YAKDI - Opini Aktual Islam - Allah Yang Menyembuhkan
Opini Aktual

Senin, 16 Juli 2018

Allah Yang Menyembuhkan

Dalam suatu pengajian, guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa ada suatu perbedaan yang besar antara ilmu kedokteran Barat dengan ilmu kedokteran Timur yang pertama kali dulu dikembangkan oleh para sarjana dan ahli kedokteran muslim.

Ilmu kedokteran Barat sebagaimana yang saat ini banyak kita jumpai adalah merupakan ilmu kedokteran yang mendasarkan ikhtiar dan usaha penyembuhan penyakit atas dasar obat dan perawatan. Tidak peduli apakah pasien yang dirawatnya itu merupakan seorang atheis ataupun seorang yang beriman, pengobatan yang dilakukan oleh ilmu kedokteran Barat menyakini bahwa penyakit dapat disembuhkan berdasarkan obat dan perawatan medis. Ilmu kedokteran Barat meyakini bahwa manusia hanyalah merupakan mahluk kasar yang memiliki tubuh jasmani, dan setiap penyakit merupakan gangguan pada tubuh jasmani belaka.

Sebaliknya ilmu kedokteran Timur yang pertama kali dulu dikembangkan oleh para sarjana dan ahli kedokteran muslim, mendasarkan sistem pengobatan pada suatu keyakinan dan pengharapan kesembuhan dari Allah swt. Segala upaya dan ikhtiar pengobatan adalah semata-mata ditujukan untuk membantu penyembuhan suatu penyakit, sedangkan kesembuhannya itu sendiri adalah hasil dari Ketentuan dan Keputusan Allah swt. Ilmu kedokteran Timur menyakini bahwa manusia adalah merupakan mahluk jasmani dan rohani sekaligus, sehingga setiap upaya perawatan dan pengobatan hanyalah untuk membantu kesembuhan jasmani pasien, sedangkan kesembuhan menyeluruh terhadap jasmani dan rohani pasien adalah tergantung dari hasil proses penyembuhan yang dilakukan oleh jasmani dan rohani pasien itu sendiri atas Ketetapan dan Keputusan Allah swt.

Ada suatu kisah menarik yang dahulu pernah menimpa Nabi Musa as, yaitu ketika beliau dikejar pasukan Fir’aun, kemudian sakit perutnya. Nabi Musa as memohon kepada Allah swt untuk disembuhkan, kemudian Allah swt menyuruh Nabi Musa as untuk naik ke atas bukit mengambil daun untuk dimakan agar sakit perutnya sembuh. Belum sempat Nabi Musa as sampai ke pohon yang ada daunnya itu, sakit perutnya sembuh. Kemudian ketika Nabi Musa as akan bersiap bergerak beserta pasukannya, kembali beliau merasakan sakit perut. Tanpa ia meminta kepada Allah swt untuk disembuhkan, Nabi Musa as berinisiatif sendiri menuju pohon yang ada daunnya tadi. Setelah dimakan, ternyata sakit perutnya tidak sembuh. Nabi Musa as kemudian mengeluh kepada Allah swt kenapa ketika cara itu dilakukan justru tidak menyembuhkan sakit perutnya. Allah swt kemudian mengatakan, yang bilang daun itu menyembuhkan penyakit itu siapa? Yang menyembuhkan penyakit adalah Aku sendiri, kata Allah swt.

Hal ini selaras dengan kesimpulan dan pernyataan Nabi Ibrahim as yang tercatat dalam al-Quran.

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“dan apabila aku (Nabi Ibrahim as) sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS 26:80)

Demikianlah guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya untuk kembali kepada keyakinan dan cara-cara penyembuhan penyakit sebagaimana yang dilakukan oleh ilmu kedokteran Timur dahulu. Meyakini sepenuhnya bahwa yang menyembuhkan penyakit bukanlah dokter ataupun obat, tetapi kesembuhan adalah Ketetapan dan Keputusan Allah swt terhadap segala upaya dan ikhtiar kita.

Bahkan apabila keyakinan kita begitu kuatnya, maka kita akan menemukan suatu kesimpulan yang luar biasa, ternyata sesungguhnya Yang Menyembuhkan Penyakit itu adalah Allah swt. Dengan atau tanpa ikhtiar sekalipun, ternyata sebenarnya Yang Menyembuhkan Penyakit itu adalah Allah swt. Itulah kesimpulan yang diperoleh oleh Nabi Ibrahim as dan kemudian kesimpulannya itu diabadikan dalam salah satu ayat al-Quran sebagaimana yang dituliskan di atas tadi. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.49