Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Senin, 30 April 2018

Jiwa Yang Melalaikan Tuhannya

Sebelum jiwa ditiupkan kedalam raga manusia (alam rahim sampai ke alam dunia), hakikatnya setiap dan seluruh jiwa-jiwa berada di alam alastu (alam persaksian) mereka semua bersaksi dan menyatakan sumpah dari masing-masing jiwa kepada Tuhannya. Momentum itu diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an ;

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS 7:172)

Sejak di alam alastu (alam persaksian) sejatinya jiwa manusia sudah mengenal dengan Tuhannya, bahkan sangat dekat sekali. Tetapi kita dapati banyak dari manusia sejak anak-anak hingga dewasa bahkan ketika datangangnya hari kiamat, jiwa manusia cenderung melalaikan Tuhannya? Ragu terhadap Tuhannya? Siapa Tuhannya? Siapa dirinya? Kenapa ia ada di dunia? Untuk apa ia hidup didunia? Dan mengapa demikian? Jawabannya adalah orang tua dan lingkungan. Peran penting orang tua dan lingkunganlah sangat berpengaruh sekali terhadap kejiwaan seseorang, sehingga pertumbuhan dan perkembangan raga menjadi lebih efektif dan jiwa bekerja sebagaimana mestinya.

Jiwa yang awal mula telah dibekali tentang pengetahuan akan Tuhannya ketika ditiupkan kedalam raga seseorang berupa janin terjadi “gap”, karena akal sang janin belum berkembang secara maksimal, sehingga belum siap menerima pengetahuan yang jiwa telah miliki. Pengetahuan itu terkunci di dalam jiwa yang ada pada raga masing-masing manusia. Seiring berjalannya waktu raga makin tumbuh, kegiatan-kegiatan mulai aktif, dan pengaruh-pengaruh buruk mulai timbul sejak usia anak-anak sampai dewasa, sehingga pengetahuan itu terkubur lamanya di dalam diri.

Jika Allah SWT tidak memberikan taufiq serta hidayah kepada seseorang, maka pengetahuan tentang jati diri yang diterima di alam alastu (alam persaksian) tersebut tidak akan pernah terungkap hingga ia meninggal dunia dan berpindah ke alam barzakh.

Ujian hidup sering kali dijumpai seperti ditinggal orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, kekurangan harta, dan berbagai hal yang dapat mengguncang hidup dan menjadikan orang tersebut berpikir dan mencari kesejatian hidup. Persoalan seperti inilah membuat jiwa mendapatkan energi kembali, seiring ilmu-ilmu yang diperoleh dan pembersihan jiwa yang dijalani, perlahan-lahan pengetahuan tersebut mulai terungkap dengan sendirinya “Our Own Personal Legend”.

Jiwa yang bersih akan memancarkan suatu cahaya illahi sehingga menyerap energi-energi positif yang ada pada alam semesta ini, sebaliknya jika jiwa itu ternodai atau kotor maka cahaya itu akan redup bahkan bisa hilang sampai tidak berbekas sedikutpun yang membuat energi-energi positif tersebut menjadi terhalang. Allah SWT menyinggung persoalan tersebut di dalam Al-Qur’an ;

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS 91:9-10)

Dan di ayat lain pula Allah SWT memanggil seakan “Rindu” kepada hambanya,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS 89:27-30)

Itulah mengapa kita diharus kan memperbanyak dzikir syahadatain (dua kalimat syahadat) setelah itu istighfar serta sholawat kepada Rasulullah SAW, karena ketiganya adalah amalan yang paling cocok untuk manusia hidup dipermukaan bumi ini, amalan yang akan menuntun untuk mengetahui jati dirinya, Tuhannya, serta kecintaan terhadap Rasul-Nya SAW terutama dalam menteladani akhlaqnya yang mulya.

Mari mulai saat ini kita penuhi akan panggilan Tuhan dan berusaha dengan gigih untuk membersihkan setiap noda yang menempel pada jiwa kita masing-masing, sehingga kita tidak di kategorikan sebagai hamba-hamba yang lalai dengan Tuhannya. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN di 05.35