Opini Aktual

Sabtu, 11 Agustus 2018

Mencari Pemimpin Bagi Orang Miskin

Semenjak dari tahun 2011 lalu, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan adalah lebih dari 30 juta orang, dan sampai dengan hari ini tahun 2018 jumlahnya masih sekitar 26,58 juta orang, sedikit lebih rendah dari tahun 2017 yang berjumlah 27,7juta jiwa. Di luar itu sebenarnya masih banyak sekali penduduk Indonesia yang hidup di sekitar garis kemiskinan, jadi boleh dibilang bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia masih banyak.

Meskipun pemerintahan sudah berlalu silih berganti, rezim dan gaya pemerintahan pun telah berubah-ubah, mulai dari order lama, order baru sampai dengan orde reformasi, semuanya telah berlalu dan berganti-ganti, namum angka penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih tetap signifikan. Jumlahnya masih terlalu banyak dan sepertinya sulit sekali untuk dihilangkan.

Mengapa demikian? Mengapa sulit sekali menghilangkan angka kemiskinan di Indonesia? Jawabannya adalah karena selama ini sebenarnya kebanyakan sistem dan kebijakan pemerintahan di Indonesia tidak terlalu memihak kepada orang miskin. Kepentingan rakyat untuk keluar dari kemiskinan tidak terlalu diakomodasi oleh beberapa sistem pemerintahan yang telah berlalu.

Kebanyakan dari sistem dan kebijakan pemerintahan saat ini adalah terfokus pada angka pertumbuhan ekonomi yang notabene adalah untuk kepentingan industri. Sedangkan subsidi dalam bentuk bantuan kesehatan, pendidikan atau kebutuhan pokok hanyalah bersifat sementara, tidak merupakan solusi permanen yang akan membebaskan seseorang dari jerat kemiskinan dan kebodohan. Kebanyakan dari subsidi pemerintah selama ini tidak mampu mengentaskan kemiskinan.

Oleh sebab itu, pada hari ini sebenarnya kita membutuhkan figur baru seorang pemimpin bangsa yang benar-benar dengan tulus ikhlas berjuang demi untuk mengentaskan persoalan kemiskinan di Indoneisa. Siapakah dia? Tentu saja pemimpin yang mau berjuang demi untuk rakyat miskin adalah dia yang juga berasal dari masyarakat miskin itu sendiri. Ya pemimpin miskin yang akan berjuang bagi rakyat miskin di Indonesia.

Sebagaimana Rasulullah saw dahulu, demikian juga sebagaimana Thalut yang dengan izin Allah swt berhasil mengalahkan Jalut, mereka adalah pemimpin bagi orang-orang miskin, dan mereka itu bukanlah termasuk dari golongan orang-orang kaya.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ
أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ
وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:247)

Hampir sebagian besar pemimpin saat ini sebenarnya mereka gagal untuk memahami arti sebenarnya dari kemiskinan itu seperti apa. Mereka tidak memahami bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang dekat dengan kebodohan, dekat dengan ketidakjujuran dan kemunafikan, bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang dekat dengan kejahiliahan. Sehingga dengan demikian berapa pun subsidi pemerintah yang dianggarkan, apabila tidak dibarengi dengan program pengentasan kebodohan bagi orang miskin, program pengentasan ketidakjujuran dan kemunafikan dari orang miskin, maka semuanya itu akan sia-sia. Subsidi tidak akan menghasilkan apa-apa dan angka kemiskinan akan tetap tinggi.

Pada hari ini, diperlukan figur seorang pemimpin bangsa yang dengan tulus dan ikhlas mau berjuang untuk membela dan mengedepankan kepentingan orang-orang miskin di Indonesia, bukan sekedar demi untuk kepentingan industri, bukan sekedar demi untuk kepentingan angka pertumbuhan ekonomi belaka. Siapakah pemimpin itu? Mari kita cari diantara orang-orang yang hidup dalam masyarakat miskin, diantara mereka itulah akan kita temukan pemimpin yang dimaksud itu. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 09.30