Opini Aktual

Senin, 27 Agustus 2018

Dasar Pondasi Beribadah

Akhirnya terjawab sudah teka-teki yang selama ini belum terpecahkan, teka-teki yang membingungkan dan membawa keragu-raguan. Yaitu tentang pasal beribadah kepada Allah swt. Mengapa kita menjumpai suatu kenyataan bahwa ada orang-orang tertentu yang justru diperbolehkan Allah swt untuk tidak berpuasa, padahal bagi setiap orang muslim saat itu diwajibkan Allah swt untuk berpuasa.

Mengapa kita menjumpai suatu kenyataan bahwa ada orang-orang tertentu yang justru diperbolehkan Allah swt untuk tidak melaksanakan sholat, padahal bagi setiap orang muslim sholat itu adalah wajib hukumnya.

Ternyata begini penjelasannya. Ibadah adalah suatu keniscayaan bagi mahluk seperti jin dan manusia, karena kedua mahluk ini diciptakan Allah swt dengan tujuan agar mereka beribadah kepada Allah swt.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS 51:56)

Nah, dalam hal beribadah kepada Allah swt, kesalahan yang paling banyak dialami oleh umat Islam adalah dasar dari beribadah kepada Allah swt itu adalah hukum Syariat. Ini salah, ini adalah sebuah pemahaman yang keliru.

Kesalahan pemahaman tersebut kemudian dibantah oleh Allah swt sendiri di dalam al-Quran. Dia menyatakan bahwa dasar dari beribadah kepada Allah swt adalah ketaatan yang murni kepada Allah swt. Jadi bukan berdasarkan kitab hukum Syariat.

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي
“Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku ibadahi dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku." (QS 39:14)

Seseorang berpuasa adalah bukan karena mengharapkan pahala atau karena ingin dipuji orang lain, demikian juga dalam hal tidak berpuasa bukan karena malas beribadah atau karena lalai, melainkan semua itu dasarnya adalah karena ketaatan kepada Allah swt.

Seorang wanita yang sedang haid, kemudian dia meninggalkan ibadah sholat atau pun puasa, adalah dalam rangka mentaati perintah Allah swt, bukan mentaati kitab hukum Syariat.

Seorang rasul bernama Ibrahim as, berniat ingin menyembelih dan mengurbankan anaknya Ismail, adalah dalam rangka mentaati perintah Allah swt. Meskipun perintah tersebut adalah bertentangan dengan hukum Syariat. Apabila hukum Syariat yang dijadikan dasarnya, maka apa yang akan dilakukan oleh Nabi Ibrahim as adalah salah, dan apa yang diucapkan oleh iblis yang menggoda beliau itulah yang justru benar karena sesuai dengan hukum Syariat, seorang ayah tidak dibenarkan membunuh anaknya sendiri.

Tetapi ternyata tidak demikian halnya. Dasar dari setiap ibadah adalah ketaatan kepada Allah swt. Seseorang berpuasa atau tidak berpuasa, melaksanakan sholat atau tidak melaksanakan sholat, dasarnya adalah ketaatan yang murni kepada Allah swt. Bukan karena kitab hukum Syariat, dan bukan karena yang lainnya. Begitulah kiranya jawaban dari teka-teki tentang dasar ibadah.

Bagi siapa saja yang sudah berada pada tingkatan ini, beribadah kepada Allah swt berdasarkan karena ketaatan yang murni kepada Allah swt, maka dia layak untuk menyandang gelar seorang yang mukhlis. (AK)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.19