Opini Aktual

Senin, 26 November 2018

Beragama Berdasarkan Hadits

Jarak antara Rasulullah saw hidup dengan hari ini adalah lebih dari 1400 tahun lamanya. Tentu saja banyak hal dan persoalan yang baru dan sebelumnya tidak pernah ada, pada hari ini terjadi. Kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk mempergunakan akal dan pikiran kita untuk merumuskan dan memutuskan segala macam jenis perkara dan persoalan berdasarkan hukum dan benang merah ajaran Islam yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw dahulu.

Namun sayang, pada hari ini kebanyakan umat Islam lebih memilih untuk mencari dan menukil rumusan dari hadits Nabi untuk menyelesaikan segala macam persoalan dan peristiwa pada hari ini, ketimbang mempergunakan akalnya. Padahal landasan hukum dan dasar aturan untuk mempergunakan akal pikiran adalah lebih kuat dibandingkan dengan mempergunakan dalil dari hadits Nabi.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS 10:100)

Kebanyakan dari umat Islam saat ini mereka terjebak dalam satu kesalahan fatal: yaitu menganggap bahwa setiap hadits Nabi adalah sama dengan Sunnah Nabi. Padahal keduanya adalah sesuatu yang berbeda.

Pada zaman Rasulullah saw hidup dahulu, beliau melarang para sahabat-sahabatnya untuk menuliskan dan mengumpulkan segala macam ucapan dan perilaku beliau. Akan tetapi beberapa ratus kemudian setelah beliau wafat, maka orang-orang mulai mencatat dan mengumpulkan perkataan dan perbuatan beliau dalam sebuah kitab Hadits.

Mengapa Rasulullah saw dahulu melarang para sahabat-sahabatnya untuk mencatat dan mengumpulkan ucapan dan perbuatan beliau dalam bentuk kitab hadits? Salah satu sebabnya adalah karena beliau tidak menginginkan apa yang telah terjadi pada kaum Yahudi akan terjadi kembali pada umat beliau, yaitu memutarbalikan dan merubah kalimat hadits. Sebagaimana yang telah terjadi pada kaum Yahudi, dimana beberapa orang yang zalim diantara mereka telah memutarbalikan perkataan para Nabi dan Rasul terdahulu.

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ
“Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.” (QS 7:162)

Apakah kemudian terbukti, bahwa banyak ucapan Rasulullah saw yang kemudian diganti atau diada-adakan oleh umatnya? Jawabannya adalah Ya. Terbukti dalam sejarah umat Islam ditemukan ratusan ribu lebih hadits-hadits palsu. Bahkan setelah disaring dan diteliti oleh banyak sarjana dan ulama Islam terkenal sekali pun, masih banyak kita jumpai hadits-hadtis yang lemah.

Pada hari ini, banyak sekali kejadian dan persoalan yang sebelumnya belum pernah ada. Untuk menghadapi dan mensikapi hal ini, tidak ditemukan dalil dan dasar hukumnya di dalam kitab suci al-Quran. Karena memang al-Quran hanya memuat hal-hal yang pokok saja. Sunnah Nabi pun hanya memuat aturan yang berhubungan erat dengan kondisi, budaya dan keadaan pada zamannya.

Terhadap hal yang demikian, maka kemudian banyak sekali umat Islam yang mencari-cari dalil dan sandaran hukum dari kitab hadits. Dari sekian juta hadits yang dipilih dan ditafsirkan, maka sangat masuk akal apabila pada hari ini umat Islam terpecah-pecah dalam pemahaman yang berbeda-beda. Tergantung pada hadits mana yang dipilih dan bagaimana kemudian hadits tersebut ditafsirkan.

Seharusnya tidak demikian. Guru kita menganjurkan bahwa untuk menghadapi kejadian dan persoalan zaman sekarang kita harus lebih mempergunakan akal serta bersandar pada Petunjuk dan Tuntunan dari Allah swt. Bukan dengan mencari dan menukil hadits. Ketika Rasulullah saw dahulu melarang para sahabatnya untuk mencatat hadits, pasti ada maksud dan tujuannya. (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 20.17