Opini Aktual

Selasa, 25 Desember 2018

Menjadi Hamba Allah

Kesalahan paling mendasar dalam beragama oleh kebanyakan umat Islam saat ini adalah bahwa kebanyakan dari kita menjalankan agama dalam satu arah saja. Tidak interaktif dan tidak ada penegasan ataupun pengesahan dari Allah swt atas apa yang kita perbuat dan kita pahami itu.

Kesalahan tersebut kemudian membawa kita kepada kesalahan-kesalahan berikutnya dalam beragama, misalnya saja dalam hal mendefinisikan hubungan antara kita dengan Allah swt.

Dalam hal berhubungan dengan Allah swt, beberapa orang dari umat Islam merasa bahwa diri mereka adalah khalifah Allah swt di muka bumi ini. Hal ini adalah didasarkan oleh pemahaman mereka sendiri atau oleh karena pendapat dari ustadz mereka adalah demikian. Sehingga dengan mengganggap diri mereka adalah khalifah, maka mereka berjalan di muka bumi ini dengan sikap angkuh, merasa menjadi orang yang berhak untuk mengatur dan menghakimi orang lain.

Padahal dalam kenyataannya Allah swt tidak pernah menganggkat mereka itu menjadi khalifah di muka bumi ini. Dan hanya Allah swt sajalah yang berhak mengangkat seseorang menjadi khalifah di muka bumi ini, bukan atas dasar pendapat dan pemahaman diri sendiri.

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا
وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

“Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (QS 35:39)

Akan tetapi oleh karena kekufuran mata hati sebagian dari orang-orang Islam saat ini, maka mereka merasa bahwa dihadapan Allah swt, diri mereka adalah khalifah. Padahal Allah swt tidak pernah mengangkat dan menjadikan diri mereka adalah khalifah, sebagaimana Allah swt mengangkat Nabi Daud as menjadi serorang khalifah dahulu.

Kesalahan lainnya dari sebagian umat Islam dalam mendefinisikan diri mereka di hadapan Allah swt adalah bahwa mereka merasa diri mereka menjadi seorang saudagar, menjadi seorang pedagang. Mereka merasa bahwa segala amal perbuatannya adalah dalam rangka jual beli dengan Allah swt. Mereka merasa bahwa amal perbuatannya akan diganjar oleh surga nanti di akhirat kelak.

Padahal dasar dari setiap perniagaan adalah adanya permintaan dan penawaran, tanpa ada keduanya maka tidak mungkin tercipta transaksi. Allah swt hanya memberikan penawaran kepada kaum tertentu, kepada orang-orang tertentu di zaman yang tertentu, mengapakah banyak orang Islam saat ini merasa bahwa mereka menerima permintaan penawaran jual beli itu dari Allah swt ?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS 61:10-11)

Ayat tersebut adalah permintaan penawaran jual beli khusus kepada orang-orang beriman di zaman Rasulullah saw dahulu. Bukan kepada semua orang di dalam semua zaman dan di semua kondisi dan keadaan.

Akibat dari merasa bahwa diri mereka menerima permintaan penawaran jual beli dari Allah swt, akibatnya adalah seseorang kemudian mengorbankan dirinya menjadi pelaku bom bunuh diri, menjadi seorang teroris demi untuk membeli surga Allah swt. Padahal Allah swt tidak pernah meminta penawaran kepada orang-orang itu, mengapa mereka merasa bahwa mereka harus menjual diri dan jiwa mereka?

Tanpa adanya permintaan penawaran, maka aksi membeli secara sepihak tidak akan dapat menciptakan adanya transaksi. Kelak di akhirat nanti mereka itu termasuk orang-orang yang tertipu dan merugi, karena ternyata transaksi itu tidak ada, transaksi itu tidak ditujukan kepada mereka.

Bagi guru kita dan murid-muridnya, posisi terbaik di hadapan Allah swt adalah dengan menjadi seorang hamba. Seorang yang tidak mempunyai kuasa apa-apa, sepenuhnya pasrah kepada Allah swt. Demikian juga seperti itulah bagaimana para Syuhada, para Wali dan bahkan para Nabi dan Rasul memposisikan diri mereka di hadapan Allah swt: menjadi seorang hamba. Bukan seorang khalifah ataupun saudagar dan pedagang.

Bahkan seorang seperti Ahmad bin Abdullah pun di hadapan Allah swt hanyalah merupakan seorang hamba. Perhatikanlah ayat al-Quran yang berikut ini.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ
مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 17:1)

Kebanyakan umat Islam zaman sekarang kurang merendah diri di hadapan Allah swt. Ber-Syahadat dengan mengucapkan kata ‘Aku’. Padahal seluruh Syuhada, para Wali, para Nabi dan Rasul semuanya itu mereka merendah di hadapan Allah swt, mereka semua itu meng-hamba, menempatkan diri mereka menjadi seorang hamba, bukan pedagang atau pun khalifah.

Mengapa kebanyakan orang Islam zaman sekarang enggan menempatkan diri mereka menjadi hamba? Berjalan di muka bumi ini dengan sombong dan enggan merendah? Merasa diri mereka tinggi dan sempurna di hadapan manusia lainnya? Bukankah sikap enggan merendah bagai seorang hamba dan sikap sombong itu lebih dekat kepada sikap iblis? (AK/ST)


Diposkan Oleh YAYASAN AKHLAQUL KARIMAH DARUL IMAN at 21.21