Opini Aktual

Senin, 17 September 2018

Kalimat Syahadat - Bagian Ketiga

Pada hari ini banyak sekali umat Islam yang sebenarnya memiliki cita-cita untuk mendirikan negara khilafah Islamiyah di bumi Indonesia, baik itu secara terang-terangan maupun secara tersembunyi. Ada yang memperjuangkannya melalui gerakan sosial, gerakan massa, gerakan politik bahkan sampai kepada gerakan teroris, mereka semua berjuang demi untuk mewujudkan cita-cita mereka mendirikan negara berdasarkan khilafah Islamiyah di bumi Indonesia ini.

Kalau diurut sampai kebelakang, niat dan itikad semacam ini adalah bersumber dari penafsiran mereka terhadap kalimat Syahadat yang kemudian menciptakan konsep tauhid Rubbubiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma’ wa Shifat. Berdasarkan konsep ini lah, maka sebagian manusia harus mengatur manusia lainnya agar supaya hidup di dalam kekuasaan yang diatur agar tunduk patuh dan taat terhadap hukum Syariat Islam.

Hal yang demikian ini adalah suatu kekeliruan yang tidak disadari. Dari manakah sebenarnya asal mula kekeliruan tersebut? Tidak lain akar kekeliruan tersebut bersumber dari kesalahan mereka dalam memaknai kalimat Syahadat tadi. Letak kesalahannya adalah pada Ketiadaan Fungsi dan Peran Allah swt di dalam mengatur dan memberi Petunjuk kepada manusia.

Oleh karena tidak mengerti caranya mendapatkan Petunjuk Allah swt, maka kemudian mereka tadi membuat penafsiran dan pemaham sendiri tentang kalimat Syahadat. Menurut hasil pemikiran mereka itulah, kalimat Syahadat dapat ditafsirkan menjadi konsep tauhid Rubbubiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma’ wa Shifat.

Tauhid Rubbubiyah yaitu mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14). Sedangkan tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah saw. Dan Tauhid asma’ wa shifat adalah mengesakan Allah sesuai dengan Nama dan Sifat yang Dia sandangkan sendiri kepada diriNya dalam kitabNya atau melalui lisan RasulNya, Nabi Muhammad saw.

Dimanakah letak kesalahan konsep tauhid Rubbubiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma’ wa Shifat? Kesalahan utamanya adalah bahwa konsep tersebut adalah diciptakan oleh manusia berdasarkan pemikiran dan penafsirannya sendiri terhadap dalil. Bukan konsep yang memang didasarkan kepada Petunjuk Allah swt langsung. Padahal Yang Wajib menjelaskan semua dalil-dalil tersebut ialah Allah swt, bukan manusia.

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS 75:19)

Ketika Allah swt menurunkan Kalimat Syahadat, keyakinan dan keimanan seperti apakah yang sebenarnya dikehendaki Allah swt ? Mereka tadi itu tidak mengetahui jawabannya, karena mereka tidak mengenal dan mengakui adanya Petunjuk Allah swt yang menjelaskan di luar kitab yang ada. Yang mereka akui hanyalah dalil dan pemahaman serta penafsiran mereka terhadap dalil itu. Itulah awal mula dari semua kekeliruan dan bahkan kesesatan yang terjadi pada keimanan dan keyakinan sebagian dari umat Islam saat ini.

Berdasarkan Kalimat Syahadat, ada sebagian umat Islam yang membuat keyakinan dan keimanan berdasarkan Petunjuk Allah swt, dan ada juga sebagian dari umat Islam yang membuat keyakinan dan keimanan berdasarkan kepada pemahaman dan penafsiran mereka terhadap dalil.

Terhadap keyakinan tauhid yang kedua ini, dimanakah letak kesalahannya? Pemahaman dan penafsiran manusia itu terbatas, sehingga apa yang dihasilkan olehnya bukanlah merupakan sesuatu yang Haq. Bahkan kita dapati kebanyakan dari pemahaman dan penafsiran manusia itu adalah salah dan keliru.

Insya Allah pada tulisan berikutnya kita akan menguraikan lebih jauh lagi tentang Kalimat Syahadat: keyakinan dan keimanan seperti apakah yang sebenarnya dikehendaki Allah swt dari Kalimat Syahadat itu? Maha Benar Allah Yang Maha Agung. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 23.59