YAKDI - Opini Aktual Islam - Mari Memilih Pemimpin
Opini Aktual

Minggu, 05 Agustus 2018

Mari Memilih Pemimpin

Beberapa waktu sebelum ini dan juga tahun depan, masyarakat Indonesia disibukan dengan proses pemilihan pemimpin, baik itu pemimpin daerah maupun pemimpin negara. Suasana dan kondisi umum masyarakat Indonesia penuh dengan pernyataan-pernyataan politik, pendapat dan langkah politik.

Pendapat umum digiring oleh suatu kelompok tertentu untuk mengarahkannya kepada keputusan untuk memilih seorang kandidat tertentu. Kampanye terselubung maupun terang-terangan diumbar secara terbuka dan secara masif, sehingga masyarakat akan tertarik untuk menentukan pilihannya kepada seorang kandidat tertentu.

Akibatnya masyarakat Indonesia menjadi bingung. Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, ada tokoh yang ketika berkampanye menjanjikan banyak hal, akan tetapi kenyataannya setelah tokoh tadi terpilih, semua yang telah dijanjikan sebelumnya tidak dapat dipenuhi.

Kita semua, sebagai masyarakat biasa, sebagai orang awam tentu saja tidak mampu untuk meneliti dan memastikan apakah kandidat yang akan kita pilih nanti merupakan seorang yang benar-benar jujur, cocok dan tepat untuk menjadi pemimpin. Jadi kalau begitu, bagaimanakah caranya kita memilih pemimpin yang tepat?

Kita sebagai manusia memang memiliki banyak sekali keterbatasan dan kelemahan dalam membuat suatu pertimbangan apakah seorang kandidat memang merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan pemimpin. Biasanya kita memilih kandidat tersebut berdasarkan partai politiknya, berdasarkan kesamaan pandangan dan pikirannya, berdasarkan kesamaan ide atau berdasarkan kesamaan agama dengan kita.

Apakah cara memilih pemimpin berdasarkan cara-cara yang demikian tadi itu sudah tepat? Jawabannya adalah Tidak Tepat. Belum tentu kandidat yang kita pilih berdasarkan kesamaan hal-hal tersebut di atas tadi akan menghasilkan pemimpin yang tepat. Berdasarkan pengalaman sejarah, cara yang demikian itu tidak selalu tepat. Banyak sekali kanidat-kandidat yang sebenarnya lebih tepat untuk dijadikan pemimpin justru malahan tersingkir.

Lalu, bagaimana cara kita memilih pemimpin? Bagi masyarakat Indonesia yang mengakui adanya dan berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka sudah sewajarnya untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan petunjuk dalam menentukan pilihan yang tepat untuk menentukan pemimpin.

Apakah di zaman sekarang ini, dimana al-Quran sudah lengkap dan sempurna, Allah swt masih akan menurunkan petunjukNya? Jawabannya adalah Ya. Meskipun sudah ada al-Quran sebagai pedoman, akan tetapi tetap saja Allah swt akan menganugerahkan petunjukNya kepada orang-orang yang beriman agar tidak salah pilih. Allah swt akan mengilhami petunjukNya melalui hati orang-orang yang beriman.

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“.....dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 64:11)

Di zaman yang sebagian dari ustadz dan penceramah merasa cukup dengan al-Quran saja dan tidak meyakini adanya petunjuk tambahan di zaman ini, apakah Allah swt benar-benar akan memberikan petunjukNya? Jawabannya adalah Ya.

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ
“Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk.” (QS 92:12)

Di zaman sekarang ini, dimana setiap kandidat memiliki pendukung dan tidak segan-segan mempergunakan dalih agama demi untuk menggiring umat Islam agar memilih dia, maka mutlak kita harus memohon petunjuk kepada Allah swt agar tidak tersesat dan tidak salah pilih. Karena siapa saja bisa mempergunakan dalih agama demi kepentingan dirinya atau kelompoknya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Snouck Hurgronje dahulu.

Begitulah yang diajarkan oleh guru kita. Mari kita mantapkan hati dan niat kita untuk memohon petunjuk kepada Allah swt. Barangsiapa yang yakin dan benar-benar tulus dalam memohon petunjuk, pasti Allah swt akan memberi petunjuk kepadanya. Asalkan hati sanubari orang tadi bersih dan bening, pasti dia akan dapat mendengar dan merasakan petunjuk Allah swt tersebut.

Kepada para ustadz dan penceramah, mohon tidak mengharamkan seseorang untuk memohon petunjuk langsung kepada Tuhannya, karena pada hari ini Tuhan tidak sedang tidur. Dia senantiasa memantau mahlukNya dan mengatur seluruh urusan KerajaanNya. Jangan paksakan kehendak dan pendapat Anda para ustadz dan penceramah sebagai pendapat yang paling benar, karena Petunjuk Allah swt itulah yang paling benar. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 21.23