Opini Aktual

Rabu, 12 September 2018

Kalimat Syahadat - Bagian Kedua

Titik paling awal dari menjalankan agama Islam adalah Kalimat Syahadat. Sehingga kesalahan dalam memahami dan meyakini Kalimat Syahadat akan berdampak pula pada kesalahan dalam mempraktekan ajaran agama Islam. Karena Kalimat Syahadat adalah titik simpul yang pertama-tama.

Setelah beberapa orang sarjana lulusan timur tengah kembali ke tanah air, banyak dari umat Islam yang kemudian tertarik untuk mengambil dan menyerap pemahaman baru yang berasal dari timur tengah tersebut. Padahal pemahaman tersebut belum tentu benar. Bahkan boleh dibilang banyak kekeliruan yang terdapat di dalamnya. Termasuk juga di dalamnya adalah kekeliruan dalam hal Kalimat Syahadat ini.

Kepada siapakah kita umat Islam harus bersaksi? Bagi kebanyakan pemahaman aliran yang berasal dari timur tengah tersebut, mereka beranggapan bahwa kita harus bersaksi di hadapan orang lain. Bersaksi di hadapan para manusia. Oleh sebab itulah maka dalam hal menyatakan persaksian Kalimat Syahadat ini, mereka mempergunakan kalimat yang dipergunakan untuk berhadapan dengan manusia. Jadi tidak heran apabila kemudian dalam menyatakan Kalimat Syahadat tersebut mereka mempergunakan kalimat ‘Aku Bersaksi’. Karena memang mereka menujukan kalimat persaksian tersebut kepada orang lain, di hadapan para manusia.

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله
‘Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullah.’
Yang artinya : "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah.”

Oleh karena bersaksi di hadapan manusia, maka dipergunakan lah kalimat ‘Aku Bersaksi’ itu. Dimanakah letaknya Allah? Mereka merasa tidak berhadapan dengan Allah, dan Allah hanyalah ada di dalam angan-angan mereka saja. Inilah pangkal mula kekeliruan itu.

Jadi seharusnya kepada siapakah kita umat Islam harus bersaksi? Yang benar adalah kepada Allah swt, jadi bukan ditujukan kepada manusia lainnya.

Pada zaman dahulu, Rasulullah saw dan para pengikutnya mereka semua bersaksi kepada Allah swt, bukan kepada manusia lainnya. Demikian juga para Nabi dan Rasul terdahulu, mereka semua juga bersaksi kepada Allah swt, bukan kepada manusia. Sebagaimana juga Nabi Hud as, dia bersaksi menyatakan Syahadat yang ditujukan kepada Allah swt.

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ ۗ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
“Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu". Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS 11:54)

Oleh karena bersaksi ke hadapan Allah swt, maka dengan demikian adab, tata cara, sopan santun dan etika mengucapkan kalimat persaksiannya juga akan berbeda. Menyadari sepenuhnya derajat dan kedudukan diri kita di hadapan yang Maha Pencipta. Beginilah kiranya ucapan Syahadat yang dinyatakan di hadapan Allah swt:

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله
‘Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullah.’
Yang artinya : "HambaMu bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah, dan hambaMu bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Jadi dalam hal ini, Allah swt benar-benar Ada di hadapan kita, benar-benar diposisikan sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta. Bukan sebatas Ada di dalam angan-angan belaka. Inilah aqidah dan tauhid yang lurus, yang membenarkan Keberadaan Allah swt.

Begitulah kiranya kekeliruan itu. Berawal dari kekeliruan itulah, maka kemudian berkembang menjadi kekeliruan tauhid dan iman. Merasa bahwa diri mereka sudah yang paling mengerti dan paham, tidak memerlukan adanya campur tangan dan peran Allah lagi, sehingga kemudian dengan kepandaiannya mereka mengutip dalil-dalil dan membuat penafsiran sehingga kemudian terwujudlah rumusan tauhid mereka.

Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Shifat, begitulah hasil dari olah pikir penafsiran dan penggunaan dalil-dalil untuk merumuskan konsep tauhid mereka. Insya Allah dalam tulisan berikutnya akan kita kupas lebih mendalam lagi kekeliruan konsep tauhid ini dan penyimpangannya sebagai akibat dari kekeliruan tersebut.

Mudah-mudahan Allah swt senantiasa menjaga kita dari kekeliruan aqidah dan tauhid, sehingga kita senantiasa berada di jalan yang lurus. Lurus niatnya, lurus aqidahnya, lurus akhlaq dan perilakunya, lurus pula sifatnya. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.59