YAKDI - Opini Aktual Islam - Pemimpin Pilihan Tuhan
Opini Aktual

Minggu, 05 Agustus 2018

Pemimpin Pilihan Tuhan

Sesungguhnya bagi yang belum menyadari, maka sadarilah mulai sekarang bahwasanya bumi yang kita pijak ini adalah bagian dari Kerajaan Allah swt yang Maha Luas. Negeri-negeri seperi Indonesia, Malaysia, singapura, dsb seluruhnya itu adalah bagian dari Kerajaan Allah swt. Nah, di dalam KerajaanNya itulah Allah swt mengatur segala urusan menurut Kehendak dan KetentuanNya.

Para pemimpin daerah, pemimpin negara, semuanya itu terpilih dan berkuasa adalah atas dasar Kehendak dan Ketentuan Allah swt. Tidak ada satu pun kejadian di muka bumi ini yang luput dari Kuasa Allah swt, semuanya tunduk patuh kepadaNya baik disadari maupun tidak disadari oleh mahlukNya.

Pada zaman dahulu, sepeninggal Nabi Musa as telah terjadi kekosongan pemimpin diantara bangsa bani Israil. Dalam kondisi yang seperti itu, maka munculah seorang tokoh paling berpengaruh saat itu untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin, namanya Jalut. Dia adalah seorang tokoh politik paling berpengaruh saat itu, dan juga termasuk dari golongan orang-orang kaya yang mampu menanggung biaya kampanye secara besar-besaran.

Di lain pihak ada seorang miskin yang bernama Thalut, yang juga memperoleh dukungan dari segelintir masyarakat miskin saat itu. Jumlah pendukungnya sedikit, tidak sebanyak pendukung Jalut.

Dalam kondisi seperti itu, kemudian orang-orang bani Israil menemui nabi mereka untuk bertanya, Nabi Samuel. Nabi tersebut kemudian menyampaikan Petunjuk yang diterimanya dari Allah swt langsung, bahwa pemimpin yang tepat bagi bani Israil saat itu adalah Thalut, bukan Jalut. Sontak saja hal ini menjadi sesuatu yang kontroversial dan ditentang oleh kebanyakan pendukung Jalut saat itu.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ
أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ
وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:247)

Begitulah kiranya kisah zaman dahulu yang dapat dijadikan sebagai pelajaran untuk kita di hari ini, bahwa Allah swt senantiasa memberi petunjuk kepada hamba-hambaNya siapakah pemimpin yang dipilihNya.

Dan ketika pemimpin pilihan Allah swt itu memimpin, maka dia tidak memimpin berdasarkan keinginan dan kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya semata, melainkan dia akan memimpin berdasarkan Petunjuk dan Perintah dari Allah swt.

Memimpin berdasarkan Petunjuk dan Perintah dari Allah swt? Pada zaman tersebut, apakah mungkin ada pemimpin yang demikian? Yang memimpin berdasarkan Petunjuk dan Perintah Allah swt walaupun dia bukan seorang nabi atau rasul? Jawabannya adalah Ya.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS 32:24)

Begitulah kiranya pemimpin pilihan Tuhan tersebut, dia benar-benar memimpin berdasarkan Petunjuk dan Perintah Allah swt, bukan berdasarkan keinginan dan kepentingan pribadinya semata.

Di alam demokrasi seperti sekarang ini, hal yang demikian mungkin terasa aneh dan asing. Hal ini disebabkan karena memang kebanyakan pendapat dan pemikiran kita tentang demokrasi adalah demokrasi ala barat. Padahal di dalam demokrasi Pancasila, begitu itulah yang seharusnya terjadi. Karena negeri ini adalah berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbeda dengan negeri-negeri lainnya, jadi segala sesuatunya memang seharusnya berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 22.08