Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Jumat, 08 Juni 2018

Fatamorgana Kebenaran

Fatamorgana adalah bagian dari ilusi, sesuatu yang terlihat tetapi nyatanya adalah tidak seperti yang terlihat tadi. Sebagaimana ketika siti Hajar, istri dari Nabi Ibrahim as, dahulu melihat air di padang pasir dari kejauhan, disangkanya itu adalah air sehingga ia berlari mendekat untuk mencari air bagi puteranya Ismail yang masih bayi dan kehausan, akan tetapi ternyata tidak ada air. Itu adalah fatamorgana. Hanya bayang-bayang saja, bukan yang sejati atau sebenarnya.

Begitu juga ketika para tukang sihir pendukung Fir’aun menyihir tali temali menjadi bergerak meyerupai ular, maka itu adalah juga fatamorgana. Ilusi penglihatan saja, tali atau tambang tidak bisa dirubah menjadi mahluk hidup seperti ular. Hanya Allah swt saja yang bisa menghidupkan benda mati menjadi mahluk hidup.

Demikian juga dengan apa yang saat ini bayak sekali didakwahkan di banyak masjid-masjid dan televisi oleh beberapa ustadz. Mereka mengajak agar umat Islam senantiasa dekat dengan al-Quran, senantiasa membaca al-Quran dan selalu bersahabat dengan al-Quran. Mempergunakan al-Quran sebagai satu-satunya pedoman hidup dan tuntunan di dalam kehidupannya, di dalam kehidupan masyarakat dan negaranya.

Lho, apa yang salah dengan hal tersebut di atas? Kesalahannya adalah pada penempatan al-Quran yang tidak semestinya. Ketika seseorang atau seorang ustadz mengamalkan ajaran al-Quran, maka yang sebenarnya sedang dilakukannya adalah mengamalkan apa yang dia pahami dengan al-Quran, bukan sejatinya isi al-Quran itu sendiri.

Apakah seseorang yang senantiasa merasa dekat dan mendasarkan diri pada al-Quran bisa menjadi keliru atau tersesat? Jawabannya adalah Ya, mungkin saja.

Karena yang benar itu adalah bahwa seseorang seharusnya dekat dengan Allah swt, seseorang itu haruslah mendasarkan diri pada Petunjuk Allah swt. Bukan dengan al-Quran, karena percuma saja seseorang dekat dengan al-Quran tetapi jauh dari Allah swt.

Pada hari ini banyak sekali anak muda yang salah dan keliru memahami hal ini. Mereka menyangka bahwa dekat dengan al-Quran merasa sudah yang paling benar. Padahal sebenarnya mereka itu dekat dengan pemahamannya terhadap al-Quran. Sebenarnya mereka itu dekat dengan pemahaman para ustadz yang menafsirkan al-Quran. Bukan dengan al-Qurannya sendiri. Itulah fatamorgana, ilusi atau sihir.

Apakah seseorang yang senantiasa merasa dekat dan mendasarkan diri pada al-Quran bisa menjadi keliru atau tersesat? Jawabannya adalah Ya, mungkin saja. Hanya orang-orang yang dekat dengan Allah saja dan berpegang teguh padi tali Petunjuk Allah yang tidak mungkin akan tersesat selama-lamanya.

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS 31:22)

Sebaliknya orang-orang yang berpedoman pada kitab, maka sebenarnya mereka itu berpedoman pada pemahaman ahli kitab yang menafsirkannya. Dari zaman dahulu kala, para ahli kitab itu akan membuat para pengikutnya menjadi keliru dan melenceng. Bahkan bisa menjadikan pengikutnya itu kafir. Hanya orang-orang yang berpegang teguh pada Allah swt sajalah yang akan mendapat Petunjuk ke jalan yang lurus.

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS 3:101)

Orang-orang yang meledakan dirinya menjadi teroris adalah orang-orang yang mengaku dirinya sedang melaksanakan jihad atas dasar dalil kitab al-Quran. Begitulah apabila orang hanya dekat dengan pemahaman pribadi atau pemahaman para ustadz yang manfsirkan al-Quran, tanpa Petunjuk Allah swt. Mereka bisa tersesat dan keliru, jauh dari jalan yang lurus.

Benar sekali ajaran dari guru kita, manusia itu seharusnya dekat dengan Allah swt, bukan dengan kitab. Maka dari itu yang terpenting adalah hati senantiasa berzikir dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Bukan mendekatkan diri kepada al-Quran. Bagaimana mungkin orang yang merasa dirinya dekat dengan al-Quran, tetapi kenyataannya jauh dari Petunjuk Allah? Itu adalah fatamorgana, merasa sudah benar padahal masih keliru. (AK/ST)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 13.40