YAKDI - Opini Aktual Islam - Tidak Ada Islam Karena Keturunan
Opini Aktual

Selasa, 24 Juli 2018

Tidak Ada Islam Karena Keturunan

Sampai dengan hari ini, masih banyak sekali orang yang mengira bahwa karena orang tua mereka beragama Islam, maka otomatis mereka juga dengan sendirinya beragama Islam. Jadi Islam karena faktor keturunan dari orang tua.

Menurut guru kita, tidak ada dasar dalil dan hukum yang mengesahkan keislaman seseorang karena faktor keturunan. Tidak ada di dalam kitab suci al-Quran maupun hadits yang menyatakan bahwa seseorang otomatis akan menjadi orang Islam karena faktor keturunan.

Demikian juga halnya dengan kenyataan sejarah dahulu, banyak sekali kita menemukan kasus misalnya seorang anak yang termasuk dalam golongan orang-orang musyrik, padahal orang tuanya adalah merupakan orang yang beriman. Contohnya ialah seperti pada kasus Nabi Nuh as. Di lain pihak ada kasus yang terjadi berkebalikannya, yakni anaknya merupakan seorang yang beriman meskipun orang tuanya merupakan penyembah berhala. Contohnya adalah seperti dalam kasus Nabi Ibrahim as.

Jadi tidak ada aturan maupun dalil yang menyatakan bahwa seorang anak secara otomatis termasuk kedalam agama yang dianut oleh orang tuanya. Bahkan al-Quran secara terang-terangan mencela sikap dan kebiasaan seorang anak yang ikut-ikutan saja secara otomatis mengikuti ajaran agama orang tua mereka. Berikut ini adalah ayat yang mencela kebiasaan tersebut.

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ
أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS 43:23)

Nah, dengan demikian maka pertanyaannya adalah apakah kita dan semua umat Islam saat ini perlu menyatakan dua kalimat Syahadat sebagai pernyataan keislaman kita? Jawabannya adalah Ya, dan sangat perlu setiap orang untuk membuat pernyataan dengan kalimat Syahadat sebagai tanda keislaman dan kepasrahan orang tersebut kepada Allah swt.

Dimanakah dan di hadapan siapakah kita harus mengucapkan pernyataan Syahadat tersebut? Jawabannya adalah di hadapan Allah swt. Pernyataan Syahadat tidak perlu harus dilakukan di depan manusia, bahkan yang terpenting adalah kita melakukannya di hadapan Allah swt.

Apakah cukup dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat maka seseorang sudah menjadi orang Islam? Jawabannya adalah Ya, di hadapan manusia maka hanya dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat saja maka seseorang sudah bisa dinyatakan sebagai orang Islam. Akan tetapi di hadapan Allah swt tidak cukup hanya mengucapkan saja. Pernyataan Syahadat seseorang itu harus dibarengi dengan suatu niat yang lurus dan kepasrahan yang total di dalam sanubarinya.

Apakah setelah menjadi orang Islam kita perlu mengulang-ulang pernyataan Syahadat? Jawabannya adalah Ya. Karena tanpa disadari sebenarnya keislaman seseorang mudah gugur, misalnya saja pada saat seseorang merasa dengki, berburuk sangka atau pun mengikuti ajakan syaithan untuk berbuat keji, maka pada saat itu keislaman seseorang sebenarnya sudah gugur. Sehingga dengan demikian maka pernyataan Syahadat itu harus senantiasa diulang-ulang terus setiap hari atau setiap saat.

Pada saat seseorang memiliki rasa dengki, apakah pada saat itu dia bukan lagi merupakan orang Islam? Jawabannya adalah Ya.

Jadi kalau demikian maka sebenarnya banyak sekali orang-orang muslim yang telah gugur keislamannya dan apabila mereka meninggal dunia maka mereka mati tidak dalam keadaan Islam? Jawabannya adalah Ya.

Oleh sebab banyak sekali orang muslim yang mati bukan dalam keadaan Islam, maka para Nabi dan Rasul terdahulu mewasiatkan hal ini kepada anak-anak mereka sebagaimana yang diabadikan di dalam ayat suci al-Quran berikut ini.

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS 2:132)

Seorang anak Nabi ataupun Rasul tidak secara otomatis merupakan orang Islam, karena faktor keturunan bukan merupakan jaminan. Bahkan tidak juga ada jaminan bahwa anak-anak Nabi dan Rasul itu akan mati dalam keadaan Islam. Jadi dengan demikian maka kesimpulannya adalah bahwa kita harus senantiasa mengulang-ulang pernyataan kita berupa dua kalimat Syahadat di hadapan Allah swt, sehingga dengan demikian kita senantiasa menjadi orang Islam dan nanti apabila kita mati maka mati dalam keadaan Islam. Amiiin Ya Robbal alamiin. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.45