Home | Sejarah | Pimpinan | Inti Ajaran | Artikel | Arsip | Kontak Kami
Opini Aktual

Sabtu, 12 September 2015

Teror Bukanlah Jihad

Bulan September 14 tahun yang lalu, sebuah serangan teroris menghantam AS. Dua gedung kembar WTC di New York dihantam oleh pesawat sipil yang dibajak. Sebuah pesawat lagi yang dibajak menhantam Pentagon, AS. Dalam satu hari seluruh penerbangan di AS di bekukan, tidak ada yang boleh lepas landas. Dunia mendadak dikagetkan dengan serangan teroris, dan kemudian disusul dengan sentimen anti-Islam terjadi di mana-mana.

Pada bulan September yang sama di tahun 1945, beberapa orang pemuda Indonesia geram melihat bendera belanda berkibar di atap hotel Yamato, Surabaya. Mereka naik ke atas atap hotel tersebut, menurunkan bendera belanda dan merobek warna birunya dan berganti menjadi bendera merah putih, Indonesia. Merobek bendera lambang penjajahan dan menggantinya dengan bendera negeri yang mempertahankan kemerdekaannya.

Kedua peristiwa tadi adalah gambaran dari perjuangan menghadapi hegemoni kekuatan super power dan lepas dari penjajahan dan pengaruh kekuasaan negara yang adi kuasa. Akan tetapi cara yang ditempuh keduanya amat jauh berbeda.

Bangsa dan rakyat Indonesia telah menunjukan kepada dunia bagaimana suatu perjuangan ditempuh dengan cara-cara yang heroik, dengan cara yang ksatria dan jantan dan cara yang ditempuh oleh Rasullullah saw. Dengan berbekal senjata yang seadanya, dengan hanya bambu runcing, bangsa ini telah dengan gagah beraninya melawan tentara Belanda dalam agresi militernya. Tdak tanggung-tanggung perlawanan itu memakan korban 2 orang jenderal dari sekutu tewas menjadi korban.

Sedangkan cara-cara teror yang dipakai oleh para pejuang di afghanistan bukan lah merupakan cara yang Islami. Nabi Muhammad saw belum pernah mengajarkan apalagi mencontohkan hal yang serupa. Dalam perang Islam memberikan aturan dan contoh yang sempurna, ksatria dan heroik. Teror bukanlah cara Islam.

Apabila seseorang adalah seorang pejuang sejati Islam, maka hadapilah tentara musuh dengan ksatria, dengan semangat dan doa sebagaimana yang dilakukan bangsa ini di pertempuran Surabaya. Bukan dengan cara mundur dan bersembunyi di dalam goa-goa Tora Bora, lalu lenyap bersembunyi.

Teror bukanlah cara perjuangan yang Islami, dan menjadi teroris tidak akan menjadikan seseorang sebagai pahlawan. Seorang teroris tidak akan tergolong sebagai seorang syahidin. Membunuh masyarakat sipil, bersembunyi dari tentara musuh dan menebar ancaman bukanlah cara yang ksatria, akan tetapi adalah sikap pengecut. (AK)


Diposkan oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN INDONESIA di 17.15