Apabila kita membuka kitab suci al-Quran, maka akan kita dapati di dalamnya: perintah yang paling banyak dituliskan di dalam al-Quran adalah berzikir kepada Allah swt. Hampir-hampir sebagian besar isi dari al-Quran itu berisi kata ‘Zikir’. Jadi jelas bahwa berzikir adalah suatu perintah Allah swt yang perintah tersebut disebutkan berulang-ulang kali di dalam al-Quran dalam jumlah yang sangat banyak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS 33:41)

Jadi dengan demikian menjadi jelaslah sekarang, bahwa ternyata berzikir itu merupakan Perintah Allah swt kepada seluruh orang-orang yang beriman.

Apakah berzikir merupakan Perintah Allah yang baru? Tidak, perintah berzikir itu sudah ada dari masa-masa Nabi dan Rasul Allah sebelumnya. Jadi, sebelum Allah swt menurunkan perintah untuk Sholat kepada Rasulullah saw, sebelum perintah berzakat dan perintah wajib lainnya, Allah swt telah memerintahkan ibadah berzikir ini kepada para Nabi dan Rasul-Rasul Allah sebelumnya.

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۖ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا ۗ
وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Berkata Zakariya: "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan berzikirlah menyebut (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari". (QS 3:41)

Jadi, perintah untuk berzikir merupakan perintah yang sudah lama, sudah ada semenjak Nabi dan Rasul sebelum Muhammad saw.

Apa yang terjadi apabila umat Islam melupakan perintah berzikir? Apabila seseorang melupakan perintah berzikir, maka dia akan menjadi lalai. Orang yang lalai adalah orang yang menjadi sasaran empuk untuk dihasut dan diperdaya syaithan.

Tidak peduli siapa pun dia, apa pun pangkat dan jabatannya, apakah dia seorang rakyat biasa ataukah dia seorang ulama, apabila melupakan zikir kepada Allah swt, maka dia adalah sasaran empuk untuk dihasut dan diperdaya syaithan. Bukti dan korbannya sudah banyak yang berjatuhan. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 10.37