Opini Aktual

Senin, 03 September 2018

Menjaga Kemuliaan Manusia

Pada saat pertama kali manusia diciptakan, Allah swt memerintahkan semua makhluk untuk bersujud kepada manusia. Maka atas perintah Allah swt tersebut, seluruh malaikat bersujud kepada manusia, kecuali iblis. Dia mengingkari perintah Allah swt tersebut dan tidak mau menerima kenyataan bahwa Allah swt telah memuliakan manusia.

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا
“Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." (QS 17:62)

Sebenarnya, apa yang menyebabkan manusia dimuliakan Allah swt? Kebanyakan dari kita mungkin mengira bahwa memang dari awal penciptaan manusia, Allah swt sudah memuliakan kita semua. Benarkah pemahaman yang demikian itu? Jawabannya adalah salah.

Adalah salah dan keliru kalau kita mengira bahwa sedari awal kita semua memang sudah dimuliakan oleh Allah swt. Demikian juga adalah salah dan keliru apabila kita mengira bahwa kedudukan mulia yang diberikan Allah swt kepada manusia adalah karena kita merupakan makhluk yang diciptakan secara sempurna, baik fisik maupun rohaninya.

Menurut pengajaran yang diberikan oleh guru kita, kemuliaan manusia adalah terletak pada akhlaknya. Apabila akhlak manusia mencerminkan nilai-nilai kemuliaan, maka manusia tersebut menjadi mulia. Sebaliknya apabila akhlak manusia mencerminkan perbuatan yang tidak bermoral, maka kedudukan manusia tersebut akan menjadi hina, bahkan lebih hina dibandingkan dengan hewan.

Kemuliaan itu adalah sejatinya milik Allah swt. Siapa saja yang menghendaki kemuliaan dari Allah swt, maka mereka hendaknya menaikan segala perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ
وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS 35:10)

Apakah perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh? Yaitu perkataan-perkataan seperti Syahadat, Istighfar dan Sholawat. Serta amal yang saleh adalah mengamalkan dan menzikirkan perkataan-perkataan tersebut. Itulah rahasia dari mendapatkan serta menjaga martabat kemuliaan pada diri manusia. Rahasia dari akhlaqul karimah.

Jadi yang dimaksud dengan akhlak mulia (akhlaqul karimah) adalah perbuatan amal saleh, yaitu perbuatan untuk senantiasa mengingat Allah swt pada saat berdiri, duduk atau pun berbaring dengan cara mengucapkan perkataan-perkataan yang baik, yaitu perkataan Syahadat, Istighfar dan Sholawat.

Pada hari ini, banyak sekali umat Islam yang sebenarnya mereka itu belum mengerti dan menyadari akhlak mulia itu seperti apa. Sehingga dengan demikian, banyak dari umat Islam saat ini yang tidak mengerti bagaimana cara memperoleh kemuliaan dan bagaimana cara menjaganya. Tanpa derajat kemuliaan, maka manusia hanyalah sekedar makhluk yang hina. Bahkan mereka itu lebih sesat dibandingkan dengan hewan.

Pada hari ini, ketika akan terjadi bencana alam, seperti gunung meletus atau gempa bumi dashyat, hewan-hewan lebih memahami tanda-tanda alam tersebut dibandingkan dengan manusia. Begitulah kedudukan kebanyakan manusia zaman sekarang, merasa dirinya hebat dan sempurna padahal sebenarnya kebanyakan dari manusia itu lebih tersesat dibandingkan dengan hewan. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.59