YAKDI - Opini Aktual Islam - Belajar Mengenal Diri Sendiri
Opini Aktual

Senin, 30 Juli 2018

Belajar Mengenal Diri Sendiri

Guru kita mengatakan dalam salah satu pengajian, bahwa hanya dengan membaca dan mengkaji al-Quran saja maka manusia tidak akan dapat mengenal Allah swt. Karena memang Allah swt tidak terdapat di dalam al-Quran, Dia sama sekali tidak bersemayam disana.

Lalu, bagaimana cara kita mengenal sejatinya Allah swt? Dalam hal ini guru kita mengajarkan agar kita hendaknya bisa mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum dapat mengenal Allah swt. Berikut ini adalah salah satu hadits dari Rasulullah saw.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka fanalah dirinya.”

Bagaimana cara kita mengenal diri kita sendiri? Saudaraku, sadarilah bahwa selama ini sebenarnya kebanyakan dari kita tidak mengenal diri kita sendiri. Kita tidak tahu siapa yang memerintahkan jantung kita berdetak, lambung mencerna, ginjal menyaring atau otak menyimpan ingatan dan berpikir. Kita juga tidak mengerti mengapa kita bermimpi di dalam tidur, kita juga tidak pernah merasakan dan melihat ruh kita sendiri, tidak pernah mengerti apa yang terkandung di dalam ruh kita sendiri.

Siapakah sebenarnya kita? Dimanakah letak sanubari kita? Mengapa alam semesta yang teramat luas ini dikatakan bahwa ternyata masih lebih luas lagi diri kita? Ya, diri kita sendiri itu sebenarnya adalah misteri bagi kita. Nah, barangsiapa yang berhasil menguak misteri dan rahasia dari diri kita, maka niscaya dia akan mengenal Tuhannya.

Guru kita mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa dalam rangka mengenal diri kita sendiri, dimulai dari proses penciptaan manusia. Dalam proses penciptaan manusia, maka ada satu peristiwa penting yang pertama kali terjadi, yaitu adalah Syahadat, persaksian Ruh kepada Tuhannya.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ
قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini." (QS 7:172)

Sehingga dengan demikian maka bagi kita yang ingin belajar mengenal diri sendiri, maka kita harus memulainya dengan banyak-banyak ber-Syahadat. Menyadari sepenuhnya bahwa Ruh kita dahulu juga ber-Syahadat di hadapan Allah swt.

Kemudian setelah Ruh tersebut ditiupkan kedalam jasad kasar dan kemudian berkembang menjadi manusia yang sempurna, maka mulailah manusia berbuat banyak sekali kesalahan dan dosa. Dirinya yang semula terlahir dalam keadaan fitrah menjadi kotor karena kesalahan dan perbuatan dosa yang diperbuatnya. Oleh sebab itulah maka guru kita mengajarkan agar supaya kita banyak-banyak ber-Istighfar dalam rangka membersihkan diri.

Seseorang yang banyak ber-Istighfar maka rohaninya akan menjadi bersih, dan hatinya menjadi bening. Hati sanubari orang itu akan menjadi peka dan sensitif, mampu merasakan dorongan hati yang berasal dari Petunjuk Tuhan, dan mampu merasakan adanya cahaya di dalam Ruhnya, yaitu Nur Muhammad.

Maka kemudian dengan banyak-banyak ber-Sholawat kepada Rasulullah Muhammad saw, insya Allah Nur Muhammad tadi akan menuntun jiwa dan Ruh kita untuk sampai kepada mengenal Nur Allah. Karena memang di dalam setiap diri manusia sebenarnya terdapat Nur Muhammad dan Nur Allah.

Di dalam diri manusia ada Nur Allah? Itulah mengapa dikatakan bahwa sebenarnya diri manusia itu jauh lebih luas dan lebih besar dibandingkan dengan alam semesta ini.

Demikianlah sekilas rangkuman cara untuk belajar mengenal diri sendiri yang diajarkan oleh guru kita, agar supaya kita tidak menjadi orang yang lupa kepada Allah dan kemudian Allah menjadikan kita lupa kepada diri kita sendiri.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 59:19)

Begitulah, jadi memang ada suatu keterkaitan yang kuat antara mengingat Allah swt dan mengenal diri sendiri.

Barangsiapa yang enggan dan merasa berat untuk ber-Syahadat, ber-Istighfar dan ber-Sholawat, maka dia seperti orang yang melupakan dirinya sendiri. Lupa akan asal-usulnya dahulu, tidak menyadari bahwa dirinya memiliki dosa dan kotoran yang akan menjadi penghalang baginya untuk mengenal Rasul Muhammad saw, Rasul yang akan menghantarkan dirinya kepada mengenal Allah swt. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.02